HOMO SEKSUAL & LESBIANISME

Nama                                    : Budieli Hia                        

Nim                                        : 09.07.082                                    

M. Kuliah                             : Penggembalaan Orang Bermasalah Khusus

Dosen Pengampu            : Pdt. Jaharianson, S.Th, M.Sc, Ph.D

HOMOSEXUALITAS DAN LESBIANISME

  1. A.        Pengertian

 

Homoseksual merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. Di Indonesia, akhir-akhir ini homoseksual menjadi masalah dalam kehidupan seksual yang lebih terbuka dibandingkan beberapa waktu yang lalu.

Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psi, mendefenisikan homoseksual sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis terhadap seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama.[1] Ahli lain mendefinisikan homoseksual sebagai kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Istilah yang sudah umum dikenal masyarakat untuk orang yang termasuk homoseksual adalah gay (untuk lelaki) dan lesbian (untuk wanita). Jadi dalam makalah ini yang penulis maksudkan sebagai homoseksual di dalamnya sudah mencakup lesbianisme.

Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri merek sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks.[2]

Homoseksual  dapat mengacu pada tiga aspek:[3]

1)        Orientasi Seksual / Sexual Orientation

Orientasi seksual – homoseksual yang dimaksud disini adalah ketertarikan/ dorongan/ hasrat untuk terlibat secara seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis) terhadap orang yang berjenis kelamin sama. American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa orientasi seksual berkembang sepanjang hidup seseorang. Dalam taraf tertentu, pada umumnya setiap orang cenderung memiliki rasa ketertarikan terhadap sesama jenis. Seperti misalnya saja: pria yang mengidolakan aktor/ musisi/ tokoh pria tertentu dan juga sebaliknya wanita yang mengidolakan aktris/ musisi/ tokoh wanita tertentu. Kadar ketertarikan seperti ini umum dimiliki oleh banyak orang dan tidak termasuk dalam orientasi homoseksual.

2)         Perilaku Seksual / Sexual Behavior

Homoseksual dilihat dari aspek ini mengandung pengertian perilaku seksual yang dilakukan antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Perilaku seksual manusia melingkupi aktivitas yang luas seperti strategi untuk menemukan dan menarik perhatian pasangan (perilaku mencari & menarik pasangan), interaksi antar individu, kedekatan fisik atau emosional, dan hubungan seksual). 

3)        Identitas Seksual / Sexual Identity

Sementara homoseksual jika dilihat dari aspek ini mengarah pada identitas seksual sebagai gay atau lesbian. Sebutan gay digunakan pada homoseksual pria, dan sebutan lesbian digunakan pada homoseksual wanita.

 Tidak semua homoseksual secara terbuka berani menyatakan bahwa dirinya adalah gay ataupun lesbian terutama kaum homoseksual yang hidup di tengah-tengah masyarakat/ negara yang melarang keras, mengucilkan, dan menghukum para homoseksual. Para homoseksual ini lebih memilih untuk menutupi identitas mereka sebagai seorang gay ataupun lesbian dengan tampil selayaknya kaum heteroseksual.

Homoseksual mula-mula dipandang sebagai penyakit untuk diobati, sekarang lebih sering diselidiki sebagai bagian dari suatu proyek yang lebih besar untuk memahami Ilmu Hayat, Ilmu Jiwa, politik, genetika, sejarah dan variasi budaya dari identitas dan praktek seksual, status legal dan sosial dari orang yang melaksanakan tindakan homoseks atau mengidentifikasi diri mereka gay atau lesbian beragam di seluruh dunia.

Walaupun demikian, dalam makalah ini penulis setuju pendapat awal yang mengatakan bahwa homoseksual itu kita lihat sebagai suatu penyakit sehingga ada harapan untuk dipulihkan menjadi heteroseksual. Proses pemulihan ini bisa dari sudut pandang psikologis dan juga dari sudut pandang alkitabiah.

  1. B.        Gejala-gejala

Sawitri menjelaskan gejala-gejala atau kecenderungan homoseksual dapat dibagi atas beberapa kwalitas tingkah laku homoseksual, antara lain:

1)      Homoseksual Ekslusif

Bagi pria yang memiliki kecenderungan homoseksual ekslusif, daya tarik wanita sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap wanita.[4] Dalam kasus semacam ini, penderita akan impoten apabila ia memaksakan diri untuk mengadakan relasi seksual dengan wanita.

2)      Homoseksual Fakultatif

Hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan ini mendapatkan parter lain jenis, sehingga tingkah laku homoseksual timbul sebagai usaha menyalurkan dorongan seksualnya. Misalnya di penjara. Nilai tingkah laku ini dapat disamakan dengan tingkah laku onani atau masturbasi.

3)      Biseksual

Orang ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis.

  1. C.        Faktor Penyebab Homosexualitas dan Lesbianisme

Anne Krabill Hersberger[5] menjelaskan bahwa sampai saat ini, fakor penyebab timbulnya homoseksualitas (Gay dan Lesbi) belum dapat diketahui dengan pasti. Ada beberapa teori yang yang mencoba menjelaskannya. Beberapa orang percaya bahwa perilaku orientasi seks sejenis terjadi karena adanya perkembangan yang terhambat selama pubertas. Ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya hormon abnormal dalam tubuh seseorang yang belum teridentifikasikan. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan. Dan ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh lingkungan, misalnya: kekacauan dalam rumah tangga.

Secara garis besar, terdapat tiga kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual sebagai berikut:[6]

1)      Faktor Biologis

Kombinasi / rangkaian tertentu di dalam genetik (kromosom), otak, hormon, dan susunan syaraf diperkirakan mempengaruhi terbentuknya homoseksual.

Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra, S.Si mengemukakan bahwa berdasarkan kajian ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari:

  1. Susunan Kromosom

Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.

Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

  1. Ketidakseimbangan Hormon

Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.

  1. Struktur Otak

Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.

  1. Kelainan susunan syaraf

Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.

Kaum homoseksual pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan bahwa faktor biologis-lah yang mempengaruhi mereka dibandingkan menerima bahwa faktor lingkunganlah yang mempengaruhi. Dengan menerima bahwa faktor biologis-lah yang berperan dalam membentuk homoseksual maka dapat dinyatakan bahwa kaum homoseksual memang terlahir sebagai homoseksual, mereka dipilih sebagai homoseksual  dan bukannya memilih menjadi homoseksual.

Walaupun demikian, faktor-faktor biologis yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di bidangnya.  

2)      Faktor Lingkungan

Lingkungan diperkirakan turut mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Faktor lingkungan yang diperkirakan dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual terdiri atas:

  1. Faktor Budaya / Adat-istiadat

Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritual-ritual yang mengandung unsur homoseksualitas, seperti dalam budaya suku Etoro yaitu suku pedalaman Papua New Guinea, terdapat ritual keyakinan dimana laki-laki muda harus memakan sperma dari pria yang lebih tua (dewasa) untuk memperoleh status sebagai pria dewasa dan menjadi dewasa secara benar serta bertumbuh menjadi pria kuat.

Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing orang dalam kelompok masyarakat tersebut, maka demikian pula budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur homoseksualitas  dapat mempengaruhi seseorang. Mulai dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan, maupun pola pemikiran tertentu terutama yang berkaitan dengan orientasi, tindakan, dan identitas seksual seseorang.

