Teori Kebutuhan Menurut Maslow

Nama                               : Budieli Hia

M. Kuliah                        : Psikologi Pastoral

Dosen Pengampu        : Pdt. Jaharianson, S.Th, M.Sc, Ph.D

TEORI ABRAHAM MASLOW

TENTANG

TINGKAT KEBUTUHAN MANUSIA

I. Pendahuluan

    Abraham Maslow merupakan anak imigran Rusia.[1] Ia dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908 dan wafat pada tanggal 8 Juni 1970 dalam usia 62 tahun karena menderita serangan jantung.[2] Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara.

    Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya. Semasa anak-anak dan remaja Maslow merasa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya.[3]

    Keluarga Maslow amat berharap ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang hukum tapi gagal. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dan memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934.

    Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

    II. HIRARKI KEBUTUHAN MANUSIA

      Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

      Kebutuhan Maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

      Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

      1. Kebutuhan Fisiologis/ Dasar

      Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologis yang ditandai dengan kekurangan (defisit) sesuatu dalam tubuh orang yang bersangkutan. Contoh dari kebutuhan Fisiologis ini adalah: Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, seks, dan lain sebagainya. Kebutuhan ini juga dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan sangat ekstrim (misalnya: sangat kelaparan) bisa manusia yang bersangkutan kehilangan kendali akan atas perilakunya sendiri (agresif, tidak malu, tidak punya pertimbangan pada orang lain, dan sebagainya) karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu (menghilangkan rasa laparnya).[4]

      Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga-diri dan cinta pertama-tama ia akan memburu makanan terlebih dahulu. Ia akan mengabaikan atau menekan semua kebutuhan yang lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan. Maslow mengatakan: “bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tidak ada minat lain kecuali pada makanan. Ia bermimpi tentang makanan, ia teringat tentang makanan, ia berpikir tentang makanan, emosinya tergerak hanya karena makanan, ia hanya mempersiapkan makanan dan ia hanya menginginkan makanan…orang semacamitu dengan tegas dapat dikatakan dapat hidup dengan makanan belaka.[5]

      Tak teragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.

      Bagi banyak orang yang hidup ditengah masyarakat yang beradab, jenis-jenis kebutuhan dasar ini telah terpuaskan secara memadai. Maslow menguraikan bahwa jika makanan tersedia dan perut sudah kenyang, maka dengan segera kebutuhan-kebutuhan yang lain (tingkatan yang lebih tinggi) akan muncul, lalu kebutuhan-kebutuhan ini yang akan mendominasi si organisme.[6]

      2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan

      Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan (safety needs) Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.

      Sama halnya dengan anak-anak, orang dewasa pun bila merasa tidak aman (neurotik) bertingkah sama seperti anak-anak yang tidak aman. Maslow menguraikan bahwa orang dewasa yang merasa tidak aman akan bertingkah laku seakan-akan selalu dalam keadaan terancam bencana besar. Seorang yang yang tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas secara berlebihan serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak diharapkannya.[7]

      Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan inilah yang mendorong manusia membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan kepercayaan, membuat sistem asuransi, pensiun, dan sebagainya. Menurut Maslow, sama halnya dengan basic neeeds, ketidakterpenuhan akan safety needs ini akan mempengaruhi pandangan seseorang tentang dunianya dan pada gilirannya akan cenderung kearah yang makin negatif.[8]

      3. Kebutuhan Sosial.

      Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang (belongingness and love needs) akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.

      Maslow tidak menyamakan cinta dengan seks (yang merupakan kebutuhan fisiologis). Menurutnya seks merupakan cara untuk mengekspresikan kebutuhan akan cinta. Maslow menyebutkan bahwa kegagakan untuk memuaskan kebutuhan akan cinta merupakan penyebab dasar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri secara emosional.

      4. Kebutuhan Penghargaan

      Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis)[9] mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri (estem needs). Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri.[10] Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.

      5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

      Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut Maslow sebagai aktualisasi diri (self actualization) . Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.

      Maslow menguraikan bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kelompok “meta-needs” yang didalamnya mencakup 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hierarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta-needs tidak terpenuhi, maka akan terjadi meta-patologi  seperti: apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.

      Ke 17 meta-kebutuhan tersebut menurut Maslow adalah: 1. Kebenaran, 2. Kebaikan, 3. Keindahan/kecantikan, 4. keseluruhan (kesatuan/integrasi), 5. Dikhotomi-Transendensi, 6. Berkehidupan (berproses, berubah tetapi pada esensinya, 7. Keunikan, 8. Kesempurnaan (perfeksi), 9. Keniscayaan, 10. Penyelesaian, 11. Keadilan, 12. Keteraturan, 13. Kesederhanaan, 14. Kekayaan (banyak variasi, majemik, tidak ada yang tersembunyi, semua sama penting), 15. Tanpa susah payah (santai, tidak tegang), 16. Bermain (fun, rekreasi, humor), 17. Mencukupi diri sendiri.[11]

      Dari hasil penelitian yang merupakan proses analisis panjang, Maslow akhirnya mengidentifikasikan 19 karakteristik pribadi yang sampai pada tingkat aktualisasi diri.[12]

      1. Persepsi yang jelas tentang hidup (realitas), termasuk kemampuan untuk mendeteksi kepalsuan dan menilai karakter seseorang dengan baik. Berkat persepsi yang tajam, mereka lebih tegas dan jitu dalam memprediksikan peristiwa yang bakal terjadi. Mereka lebih mampu melihat dan menembus realitas-realitas yang tersembunyi dalam aneka peristiwa; lebih peka melihat hikmah dari pelbagai masalah.
      2. Pribadi demikian melihat hidup apa adanya dan bukan berdasarkan keinginan mereka. Mereka lebih obyektif dan tidak emosional. Orang yang teraktualisasi diri tidak akan membiarkan harapan-harapan dan hasrat-hasrat pribadi menyesatkan pengamatan mereka. Sebaliknya kebanyakan orang lain mungkin hanya mau mendengarkan apa yang ingin mereka dengar dari orang lain sekalipun menyangkut hal yang tidak benar dan jujur.
      3. Mempunyai spontanitas yang lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap inner life yang kaya dan tidak konvensional, serta memiliki kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang baru dan menghargai keindahan dalam hal-hal yang biasa. Biasanya mereka tidak merasa perlu menyembunyikan perasaan atau pikiran mereka, atau bertingkah laku yang dibuat-buat. Pribadi teraktualisai punya selera yang tinggi terhadap seni, musik, dan masalah-masalah politik dan filsafat.
      4. Keterpusatan-pada-masalah. Mereka amat konsisten dan menaruh perhatian pada pertanyaan dan tantangan dari luar diri, memiliki misi atau tujuan yang jelas sehingga menghasilkan integritas, ketidakpicikan, dan tekun introspeksi. Mereka mempunyai komitmen yang jelas pada tugas yang harus mereka kerjakan dan mampu melupakan diri sendiri, dalam arti mampu membaktikan diri pada pekerjaan, tugas, atau panggilan yang mereka anggap penting.
      5. Merindukan kesunyian. Selain mencari kesunyian yang menghasilkan ketenteraman batin, mereka juga dapat menikmatinya.