  1. Faktor Pola asuh

Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria atau perempuan. Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut, meliputi:

a)      Kriteria penampilan fisik : pemakaian baju, penataan rambut, perawatan tubuh yang sesuai, dan sebagainya.

b)      Karakteristik fisik : perbedaan alat kelamin pria dan wanita; pria pada umumnya memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan wanta, pria pada umumnya tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang mengandalkan tenaga / otot kasar sementara wanita pada umumnya lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan yang mengandalkan otot halus.

c)       Karakteristik sifat : pria pada umumnya lebih menggunakan logika/ pikiran sementara wanita pada umumnya cenderung lebih menggunakan perasaan/ emosi; pria pada umumnya lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang membangkitkan adrenalin, menuntut kekuatan dan kecepatan, sementara wanita lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat halus, menuntut kesabaran dan ketelitian.

d)      Karakteristik tuntutan dan harapan: Untuk masyarakat yang menganut sistem paternalistik maka tuntutan bagi para pria adalah untuk menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Dengan demikian pria dituntut untuk menjadi figur yang kuat, tegar, tegas, berani, dan siap melindungi yang lebih lemah (seperti istri, dan anak-anak). Sementara untuk masyarakat yang menganut sistem maternalistik maka berlaku sebaliknya bahwa wanita dituntut untuk menjadi kepala keluarga. 

Jika dilihat secara universal, sistem yang diakui universal adalah sistem paternalistik. Namun baik paternalistik maupun maternalistik, setiap orang tetap dapat berlaku sebagai pria ataupun wanita sepenuhnya. Yang membedakan pada kepala keluarga: pria dalam paternalistik dan wanita dalam maternalistik adalah pendekatan yang digunakan dalam memenuhi tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga.

Pola asuh yang tidak tepat, seperti contoh yang tidak asing yaitu: anak laki-laki yang dikenakan pakaian perempuan, didandani, diberikan mainan boneka, dan diasuh seperti layaknya mengasuh seorang perempuan, ataupun sebaliknya dapat berimplikasi pada terbentuknya identitas homoseksual pada anak tersebut. Mengapa demikian? Karena sejak dini ia tidak dikenalkan dan dididik secara tepat & benar akan identitas seksualnya, dan akan perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan.

e)      Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis

Dalam proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan melihat pada: orang tua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya; anak laki-laki melihat pada ayahnya, dan anak perempuan melihat pada ibunya; dan kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin sama dengannya.

Homoseksual terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi dan mengasimilasi – apa, siapa, dan bagaimana – menjadi dan menjalani peranan sesuai dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita.

Kegagalan mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan peranan identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku. Seperti:  ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya, ayah tampil sebagai figur yang lemah – tak berdaya; atau orang tua yang homoseksual. Namun penting diketahui! Tidak semua anak yang dihadapkan pada situasi demikian akan terbentuk sebagai homoseksual karena masih ada faktor lain yang juga dapat mempengaruhi dan tentunya  juga karena kepribadian dan karakter setiap orang berbeda-beda.

f)         Dampak Homosexualitas

Setiap tindakan atau perbuatan pasti ada dampaknya. Demikian juga dalam hal seksualitas, baik itu heteroseksual, homoseksual maupun biseksual. Untuk menjelaskan tentang dampak yang ditimbulkan oleh homoseksualitas, berikut diuraikan tulisan Veronica Adesla, S.Psi[7] sebagai berikut:

  • Dampak yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum homoseksual di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi atau bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya atau bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.

Situasi di atas  berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang  hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan atau dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat.

Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi atau bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat.  Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.

  • Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle

Seorang homoseksual senantiasa berhadapan dengan adanya realitas gaya hidup tertentu yang berlaku di kalangan kaum homoseksual. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku, dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual, bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari.

Gaya hidup tertentu pada kaum homoseksual dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental & emosional, seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba.

Penelitian mengenai homoseksual pria menunjukkan bahwa lebih dari 75% pria homoseksual mengaku telah melakukan hubungan seksual bersama lebih dari 100 pria berbeda sepanjang hidup mereka: sekitar 15% dari mereka pernah mempunyai 100-249 pasangan seks, 17% mengklaim pernah mempunyai 250-499, 15% pernah mempunyai 500-999, dan 28% mengatakan pernah berhubungan dengan lebih dari 1000 orang dalam hidup  mereka.

Pada wanita-wanita lesbian, total jumlah pasangan seks lebih rendah, namun tetap di atas rata-rata jika dibandingkan wanita heteroseksual. Banyak wanita lesbian juga berhubungan seks dengan pria. Wanita lesbian 4 kali lebih memungkinkan untuk mempunyai lebih dari 50 pasangan pria sepanjang hidupnya dibandingkan wanita heteroseksual.

Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti: STI’s (Sexual Transmitted Infections)/ STD’s (Sexual Transmitted Diseases) termasuk HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan berlebihan, depresi, merusak atau menyakiti diri sendiri, dan sebagainya.

g)        Bagaimana Mengatasi Homosexualitas

 

Homoseksualitas dan lesbianisme memiliki tingkatan. Tingkatan yang lebih rendah disebut hemofilia yaitu pengalaman jatuh cinta kepada orang sejenis kelamin, tetapi cinta itu belum begitu mendalam atau belum sampai pada permainan seksual setingkat hubungan seksual pada suami-istri. Homifilia ini seringkali terjadi karena lingkup pergaulan yang hanya terbatas pada teman-teman sejenis kelamin saja. Maka untuk mengobati homofilia ini bisa dengan membuka pergaulan supaya menjadi lebih luas, memungkinkan pergaulan yang kerap dan akrab dengan orang-orang dengan jenis kelamin yang lain. Secara moral homofilia, walaupun memang salah, tidak layak dinilai sebagai  tindakan yang melawan moralitas secara berat. Apalagi bila keduanya, atau salah seorang, memang menderita kelainan mental di bidang seksual. Mereka atau dia itu lebih layak dinilai sebagai penderita kelainan daripada pelaku tindakan immoral.

Demikian juga yang sudah jauh ke taraf homoseksual atau lesbianisme, dan telah sampai pada taraf permainan seksual setingkat dengan senggama suami-istri. Maka mereka yang betul-betul bermental homoseksual dan atau lesbianisme lebih layak dianggap sebagai penderita kelainan daripada sebagai yang bertindak immoral. Ia lebih membutuhkan pengertian penuh kasih daripada teguran yang mendakwa. Oleh karenanya tindakannya juga tidak dapat disebut sebagai tindakan jahat, walaupun secara objektif tidak biasa.[8]

Sebagaimana telah uraikan dari atas bahwa seksualitas ini sebainya dilihat dari sudut pandang bahwa ini adalah kelainan atau sebagai penyakit. Bila kita beranjak dari sudut pandang tersebut maka ada harapan bahwa kelainan seksual ini bisa diobati. Proses pemulihan ini terutama berasal dari sipenderita itu sendiri. Keinginan untuk berubah dari kelainan seksual yang diidapnya. Oleh sebab itu di sini saya uraikan proses pemulihan homoseksualitas baik dari secara psikologis dan juga secara alkitabih.

  1. Secara Psikologis

Untuk menganalisa cara mengatasi penderita homoseksualitas dan lesbianisme secara psikologi, maka di sini saya mengungkapkan contoh kasus yang diuraikan oleh Sawitri sebagai berikut:[9]

  • Ø Studi Kasus (kasus S)

S, berusia 24 tahun, seorang mahasiswa teknik Sipil di salah satu perguruan tinggi di Bandung, mengeluh bahwa dirinya merasa kurang dapat konsentrasi dalam belajar, gairah belajar menurun, sehingga dua semester terakhir ini S merasa gagal dalam ujian-ujiannya. S merasa penuh dengan keraguan dan tanda tanya yang selalu mencekam dirinya, yaitu “Apakah dirinya seorang homoseksual?”

S adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dengan urutan kakak laki-laki (2 orang), kemudian S dan adik yang bungsu perempuan. Perbedaan umur antar empat bersaudara itu lebih kurang dua tahun. Sejak S berumur satu tahun, oleh orang tuanya S dititipkan pada kakek atau neneknya. Setelah umur 6 tahun S kembali pada orangtuanya sendiri.

Kesan yang sangat mendalam pada 5 tahun pertama kehidupannya adalah seringnya kakek dan nenek berselisih paham, dan bila perselisihan paham memuncak, mereka melempar benda yang ada di dekatnya atau saling menyiramkan air. Kalau keadaan sudah demikian, S bersembunyi ketakutan dan gemetar seluruh tubuhnya. Setelah pertengkaran, biasanya nenek dan kakek saling tidak tegur sapa. Dalam keadaan ini, maka nenek biasanya sangat baik terhadap S dan kemana nenek pergi, S harus ikut. Bahkan pada saat nenek memasak dan membersihkan rumah pun S harus berada dekat nenek. Untuk itu, S sering juga membantu nenek.

Setelah S dewasa, S baru sadar bahwa alasan orang tua menitipkan dirinya di rumah nenek atau kakek sebetulnya untuk menurunkan frekuensi pertengkaran nenek atau kakek. Tapi seingat S, pertengkaran antar mereka tidak mereda. Pribadi nenek menurut S keras dan dominan, begitu pula dengan pribadi kakek yang juga sama-sama keras.

Sekembalinya ke rumah orang tuanya pada umur 6 tahun, S merasakan pula kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya dibandingkan dengan sikap orang tua terhadap kedua kakak laki-lakinya. Orang tua S memiliki sebuah toko emas dan keduanya sibuk dengan toko. Anak-anak lebih banyak dilepas tanpa pengawasan yang cukup dan hanya dipercayakan pada pembantu rumah tangga.

Ibu bersikap lebih dominan dibanding ayah dan seringkali ibu lebih mampu mengambil keputusan dalam urusan dagang. Menurut S, ayahnya agak lamban dalam bertindak dan sering bersikap ragu-ragu. Kedua kakak S sangat nakal dan kasar tingkah lakunya dalam bermain. Sedang S tidak suka pada tingkah laku kasar dan nakal, sehingga S lebih suka bermain dengan adik perempuannya. S senang main masak-masakkan, main ibu-ibuan dan sering memakai rok adiknya dalam permainan itu.

Pada waktu S kelas V SD, suatu hari S diajak oleh kakak laki-laki yang pertama untuk melakukan onani bersama. Dan seingat S, pernah pula S atas anjuran kakaknya tersebut mencoba melakukan relasi seks dengan adik perempuannya. Percobaan ini dilakukan satu kali dan S merasa tidak berhasil.

Kemudian, pernah kakak pertama memaksa S melakukan oral seksual dengan S atau melakukan onani bersama. Hal ini sering terjadi, sampai akhirnya kakak S melanjutkan pelajaran di Jakarta, sedang S melanjutkan sekolah di Semarang. S tinggal di rumah bibinya yang memiliki anak laki-laki sebaya dengan S dan tinggal satu kamar dengan saudara sepupunya itu. Pada suatu saat, saudara sepupunya itu mencium S sehingga akhirnya berkembang menjadi homoseksual. Dalam relasi ini S lebih sering bersifat pasif. Setelah kira-kira satu tahun mengadakan relasi itu, saudara sepupunya ini pindah ke kota. Namun, S segera mendapatkan teman pengganti, yaitu teman sekelasnya sendiri. Tetapi, teman ini meninggal karena sakit. S merasa kesepian dan pada saat munculnya kebutuhan seksual S melakukan onani. Dalam onani, S kadang-kadang membayangkan wanita atau pria, tetapi menurut S lebih sering membayangkan pria daripada wanita.

Setelah beberapa bulan S tidak mempunyai teman akrab, kemudian S mendapatkan teman pria yang mau mengerti keadaan S dan tidak dapat merasakan penderitaan S. Bahkan sering menasihati S untuk menghentikan tingkah laku homoseksual tersebut dan mengatakan bahwa tingkah laku tersebut kurang baik.

Setelah lulus SMA, S pindah ke Bandung dan bersekolah di Bandung. Rasa takut terhadap abnormalitas semakin meningkat karena S tidak pernah merasa tertarik terhadap wanita. Apalagi pada tahun pertama S berkenalan dengan seorang pria satu angkatan lebih tinggi. Dengannyalah S melakukan relasi homoseksual beberapa kali, selama kurang lebih satu tahun. Atas kesadaran partnernya ini, S dinasehati oleh partnernya untuk memutuskan hubungan mereka. S menerima keputusan ini dengan harapan S dapat terlepas dari kebiasaann yang menurut S sendiri abnormal.

Pada suatu ketika, S memaksakan diri untuk mencari pacar dan kebetulan wanita ini memang tertarik pada S dan bersedia menjadi pacarnya. S merasa senang karena ini adalah kesempatan bagi S untuk melepaskan diri dari abnormalitasnya. Tetapi rupanya S tidak tahan terhadap konsekuensi-konsekuensi sebagai pria yang punya pacar pada saat-saat dibutuhkan dan lain-lain.

Tuntutan pacar akan ‘apel’ akhirnya menjadi beban bagi dirinya, pacar S sering marah kalau S terlambat ‘apel’. S mulai tidak suka karena S paling takut kalau melihat orang yang marah-marah dan hatinya menjadi tidak enak. Sejak kecil pun S takut melihat orang bertengkar.

Kecuali itu, sejak remaja S suka mencoba resep masakan dari majalah. Ibu mendorongnya untuk lebih menerampilkan diri pada bidang masak-memasak. Atas kesukaannya ini, ayah S hanya berkomentar “Anak laki-laki koq senang masak, nanti kalau besar mau jadi apa?!”

S juga merasa bahwa ia mudah tersinggung, tetapi walaupun tersinggung, S tidak pernah menunjukkan kemarahannya pada orang lain melainkan memendamnya saja. S merasa bahwa tindakan pacarnya pun sering menyinggung perasaannya, sehingga rasa tidak tertarik pada pacarnya ini semakin berkembang dan dalam kenyataannya, S juga tidak pernah mengalami rangsangan erotis kalau duduk berdekatan dengan pacarnya. Sampai akhirnya, S merasa jenuh dan berat beban mentalnya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan pacarnya. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya. Setelah lepas dari pacar, ia merasa ringan.

Di Bandung S tinggal bersama kakak laki-laki nomor dua, yang bersekolah di fakultas kedokteran. Hubungan dengan kakak nomor dua tidak akrab, kakak ini agak mengacuhkan diri S. Pada permulaan tahun 1980 kakaknya pergi ke luar Jawa. Karena merasa kesepian, akhirnya S mengajak temannya untuk menemaninya. Kebetulan teman pria yang diajak adalah partner relasi homoseksual ketika S baru lebih kurang satu tahun di Bandung.

Situasi rumah yang sepi memungkinkan S mengulangi relasi tersebut, walaupun sebetulnya selama kurang lebih tiga tahun S berhasil menahan diri dalam melakukan relasi homoseksualnya. Kalaupun kebutuhan seksualnya mendesak, S hanya melakukan onani saja. Tetapi kemudian, temannya ini menyadarkan kembali akan kesalahannya dan S pun berusaha untuk menghindari tingkah laku tersebut. Akibatnya, muncullah konflik dalam jiwanya yang lebih ekstrim yang bersumber pada keraguan identitas jenis kelaminnya (gender identity).