      6. Mereka sangat mandiri dan otonom, namun sekaligus menyukai orang lain. Mereka punya keinginan yang sehat akan keleluasaan pribadi yang berbeda dari kebebasan neurotik (yang serba rahasia dan penuh rasa takut). Terkadang mereka terlihat sangat otonom, karena mereka menggantungkan diri sepenuhnya pada kapasitas sendiri. Inilah paradoksnya: mereka adalah orang yang paling individualis sekaligus sosial dalam masyarakat. Bila mereka menaati suatu aturan atau perintah, hal itu didasarkan pada pemahaman akan manfaat yang dapat dicapai dari pemenuhan aturan yang bersangkutan, dan bukan karena ikut-ikutan.
      7. Ada kalanya mereka mengalami apa yang disebut “pengalaman puncak” (peak experience); saat-saat ketika mereka merasa berada dalam keadaan terbaik, saat diliputi perasaan khidmat, kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam atau ekstase. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mereka untuk berkonsentrasi secara luar biasa. Kadang-kadang kemampuan ini membuat mereka seolah linglung. Tidak jarang mereka mengalami flow dalam kegiatan yang mereka lakukan.
      8. Rasa kekeluargaan terhadap sesama manusia yang disertai dengan semangat yang tulus untuk membantu sesama.
      9. Pribadi unggul ini lebih rendah hati dan menaruh hormat pada orang lain. Mereka yakin bahwa dalam banyak hal mereka harus belajar dari orang lain. Hal ini membuat mereka mampu untuk mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran. Keutamaan (virtue) ini lahir dari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Sama seperti anak-anak, mereka mampu mendengarkan orang lain tanpa apriori atau penilaian sebelumnya. Maslow menyebut keunggulan ini sebagai “Being cognition” atau “B-cognition”; pengamatan yang pasif dan reseptif.
      10. Mereka memiliki etika yang jelas tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Namun bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur.
      11. Selera humor yang baik. Mereka tidak tertarik pada pelbagai lelucon yang melukai atau menyiratkan inferioritas yang membuat orang lain merasa dilecehkan. Mereka lebih menyukai humor yang filosofis, kosmik, atau yang nilai humornya terkandung dalam logika kata-kata. Mereka juga menonjol dalam hal toleransi terhadap kelemahan-kelemahan alamiah orang lain. Namun mereka sangat anti terhadap ketidakjujuran, penipuan, kebohongan, kekejaman, dan kemunafikan.
      12. Kreatif dalam mengucapkan, melakukan, dan menyelesaikan sesuatu. Sifat ini dikaitkan dengan fleksibelitas, tidak takut membuat sesuatu yang di kemudian hari ternyata adalah kesalahan, dan keterbukaan. Seperti seorang anak yang lugu, mereka tidak takut berkreasi karena cemoohan orang lain. Mereka kreatif dan melihat aneka peristiwa secara segar tanpa prasangka. Menurut Maslow, hampir setiap anak mampu membuat lagu, sajak, tarian, lakon, atau permainan secara mendadak, tanpa direncanakan atau didahului oleh maksud tertentu sebelumnya. Demikian jugalah kira-kira kreativitas orang yang teraktualisasi diri.
      13. Mereka memiliki penghargaan yang sehat atas diri sendiri bertolak dari pengenalan akan potensi diri mereka sendiri. Mereka bisa menerima pujian dan penghargaan tetapi tidak sampai tergantung pada penghargaan yang diberikan orang lain. Mereka tidak mendewakan kemasyhuran dan ketenaran kosong.
      14. Ketidaksempurnaan. Mereka tentu juga mempunyai perasaan bersalah, cemas, bersalah, iri dan lain-lain. Namun perasaan itu tidak seperti yang dialami orang-orang yang neurotis. Mereka lebih dekat dengan cara pikir positif. Mereka tidak selalu tenang, kadang-kadang bisa meledakkan amarah pula; bosan dengan obrolan basa-basi , omong-kosong, dan hiruk-pikuk suasana pesta.
      15. Mereka mempunyai “hirarki nilai” yang jelas. Mereka mampu melihat dan membedakan mana yang lebih penting dan harus diprioritaskan dalam situasi tertentu. Kadar konflik dirinya rendah. Mereka memiliki lebih banyak energi untuk tujuan-tujuan yang produktif daripada menghabiskan waktu untuk menyesali diri dan keadaan. Bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur, dan dengan tulus mengikutinya. Bagi orang-orang ini, disiplin diri relatif mudah sebab apa yang ingin mereka lakukan sejalan dengan apa yang mereka yakini benar. Nilai-nilai mereka didasarkan pada apa yang nyata bagi mereka, bukan pada apa yang dikatakan orang lain kepada mereka.
      16. Resistensi terhadap inkulturisasi. Mereka mampu melihat hal-hal di luar batasan kebudayaan dan zaman. Maslow menyebut mereka mempunyai apa yang disebut “kemerdekaan psikologis”. Hal itu tercermin dari keputusan-keputusan mereka yang terkadang “melawan arus” pendapat khalayak ramai. Mereka tidak segan menolak kebudayaan mereka jika memang tidak sejalan dengan akal sehat. Untuk hal-hal kecil seperti sopan-santun, bahasa, dan pakaian, makanan, dan sebagainya tidak dipermasalahkan. Tapi bila menyangkut hal-hal yang dirasa melawan prinsip-prinsip dasar, mereka dapat bersikap bebas mandiri dan bertindak di luar kebiasaan.
      17. Mereka cenderung mencari persahabatan dengan orang yang memiliki karakter yang sama, seperti jujur, tulus hati, baik hati dan berani, namun tidak menghiraukan ciri-ciri superfisial seperti kelas sosial, agama, latar belakang ras, dan penampilan. Dalam hal ini mereka tidak merasa terganggu oleh perbedaan-perbedaan. Makin matang kepribadiannya, mereka makin tidak peduli dengan penampilan ayu, tubuh tegap, badan montok, dan sebagainya. Sebaliknya mereka amat menjunjung tinggi soal kecocokan, kebaikan, ketulusan, dan kejujuran.
      18. Secara umum dapat dikatakan bahwa orang yang teraktualisasi diri cenderung membina hidup perkawinan yang kokoh, bahagia, dan berlangsung seumur hidup. Dalam pribadi yang sehat, perkawinan yang terbina memungkinkan kedua belah pihak saling meningkatkan kepercayaan dan harga diri, saling memberikan manfaat.
      19. Mereka itu sangat filosofis dan sabar dalam menuntut atau menerima perubahan yang perlu secara tertib. Sementara kebanyakan orang dalam masyarakat cenderung bersikap sangat praktis atau sangat teoritis, orang yang teraktualisasi diri lebih condong bersikap praktis sekaligus teoritis tergantung kondisi yang bersangkutan. Mereka berusaha mencintai dunia apa adanya, dengan tetap membuka mata pada kekurangan yang ada seraya berupaya memperbaikinya.