Untuk mengatasi konflik ini, S mencoba melakukan hubungan heteroseksual dengan seorang wanita tuna susila, tetapi S tidak berhasil. Kegagalan ini menambah tingkat ekstrenuitas ketegangan mentalnya sehingga sangat mempengaruhi kemampuannya dalam konsentrasi. Ia pun menjadi kehilangan gairah belajar, karena benaknya dipenuhi oleh tanda tanya.

Secara otomatis prestasi studinya menurun, hal ini mendorongnya untuk berkonsultasi pada psikolog.

  • Observasi Penampilan

S, berkulit sawo matang. Kesan fisik tingggi besar (tinggi ± 1,68 cm; berat ± 78 kg), tetapi mimik muka serta gerak-gerik halus dan hati-hati. Cara bicaranya sopan.

  • Hasil Pemeriksaan Psikologi

Hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan beberapa data-data psikologi S yang menonjol, sehubungan dengan perkembangan tingkah laku homoseksual sebagai berikut:

1)      Draw A. Man Test

  • Gambar Wanita.
  • Ketika diminta menggambar pria, terlihat kecenderungan efimisasi dari pada ekspresi hasil gambar

2)      Dari SSCT (Sacks Sentece Completion Test)

Sikap terhadap ayah:

  • Saya rasa ayahku jarang memutuskan suatu persoalan secara baik dan tepat.
  • Sekiranya ayahku hanya bermalas-malasan dan bekerja seenaknya saja.
  • Saya ingin ayahku keras dan bertindak.
  • Saya rasa, ayahku kurang tegas.

Sikap terhadap ibu:

  • Ibuku seorang yang agak keras sifatnya dan dominan tapi dekat dengan saya.
  • Ibuku dan saya dekat sekarang ini.
  • Saya kira kebanyakan ibu berusaha melindungi anak-anaknya.
  • Saya suka pada ibuku, tapi beliau terlalu menyalahkan ayah saya.

Sikap terhadap hubungan heteroseksual

  • Apabila saya melihat seorang perempuan bersama seorang laki-laki, saya iri, mengapa saya tidak semesra itu.
  • Mengenai kehidupan perkawinan, perasaan saya adalah ngeri untuk menghadapinya.
  • Umpamakan saya mempunyai hubungan seksual, saya akan berusaha sebaik mungkin.
  • Kehidupan seksual saya merasa tidak normal.

Untuk SSCT, penulis (Sawitri – ed) memang sengaja hanya mengarahkan perhatian pada ketiga macam sikap tersebut di atas. Dari pengetahuan terhadap ketiga sikap S tersebut, dapat dilihat kecenderungan yang ekstrim terhadap kemungkinan terbinanya tingkah laku homoseksual pada S

3)      Wartegg Test:

Dari hasi Wartegg Test pun terlihat jelas akan kecenderungan efiminasi (kecenderungan feminin) dalam memberikan responnya baik dalam keurutan gambar maupun isi (content) dari gambar.

  • Analisa Kasus

Latar belakang kehidupan jiwa S ditandai oleh masa kecil yang kurang bahagia. Kejadian-kejadian yang impresif bagi S, bahkan dapat dikatakan bernilai traumatis, pertengkaran-pertengkaran kakek dan neneknya, mengakibatkan rasa takut yang luar biasa. Sehingga, sampai saat ini pun S tidak suka pada keributan-keributan, pertengkaran-pertengkaran dan S tumbuh menjadi sangat perasa serta menyukai situasi yang tenang. Nenek yang menjadi figur ibu adalah seorang dominan dan dalam suasana pertengkaran dengan suaminya, nenek menarik S untuk memihak pada dirinya dengan menjauhkan S dari kakek. Iklim relasi tersebut, memungkinkan S justru mengambil figur nenek sebagai pemegang peranan dalam proses identifikasinya.

Demikian pula sekembalinya S ke rumah orang tuanya sendiri. Ketika umur 6 tahun, S menjumpai pola relasi orang tuanya yang juga tidak sehat. Ibu keras, dominan, sering menyalahkan ayah di muka anak-anaknya. Ayah yang lamban, serta agak lemah akhirnya menciptakan sikap S terhadap ayah yang negatif (jelas terlihat pada hasil tes SSCT). Relasi dengan ayah menjadi tidak memuaskan bagi S, situasi relasi antara ayah dan ibunya ini memungkinkan tokoh identifikasi terdahulu (nenek) beralih pada ibu.

Pengalaman demi pengalaman di atas membawa S pada situasi yang kurang menguntungkan bagi perkembangan gender identity-nya. Penampilan yang halus dan penurut  mengundang kakak S untuk mengajak S onani bersama, bahkan mengadakan hubungan oral seksual.

Pengalaman ini ditambah dengan pengalaman homoseksual baik di Semarang maupun di Bandung yang menjadi faktor penguat bagi terbinanya tingkah laku homoseksual. Tetapi, S belum mencapai homoseksual adjusment yang optimal karena tampak bahwa konflik-konflik neurotis masih menyertai S.

Dapat disimpulkan bahwa S mengalami gangguan dalam perkembangan gender identity, tetapi karena ganggguan tersebut belum S sadari sepenuhnya, maka masih ada usaha-usaha S untuk melawan kondisi ini  dengan mencoba berpacaran dengan wanita. Ia mencoba mengadakan relasi heteroseksual dengan wanita tuna susila.

Kenyataan akan kegagalan dalam usaha tersebut tidak membantu S untuk menerima keadaan dirinya dengan sepenuh hati, tetapi justru merupakan salah satu  keadaan yang menambah ketegangan mentalnya. Keluhan-keluhan psikis, seperti gangguan konsentrasi, menurunnya gairah belajar, keraguan dan rasa tidak bahagia merupakan manifestasi dari ketegangan mentalnya. Kalau melihat derajat ekstrimitas tingkah laku homoseksualnya, S kiranya dapat dikelompokkan dalam kategori homoseksual eksklusif dengan tipe pasif. Walaupun penampilan fisik umum S tampak tinggi besar, tetapi apabila kita amati dengan cermat ciri-ciri efiminasi akan tampak.

  • Treatment

Walaupun pendekatan psikoanalitis terhadap masalah homoseksual banyak mengungkapkan penyebab berkembangnya tingkah laku homoseksual, tetapi Freud sendiri berpendapat bahwa harapan untuk menyembuhkan homoseksual dengan psikoanalisa sedikit sekali. Kalaupun psikoanalisa melakukan usaha penyembuhan, maka hasilnya akan terbatas pada pencapaian self acceptance dan penyesuaian sosial yang lebih baik (better social adjustment).

Apabila seorang homoseksual merasa tidak bahagia, neurotis dan terganggu oleh konflik, terhambat dalam kehidupan sosialnya, maka psikoanalisa akan membawa mereka ke dalam kehidupan psikis yang lebih harmonis, tenang dan efisiensi fungsional yang optimal. Freud percaya bahwa keinginan homoseksual untuk perubahan tidak berdasar pada keinginannya sendiri (self motivation), tetapi hanya sebagai akibat dari situasi tekanan sosial (external motivation) seperti tradisi-tradisi yang mengancam pilihan obyek seksual mereka.

Jadi dalam hal ini, psikolog atau psikiater yang menangani penderita homoseksual hendaknya lebih memusatkan perhatiannya serta lebih bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan serta ketenangan kehidupan perasaan mereka, daripada berharap bahwa hasil penanganan akan merubah homoseksual menjadi heteroseksual.

Dalam kasus S di atas, Sawitri mendiagnosa berdasarkan psikoanalitis menggolongkan S dalam jenis kategori inversi seksual yang sangat mendalam, sehingga harapan untuk merubahnya menjadi heteroseksual eksklusif sangat tipis. Alasannya adalah:

1)      Ikatan emosional S dengan tokoh ayah (Kakek/ayah) kurang memuaskan bahkan dapat dikatakan negatif.