      Menurut Maslow orang dewasa secara normal memuaskan kira kira 85% kebutuhan fisiologis, 70% kebutuhan rasa aman, 50% kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40% kebutuhan harga diri serta 10% kebutuhan aktualisasi diri. Pernyataan tersebut cukup logis karena rata rata orang lebih termotivasi memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa ditunda tunda lagi seperti makan, minum dan kebutuhan fisiologisnya. Sementara kebutuhan lainya masih bisa ditunda.[13]

      Dalam prosesnya teori Maslow menjelaskan bahwa tingkatan kebutuhan hirarki diatas dapat dicapai setiap manusia secara bertahap. Suatu tingkatan kebutuhan memerlukan pemuasan yang optimal apabila ingin berpindah ke tingkatan selanjutnya. Sifat statis teori ini mengindikasikan bahwa orang akan terus menerus berupaya memenuhi tingkatan kebutuhanya yang belum terpenuhi hingga puas dan tidak memotivasi dirinya lagi. Jika keadaan sudah puas terjadi orang akan berpindah ke kebutuhan selanjutnya yang nilai kepuasanya lebih tinggi dan memerlukan upaya yang lebih tinggi lagi. Begitulah seterusnya hingga manusia mencapai kepuasan tertinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri di masyarakat.

      Namun, keadaan setiap individu yang berbeda beda baik dari segi ekonomi, status, jabatan dan lain lain menyebabkan kebutuhan setiap individu berbeda beda dan berada dalam berbagai tingkatan. Ini tentu jadi tantangan bagi pemimpin untuk memahami keberadaan motivasi karyawan karyawanya sehingga tidak ada kesalahan ketika memberikan sebuah perangkat motivator seperti bonus, promosi dll. Pemimpin yang mampu membaca tingkatan motivasi bawahan akan dapat dengan mudah menentukan paket motivator yang cocok bagi bawahanya.

      Lebih jauh Maslow menjelaskan bahwa tingkatan kebutuhan yang ia susun dibagi menjadi dua jenis kebutuhan umum, yaitu:

      1. Kebutuhan order rendah yang mencangkup kebutuhan fisiologis dan keamanan
      2. Kebutuhan order tinggi yang mencangkup kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri

      Kedua klasifikasi kebutuhan diatas membedakan sumber pemenuhannya masing masing. Kebutuhan order rendah dipenuhi secara internal (dalam diri orang itu) sedangkan kebutuhan order tinggi dipenuhi secara eksternal (misal dengan upah, kontrak, masa kerja,dll).

      III. KRITIK & REFLEKSI TEOLOGIS

      Manusia diciptakan dengan disertai berbagai kebutuhan. Maslow mencoba membagi kebutuhan manusia itu dalam 5 (lima) tingkat kebutuhan yang dikenal dengan “Teori Hirarki Kebutuhan”. Kebutuhan adalah anugerah Tuhan kepada manusia agar ia bisa hidup. Manusia sering salah memahami makna kebutuhan itu seakan-akan kebahagiaan utama akan diperoleh bila kebutuhan-kebutuhan itu telah terpenuhi. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah “kapankah kebutuhan manusia itu terpenuhi?”

      Dari Teori Maslow ini terlihat bahwa manusia tidak pernah merasa puas. Ketika kebutuhan yang satu telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lainnya yang lebih meningkat. Terlepas dari itu, masing-masing manusia punya standard khusus untuk tiap-tiap kebutuhan itu bahkan standardnya akan terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Jadi dari hal ini dapat disimpulkan bahwa manusia tidak akan pernah puas akan kebutuhan-kebutuhan itu. Bila mengikuti Teori Maslow maka manusia tidak akan pernah bisa meningkat ke kebutuhan yang lainnya karena sepanjang hidup manusia tidak akan pernah puas dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. Dan kalaupun ia sudah mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, tidak berarti bahwa manusia itu tidak akan memikirkan lagi akan kebutuhan dasarnya. Jadi ini salah satu kelemahan dalam Teori Maslow.

      Maslow menempatkan kebutuhan yang yang sangat penting dalam kehidupan manusia dalam tingkatan yang lebih tinggi yaitu “Aktualisasi Diri”, yang di dalamnya terdapat kebutuhan rohani. Sehingga manusia tidak pernah berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang satu ini karena manusia sibuk untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan yang tidak pernah bisa terpuaskan karena tidak pernah “cukup”. Akhirnya yang tercipta adalah manusia-manusia yang serakah, individualisme, egoisme. Manusia-manusia yang mempunyai motto “hidup untuk makan” bukan “makan untuk hidup” .

      Manusia berada di bumi ini dalam lingkungan sosialnya pasti punya tujuan. Yesus memberikan fondasi kebutuhan manusia yang bertolak belakang dari Maslow. Maslow berkata bahwa manusia bila kelaparan maka akan berusaha dan bisa saja menghalalkan segala cara untuk memuaskan rasa laparnya. Namun Yesus ketika ia kelaparan dan dicobai oleh Iblis…Yesus berkata: Manusia hidup bukan dari roti saja,…[14] dari hal itu terlihat bahwa ada tujuan hidup manusia ini yang lebih mulia dari sekedar memuaskan rasa lapar. Tujuan utama hidup manusia adalah: “Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya” (Matius 6:33). Jadi yang utama adalah kebutuhan rohani yang harus mendapat prioritas utama untuk dipenuhi.