2)      Ikatan emosional S dengan tokoh ibu (nenek/ibu) erat sekali, bahkan cenderung untuk dapat dikatakan abnormal. Tampak dominasi yang ekstrim daripada nenek/ibu terhadap kehidupan S.

3)      Usaha S dalam mencoba memaksakan diri untuk menggalang relasi heteroseksual yang intim, gagal.

4)      Tampak efiminasi daripada penampilan (gasture).

5)      Faktor-faktor penguat respon homoseksual telah berlangsung secara berlarut-larut. Faktor penguat ini telahh berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku homoseksual pada S, yaitu pengalaman-pengalaman homoseksualitas yang bsangat mengesankan S yang telah terjadi sejak S berumur 12 tahun dengan kakaknya yang pertama dan pengalaman-pengalaman selanjutnya.

Atas dasar kelima hal tersebut, Sawitri (sebagai psikolog yang menangani S) menentukan bahwa tujuan treatment terhadap S adalah membantu S untuk mencapai taraf Sosial adjustment yang lebih baik. Tujuan ini akan tercapai apabila S dapat menerima kenyataan dirinya dengan baik (self acceptance). Self feelings (rasa diri aman) pada S merupakan hasil yang akan S hayati apabila tujuan di atas sudah tercapai dan rasa diri aman merupakan modal utama untuk dapat mencapai efisiensi S dalam segala lapangan hidupnya antara lain dalam studinya.

Jadi dari simpulan Sawitri dalam hal kasus S, terlihat bahwa dari sudut pandang psikologis, usaha untuk memulihkan S untuk menjadi heteroseksual sangatlah tipis mengingat pengalaman masa lampau (akar pahit) dari S sangat menentukan kepribadiannya. Namun bagi saya penangangan dari sudut psikologis sangat baik untuk mencari tahu akar pahit dari penyebab homoseksual dan selanjutnya untuk proses penyembuhan sangat dibutuhkan interfensi rohani (alkitabiah)

  1. Secara Alkitabiah

Sexualitas merupakan anugerah Tuhan yang layak dihayati menurut kehendak-Nya. Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan,  agar mereka saling melngkapi, saling tertarik, lalu mau bekerja sama untuk meneruskan generasi manusia di bumi ini dengan melahirkan dan mendidik anak-anak mereka.

Seks pun merupakan hadiah Tuhan. Tanpa seks, manusia tidak dapat hidup secara sehat. Alat kelamin sudah penting peranannya sejak manusia lahir. Alat kelamin pria berguna sejak kecil untuk pembuangan air seni, perlu sejak remaja untuk pembuangan sperma dan air mani melalui mimpi-mimpi basah, dan bermanfaat sejak menikah untuk bersenggama dengan istri guna mengungkapkan cinta atau juga untuk bersama-sama menurunkan anak. Alat kelamin wanita berguna sejak kecil untuk pembuangan air seni, berguna sejak remaja untuk mengeluar selaput lendir rahim yang rusak setiap bulan melalui proses haid, dan bermanfaat sejak menikah untuk bersenggama dengan suami guna mengungkapkan cinta atau memungkinkan adanya anak (yakni pada saat ia sedaang subur)[10]

Jadi, seks dan seksualitas sudah diciptakan Tuhan dengan kemampuan dan keterarahan kodrati yang jelas. Maka adalah layak bahwa manusia berusaha untuuk setia pada rencana ilahi itu. Seks dan seksualitas berguna untuk kebahagiaan pribadi maupun untuk kepentingan sesama, bahkan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Seksualitas, termasuk seks di dalamnya, dianugerahkan untuk membahagiakan sesama sebagai ungkapan kasih sayang dan untuk memungkinkan penerusan generasi manusia.

Dalam kasus homoseksual, yang perlu disadari adalah bahwa homoseksual itu bukanlah suatu kejahatan, tetapi lebih sebagai suatu kelainan atau penderita. Oleh karenanya tidak boleh ada vonis atau labeling sebagai suatu kejahatan. [11]

Seorang yang menderita homoseksual haruslah menyadari kelemahan dan kekurangan. Dukungan dari orang lain sangat dibutuhkan agar penderita homoseksual dapat jujur terhadap diri sendiri dan terbuka terhadap orang lain, sehingga mengurangi kesepian, berbeda dari orang lain dan terasing.

William Consiglio tidak setuju bila homoseksualitas itu merupakan orientasi seksual. Ia mengatakan bahwa homoseksualitas bukanlah suatu seksualitas alternatif atau orientasi seksual, tetapi suatu disorientasi emosional yang disebabkan oleh terhambatnya atau terbendungnya perkembangan emosi dalam aliran heteroseksual.[12]

Beranjak dari kesimpulan William di atas, maka ada harapan untuk memulihkan homoseksual menjadi heteroseksual dengan mencoba mengurangi atau meniadakan “kerikil, batu, dan cadas” atau apa yang disebut dengan akar pahit. Untuk bisa mengeluarkan akar pahit ini maka yang sangat diperlukan adalah keterbukaan dari penderita dengan jujur pada diri sendiri dan terbuka pada orang lain, dan juga dukungan dari orang lain, baik itu konselor dan juga keluarga.

Setelah menyadari kelemahan dan kekurangan bahwa ia adalah penderita homoseksual, dan ia menderita itu bukanlah karena keinginannya sendiri, tetapi karena berbagai faktor sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Setelah menyadari keadaannya maka yang sangat penting adalah menyadari bahwa ada Pribadi yang mengasihi ia yaitu Yesus Kristus. Ia sanggup membuat segala sesuatu menjadi baru. Ia hadir dalam kehidupan manusia (sekalipun ada kelainan seksual). 2 Korintus 5: 17 mengatakan: “ jadi siapa yang yang ada di dalam Kristus Yesus, ia adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Beranjak dari kasus S di atas, setelah menemukan akar pahit yaitu adanya hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua (kakek dan nenek; ayah dan ibu) dan juga ada harapan dari S untuk berubah karena menyadari bahwa ia memiliki kelainan dan ia terganggu akan hal itu, maka sebagai konselor Kristen mulai beranjak dari pengharapan itu. Sebab Ibrani 6: 19 mengatakan, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.”

Yang menjadi akar pahit S sehingga ia menjadi homoseksual adalah pengalaman-pengalaman masa kecil baik itu pengalaman tinggal bersama kakek dan neneknya yang tidak akur dan dominasi neneknya, juga hal yang sama ia dapati dalam kehidupan orang tuanya yang juga tidak akur serta pengalaman bersama dengan kakaknya. Hal itu mempengaruhi kejiwaannya dan juga dengan gender identity-nya.

Untuk mendampingi S dari sudut alkitabiah (rohani) maka yang sangat terutama adalah dengan menuntunnya untuk menyadari keadaan dirinya, kemudian mengakui dosa-dosanya dan juga mengampuni orang-orang yang tanpa sadar telah menyebabkan ia jatuh kedalam penyimpangan seksual. Setelah mengampuni orang-orang yang telah membuatnya menderita, maka S juga harus belajar untuk mengasihi mereka. Kasih mempunyai kekuatan besar untuk memulihkan. Mengapa? Karena kasih adalah persamaan yang paling mendasar yang kita miliki dengan Allah, sebab Allah adalah kasih (bdk 1 Yoh. 4:8).

Setelah mengakui dosa-dosa dan juga mengampuni orang-orang yang telah membuatnya menderita, S juga dituntun untuk memaafkan dirinya sendiri sehingga ia terbebas dari rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya. S juga dituntun untuk mengundang Yesus untuk tinggal di dalam hatinya yang akan memampukan ia untuk menghadapi tantangan dan godaan untuk terjerumus kembali ke dalam keinginan homoseksualnya.[13]

Langkah selanjutnya adalah menuntun klien untuk terus menerus melatih iman, pengharapan dan kasihnya dalam hal menghadapi tantangan-tantangan keinginannya. Hanya dengan perkembangan iman, kasih dan pengharapan, ia akan semakin ingin memilih atau membuat pilihan-pilihan dari hati yang penuh kasih dan penuh ucapan syukur, yang berkenan kepada Allah dan membantunya untuk menjalin dalam hubungan dari hati ke hati dengan Tuhan.

Wiliam Consiglio menyarankan kepada konselor agar terus menuntun konseli dalam lima pilihan penting yang akan mempertahankan kerohanian dan kehidupan konseli. Lima pilihan itu adalah:[14]

  • Doa dan Ibadah adalah mutlak untuk memelihara hubungan dari hati ke hati dengan Allah dan penyembuhan batin konseli yang ingin dilakukan Allah dalam dirinya. Doa dan ibadah merupakan bahasa rohani (dipimpin oleh Roh) dari hatinya dan hati Allah. Keduanya dalah cara untuk menyatakan perasaan syukur, kasih, ketaatan, penyembahan dan puji-pujiannya.  Juga merupakan saat yang tepat untuk menyatakan kepada Allah mengenai perasaan bersalah dan perasaan malunya, penyesalan dan kepedihannya, pertobatannya dari dosa, kebutuhan dan keinginannya, kerinduan, dan hasratnya untuk menjadi sembuh. Ia harus membawa segala hal dalam doa kepada Allah. Yesus telah berkata: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk. 11:24).
  • Percakapan tiap-tiap hari dengan Allah adalah suatu kegiatan yang sangat baik untuk bisa melawan keinginan untuk berbuat dosa. Oleh karenanya sangat perlu dibiasakan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan atau merenungkan tentang Tuhan dengan teratur  sepanjang hari.
  • Pemahaman dan perenungan Alkitab secara teratur adalah satu pilihan lain yang mengalir dari hati orang yang telah diubahkan dan disucikan. Orang percaya harus terus menerus mengadakan hubungan kepada Allah untuk mengetahui kehendak-Nya melalui firman-Nya. William menyarankan bagian-bagian Firman Tuhan untuk direnungkan oleh orang-orang yang mencari kesembuhan, yaitu: Kitab Efesus; Yakobus; Lukas 10:21-28, 30-37; Kolose 3:1-17; 2 Korintus 4:1-5.
  • Persekutuan Kristen dalam suatu gereja mengajarkan dan mengkhotbahkan Alkitab adalah sangat penting. Disini klien akan dapat membina hubungan yang baik dengan pria dan wanita Kristen. Ia akan mendapat dukungan dan doa dari para hamba-hamba Tuhan dan juga dari seluruh tubuh Kristus (jemaat) sehingga mempercepat proses pemulihan kepercayaan dirinya. 
  • Adanya teman Khusus. Sangat dibtuhkan seseorang yang siap untuk mendengar dengan penuh kasih dan perhatian yang akan terus membimbing dia untuk memulihkan diri. Perlu diingat yang menjadi pembimbingnya janganlah orang yang mengalami hal yang sama dengannya. 

Jadi, dari hal tersebut di atas sikap memberi dukungan penuh kepada penderita homoseksual tidaklah dalam artian menyetujui perlakuan homoseksual. Tetapi menurut John Stott yang terutama adalah kasih kepada sesama termasuk kepada kaum homoseksual. Kasih yang sejati tidak berarti berlawanan dengan tolak ukur moral atau tolak ukur kekristenan. Karena itu, ada ruang bagi siasat gereja dalam kasus anggota-anggota yang menolak untu bertobat dan dengan penuh sadar mempertahankan hubungan homoseksual dengan mitra seksualnya. Namun siasat itu harus dilaksanakan dengan lemah lembut dan rendah hati (Gal 6:1 dst).[15]

PENUTUP

Hidup sebagai homoseksual bukanlah pilihan. Seseorang menjadi homoseksual tidaklah dari dirinya sendiri tetapi lebih disebabkan karena ada faktor baik itu faktor biologis yaitu susunan kromosom, ketidakseimbangan hormon, struktur otak dan juga kelainan susunan syaraf serta faktor lingkungan yaitu: faktor budaya / adat-istiadat dan juga faktor pola asuh.

Oleh karenanya sikap kita terhadap penderita homoseksual janganlah menjauhi mereka atau mengatakan bahwa sikap itu adalah sebagai sebuah kejahatan. Walaupun dari sudut pandang etika sikap itu adalah tidak dibenarkan atau dianggap sebagai dosa, namun harapan untuk pemulihan penderita homoseksual tetap ada.

Betapa membingungkan dan menyakitkan pun dilema homoseksual itu bagi paham Kristiani kita, namun Yesus Kristus menawarkan kepada pria dan wanita yang homoseksual itu (bahkan kepada kita semuanya tanpa kecuali) iman, pengharapan dan kasih – iman untuk menerima tolok ukur-Nya dan kasih karunia untuk mempertahankan tolok ukur itu, pengharapan untuk melihat dengan melintasi kepahitan masa sekarang, kepada kemuliaan yang akan datang, serta kasih untuk saling mengayomi. “Tapi yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13).

KEPUSTAKAAN

 

Consiglio, William, Tidak Lagi Homo, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998.

Geisler, Norman L., Etika Kristen Pilihan dan Isu, Malang:  Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2001,

Hadiwardoyo,  Al. Purwa, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta: Kanisius 1990

Hartoyo & Adinda, Titiana, Biarkan Aku Memilih: pengakuan seorang Gay yang coming out, Jakarta: Kompas Gramedia, 2009.

Hersberger, Anne Krabill; Seksualitas: Pemberian Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Sadarjoen,  Sawitri Supardi, Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual, Bandung: PT Refika Aditama, 2005.

Stott, John., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000

http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 diakses tanggal 25 Februari 2010

http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=566, diakses tanggal 25 Februari 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, diupdate tanggal 25 Pebruari 2010

PENJELASAN DARI PAK JAKA

Tujuan Konseling:

  • Healing
  • Guiding

 


[1] Sawitri Supardi Sadarjoen, Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual, Bandung: PT Refika Aditama, 2005, hlm., 41.

[2] Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, diupdate tanggal 25 Pebruari 2010

[3] Lih. http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 yang di update pada tanggal 25 Pebruari 2010

[4] Hal ini juga dibenarkan oleh Hartoyo, seorang penderita homoseksual, dalam Hartoyo & Titiana Adinda, Biarkan Aku Memilih: pengakuan seorang Gay yang coming out, Jakarta: Kompas Gramedia, 2009.

[5] Anne Krabill Hersberger, Seksualitas: Pemberian Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm., 108

[6] Lih. http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 diakses tanggal 25 Februari 2010

[7] Lihat tulisan Veronoka Adesla, Resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=566, diakses tanggal 25 Februari 2010

[8] Al. Purwa Hadiwardoyo, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta; Kanisius 1990, hlm. 51

[9] Sawitri Supardi Sadarjoen, Op.Cit., hlm 42-50

[10] Al. Purwa Hadiwardoyo, Op.Cit., hlm. 45

[11] Dalam sudut pandang etikaKristen melihat bahwa homoseksual adalah suatu dosa atau kejahatan. Walaupun begitu masih terdapat perbedaan pendapat (pro dan kontra), ada yang menyetujui homoseksual dengan mengutip nats-nats firman Tuhan dan ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah kejahatan (dosa) dengan mengutip nats-nats firman Tuhan. Untuk leibh jelasnya lihat Norman L. Geisler, Etika Kristen Pilihan dan Isu, Malang; Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2001, hlm. 328-352.

[12] William Consiglio, Tidak Lagi Homo, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998, hlm., 21.

[13] Teori ini saya ambil dari pengalaman-pengalaman dalam mata kulih Pastoral Klinis yang diajarkan oleh bapak Pdt. Jaharianson Saragih.

[14] William Consiglio, Op. Cit., hlm., 54-57

[15] John Stott, Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000, hlm. 457.

ORANG SAKIT KARENA KUASA GELAP

ORANG SAKIT KARENA KUASA GELAP (Okultisme)

 

  1. “Apa itu kuasa gelap/ Okultisme?”

Setiap orang tentu pernah merasakan sakit. Sakit tentu saja bukanlah suatu fase yang menyenangkan. Ketika sakit, tentu timbul berbagai perasaan dan pikiran negatif diantaranya; gelisah, takut dan lain sebagainya. Sakit fisik biasa tentu dapat disembukan dengan perobatan medis ataupun dengan obat herbal. Hal ini merupakan hal yang lumrah. Namun yang menjadi permasalah adalah sakit yang tidak terdiagnosa oleh dokter. Hal ini tentu membawa suatu kontrofersial. Dikatakan kontrofersial karena penyakit ini tidak terdeteksi oleh medis.

Biasanya untuk penyakit sepeti ini para medis akan merekomendir untuk konsultasi kepada psikolog (bila terlihat ada beban mental) dan kepada pemuka agama (bila tidak terlihat adanya beban mental). Bahkan yang lebih miris lagi, bahwa pasien disarankan untuk pergi keperobatan alternatif (paranormal/ orang pintar/ dukun).

Atas dasar hal di atas, tentunya perlu tinjauan dan pembahasan yang lebih mendalam mengenai orang yang sakit karena kuasa gelap.

Istilah okultisme berasal dari kata okult yang berarti gelap, rahasia, misterius, tersembunyi dan istilah Isme yang berarti ajaran, paham atau doktrin. Jadi istilah okultisme berarti ajaran, paham atau doktrin tentang hal-hal yang sifatnya rahasia, gelap, misterius dan tersembunyi, khususnya menyangkut kuasa gelap.[1]

Ada pula yang mengatakan bahwa okultisme adalah suatu yang berhubungan dengan kekuatan supranatural, misterius dan magis.[2]

Kuasa gelap yang dimaksudkan adalah kuasa iblis. Kenapa hal ini dilakukannya?. Hal ini dilakukannya agar ia yang telah dilemparkan dari surga karena kesombongannya “mendapat teman”. Iblis memperhadapkan manusia ke dalam dosa yang sama dengan  yang dilakukannya dan berharap Tuhan mencampakkan manusia (yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya) seperti dia dicampakkan. Tuhan melihat hal ini tidak menyampakkan manusia namum merancankan keselamatan dengan merendahkan diriNya agar setiap orang yang percaya tidak binasa. Rencana penyelamatan Allah ini diwujudkanNya dengan penganugrahan AnakNya Yesus Kristus. Oleh karena rencana penyelamatan ini, tentunya iblis tidak tinggal diam. Dia berusaha untuk mengikat kehidupan manusia, yang diperbuatnya untuk menghancurkan gambaran Allah pada manusia.[3]

  1. Gejala-gejala kerasukan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Lislie Lim dan Douglas koh menguraikan dengan jelas gejala-gejala yang ditimbulkan oleh kuasa gelap, yaitu:[4]

  • Gejala fisik

a)    Kegelisahan (Mat 12:43)

b)    Kekuatan yang tidak biasa (Luk 8:29).

c)    Kekerasan (Mat 8:28)

d)    Keadaan terbelenggu (Luk 8:29)

e)    Penyakit bawaan atau kambuh. Penyakit yang tidak memiliki penjelasan medis.

f)     Kecanduan

g)    Desakan-desakan sensual atau gairah seksual yang ekstrem, dan penyimpangan seksual.

h)    Perubahan suara.

i)      Kemunculan kepribadian baru dengan tabiat yang tidak suci.

  • Gejala Spiritual

a)    Jatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.

b)    Menunjukka sikap bermusuhan terhadap nama Yesus

c)    Dorongan untuk menghujat.

d)    Tidak ingin atau tidak mampu meninggalkan ulah setan.

e)    Mengantuk atau tidak bisa berkosentrasi ketika membaca Alkitab, tetapi mampu membaca buku-buku duniawi atau bahan bacaan lainnya tanpa kesulitan semacam itu.

f)     Terus-terusan terganggu atau pikirannya mengembara selagi berdoa.

g)    Memiliki kekuatan untuk meramalkan masa depan atau penglihatan ekstra indrawi (extransesorr perception) atau kemampuan kebatinan (Kis 16:16)

  • Gejala emosional

a)    Kemarahan yang tidak terbendung.

b)    Rasa takut yang tidak normal atau tidak masuk akal atas sesuatu atau suatu keadaan.

c)    Memendam rasa enggan memaafkan atau emosi-emosi merusak lainnya, seperti kekecewaan, amarah, dan benci (Ibr 12:15)

d)    Rasa bersalah yang menyesatkan

e)    Kabur dari kenyataan dengan menyibukkan diri dengan kegiatan lain.

f)     Memelihara pikiran bunuh diri atau mencoba bunuh diri (Mrk 9:22)

  • Gejala mental

a)    Seperti mendengar suara-suara

b)    Depresi/tidak berpengharapan/putus asa (Yes 61:3)

c)    Kebingungan

d)    Dicerca oleh pikiran-pikiran kotor dan tidak suci

e)    Disiksa oleh mimpi buruk yang kerap menghantui

  1. Faktor Penyebab Orang Sakit karena Kuasa Gelap

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa iblis tidak akan membiarkan manusia hidup dalam kedamaian. Secara fakta Alkitabiah bahwa manusia yang didiami oleh setan mengalami banyak gangguan dan salah satunya adalah gangguan fisik (bnd. Efs 2:2; Luk 13:11,16; 1 Sam 16:14,23; 18:10,12). Di sini terlihat bahwa tubuh saul yang telah didiami atau ditunggangi oleh kuasa gelap tidak dapat terkontrol oleh dirinya sendiri.[5] Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana setan-setan masuk ke dalam tubuh manusia? Bukankah manusia adalah gambaran dari Allah?

Tentu manusia adalah segambar dengan Allah, namun gambaran ini telah rusak oleh karena dosa. Maka iblis yang adalah bapa dari segala dosa dapat menggunakan segala jenis dosa sebagai pintu masuknya untuk menghancurkan manusia.

Lislei Lim dan Douglas Koh menguraikan celah yang dipakai iblis sebagai pintu masuk kepada manusia, adalah sebagai berikut:[6]

  • Pengalaman Masa Kecil yang Menyakitkan

Anak-anak yang menderita pelecehan fisik dan emosi rentan terhadap serangan-serangan Iblis. Ketika mereka ditinggalkan dan dirawat di panti-panti, mereka tumbuh dengan perasaan tidak dicintai dan menderita perasaan ditolak yang parah. Beberapa telah dilepas untuk diadopsi, atau telah dirawat oleh orang tua tiri atau sanak saudara mereka yang kurang mengasihi dan mempedulikan mereka, dibanding dengan anakk-anak mereka sendiri. Anak-anak ini pun tumbuh dengan gambar diri yang rendah, rasa ketidakmapanan yang dalam, luka-luka perasaan, dan pikiran untuk bunuh diri. Rasa kehilangan yang dialami sejak masa kanak-kanak semacam ini menciptakan lahan semai bagi gangguan-gangguan kepribadian. Rasa itu juga membuka pintu masuk bagi pengaruh-pengaruh iblis.

  • Keretakan Rumah Tangga

Allah menciptakan tangga dengan ibu dan ayah di dalamnya. Rumah Tangga menjadi tidak lengkap manakala salah satu atau kedua orang tua tidak ada. Percekcokan antar orang tua menorehkan rasa tidak aman yang dalam di pikiran anak kecil. Dia telah terbiasa menghormati orang tuanya ketika tiba-tiba dia dipaksa untuk memihak salah satu dari mereka. Hal ini menciptakan konflik parah dalam diri si anak. Ada banyak luka perasaan yang terjadi. Jika dia memilih pihak ayah, dia berfikir bahwa dia bakal kehilangan kasih dan sayang dari ibu. Ikatan yang telah dia bangun bersama si ibu akan terkoyak. Bayangkan rasa sakit yang harus di derita oleh seorang anak kecil. Hal ini mungkin akan berbeda ketika salah satu dari orang tuanya meninggal karea dalam situasi ini, dia tidak dipaksa untuk membuat pilihan.

Banyak anak yang dengan keliru menyalahkan diri mereka sendiri, seakan-akan mereka  adalah penyebab retaknya pernikahan orang tua mereka. Hal ini membuat mereka menjalani hidup dengan menanggung beban rasa bersalah yang berat. Mereka merasa malu. Teman-teman mereka punya rumah tangga dengan kedua orang tua mereka tinggal di dalamnya. Mereka tidak. Mereka merasa harus menyembunyikan masalah perkawinan kedua orang tua dari teman-teman mereka. Hal ini menyebabkan mereka mengalami kurangnya kepercayaan diri, perasaan tidak aman,dan penghargaan diri rendah. Bersama dengan kebingungan, luka perasaan, rasa bersalah yang sebenarnya keliru, dan rasa terhukum, korban-korban percekcokan orang tua membuka pintu bagi serangan-serangan roh jahat. Gembongnya Iblis adalah si penuduh itu, seorang tukang tipu dan pendusta yang akan menumpuk rasa bersalah yang tidak dapat dibenarkan pada anak-anak yang terluka ini.

  • Rasa Takut dan Trauma yang Tiba-tiba

Trauma dan rasa takut erat kaitannya. Selagi sebuah konsekuensi atas pengalaman traumatis, seseorang dapat diliputi rasa takut. Roh-roh jahat memperoleh jalan masuk melalui rasa takut yang tiba-tiba ini. Misalnya, seorang gadis yang uang dan barang-barang berharganya dirampok oleh seorang pejalan kaki yang lewat ketika dia sedang berjalan di sepanjang gang yang gelap. Setelah itu, dia memiliki rasa takut ketika berjalan sendiri dan menghindari gang tempat dia dirampok itu secara bersamaan.

Contoh lain adalah orang yang pernah terlibat dalam kecelakaan. Mereka mungkin akan mengalami gangguan stres pascatrauma. Ini adalah sebuah kondisi yang timbul setelah mengalami kejadian kejadian yang membahayakan nyawa. Si penderita mengalami kegelisahan yang muncul terus menerus, rasa marah atau dongkol, kilas balik tentang insiden dan/atau pengalaman berulang tentang perasaan seakan-akan kejadian itu sedang terjadi lagi. Dalam diri penderita, terjadi sebuah penghindaran terhadap hal-hal yang dapat memicu ingatan tentang kejadian itu.

Kata “trauma” berasal dari bahasa Yunani, ejaannya sama yang berarti “luka”. Ketika seseorang mengalami trauma, dia terluka atau tercederai secara fisik, emosi, atau seksual. Trauma mungkin akan menyebabkan dampak panjang terhadap perilaku dan kepribadiannya. Trauma dapat merupakan akibat dari pengalaman-pengalaman pralahir, kecelakaan-kecelakaan nyaris fatal, pelecehan seksual, verbal, atau fisik, penolakan, kerugian finansial, kematian dini atau tidak terduga orang-orang yang dicintai, dan keretakan dalam sebuah pernikahan.

Orang-orang yang mengalami trauma berada di titik terlemah selama trauma terjadi, dan menjadi lebih rentan terhadap serangan-serangan roh jahat. Para Iblis mengambil keuntungan dari situasi ini dan menginvasi korban yang mengalami trauma itu.

  • Dosa Nenek Moyang

Dosa nenek moyang kita, lewat penyembahan berhala, turun dari generasi ke generasi, seperti yang dijabarkan Musa dalam Keluaran 20:3-5:

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.”

Pemberhalaan bermakna lebih dari penyembahan ilah palsu. Setiap ketertarikan, kegiatan, atau benda apa pun yang mengambil tempat paling utama dalam kehidupan seseorang adalah berhala. Iblis mengambil keuntungan penuh dari hak mereka untuk memasuki kehidupan seseorang ketika pemberhalaan dipraktekkan. Ketika Iblis masuk sebagai akibat dari dosa pemberhalaan atau dosa tertentu, dia akan terus turun dari generasi ke generasi, kecuali orang tersebut bertobat dan dilepaskan.

Manusia di dalam kandungan jelas berhubungan dengan ibunya (orang tua). Relasi ini ternyata bukan hanya sekedar menyangkut faktor genetika, namun juga menyangkut hubungan dosa (bnd. Mzm. 51:7). Fakta alkitabiah dalam Ulangan 20:4-6 jelas menyatakan bahwa Tuhan menunjukkan murkaNya kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Dia. Dikatakan membenci karena dosa yang dilakukan oleh manusia sendiri dan oleh karena dosa itu Tuhan membiarkan manusia untuk dicobai. Membenci bukan berarti membiarkan manusia itu terjerumus lebih mendalam karena Tuhan adalah Mahakasih. Karena dalam lanjutan ayat tersebut dikatakan bahwa Dia menunjukkan kasihNya kepada setiap orang yang mengasihi dan tunduk akan Dia. Dari pemaparan ini jelas bahwa dosa dari Adam dan Hawa tentunya turun kepada anak-anaknya dan seluruh keturunannya.

Iblis yang adalah juga penipu ulung masuk secara mulus dalam kehidupan manusia. Manusia modern yang tidak mempercayai adanya kuasa iblis lebih condong diintervensi oleh iblis tanpa disadarinya. Contohnya dalam Matius 17:14ff menceritakan seorang yang disangka mengidap penyakit ayan ternyata sedang dirasuki oleh iblis.[7]

  • Praktik Okultisme

Praktik-praktik okultisme, seperti memuja leluhur yang sudah mati; mempersembahkan seseorang kepada dewa; meminum air “jampi-jampi”; berkonsultasi pada peramal, ahli perbintangan, pembaca telapak tangan, pembaca kartu tarot atau dukun; menggunakan jimat keberuntungan, azimat atau perhiasan bertuah; mengembangkan chi, ki, prana atau kehidupan semesta lewat beragam seni bela diri dan yoga; dan menyimpan benda gaib atau benda sihir dalam rumah akan mengundang Iblis datang ke kehidupan seseorang.

  • Berbuat Dosa Terus-menerus

Paulus memperingatkan orang percaya agar jangan “beri kesempatan kepada iblis: (Efs 4:27). Ketika seseorang terus menerus berkubang dalam dosa tertentu, dia membiarkan Iblis membuat klaim atas dirinya.