      Negeri kita sarat dengan praktek KKN…hal ini dikarenakan manusia sibuk untuk memuaskan kebutuhan dasarnya yang tidak pernah bisa terpuaskan…sehingga untuk bisa memuaskannya maka apapun cara akan ditempuh. Manusia hanya bisa terpuaskan bila sudah merasa “cukup”. Untuk bisa mencukupkan diri, maka yang paling utama dipenuhi adalah kebutuhan rohani.

      IV. SIMPULAN

      Maslow telah menguraikan akan kebutuhan manusia yang dikenal dengan hirarki kebutuhan. Menurut bila kebutuhan dasar berupa kecukupan fisiologis(makan, minum, tempat tinggal dan bebas dari rasa sakit) dan keselamatan/keamanan (bebas dari ancaman/aman) telah terpenuhi, maka akan meningkat pada pemenuhan kebutuhan yang disebut kebutuhan pertumbuhan yaitu: kebutuhan rasa memiliki (sosial dan cinta), kebutuhan harga diri (penghargaan diri dan penghargaan orang lain), dan kebutuhan aktualisasi diri (memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian, dan potensi). Konsep Maslow ini menekankan bahwa kebutuhan tingkat dasar harus terpenuhi terlebih dahulu/ tercukupi, bila kebutuhan ini telah terpenuhi maka akan mereda daya motivasinya dan kemudian akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat pertumbuhan.

      Maslow melupakan atau menempatkan kebutuhan yang paling penting dalam urutan yang paling tinggi (aktualisasi diri) sehingga manusia hanya terus berkutat dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Sekalipun demikian, teori Maslow ini bisa membeikan gambaran kepada kita akan pergumulan yang utama dalam kehidupan manusia yaitu pemenuhan kebutuhan fisiologis. Kiranya Makalah ini bermanfaat dalam pelayanan kita.

      KEPUSTAKAAN

      Alkitab, Jakarta: LAI, 2005

      Frank G. Goble, Mazhab ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta, Kanisius, 1987.

      Hall, Calvin S.  & Lindzey, Gardner, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Yoyakarta, Kanisius, 1993.

      Sarwono, Sarlito W. Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikolog,i, Jakarta: Bulan Bintang, 2002.

      Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, tt. Hlm. 588

      http://prohumancapital.blogspot.com/2008/07/aktualisasi-teori-motivasi-abraham.html.

      http://operedzone.wordpress.com/2008/08/15/teori-motivasi-hirarki-kebutuhan-maslow

      http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham Maslow


      [1] Sarlito W. Sarwono, Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikolog,i, Jakarta: Bulan Bintang, 2002, hlm. 174

      [2] Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Yoyakarta, Kanisius, 1993, hlm 106

      [3] Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham Maslow yang diupdate tanggal 08 September 2009

      [4] Sarlito W. Sarwono, Op. Cit. Hlm. 176

      [5] Frank G. Goble, Mazhab ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta, Kanisius, 1987, hlm. 71.

      [6] Ibid. Hlm. 72

      [7] Ibid. Hlm. 73

      [8] Sarlito W, Sarwono, Op. Cit. Hlm. 176

      [9] Patologi artinya: ilmu yang mengkaji tentang seluk-beluk penyakit. Lih. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, tt. Hlm. 588

      [10] Frank G. Goble,  Op. Cit., hlm 76

      [11] Sarlito W. Sarwono, Op. Cit.,hlm. 177.

      [12] http://prohumancapital.blogspot.com/2008/07/aktualisasi-teori-motivasi-abraham.html, diupdate tanggal 14 September 2009

      [13] Lih. http://operedzone.wordpress.com/2008/08/15/teori-motivasi-hirarki-kebutuhan-maslow, diupdate tanggal 15 September 2009

      [14] Lih. Pencobaan di Padang Gurun dalam Matius 4: 1-11; Markus 1: 12-13; Lukas 4:1-13)

      Berikan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s

      Ikuti

      Get every new post delivered to your Inbox.

      %d blogger menyukai ini: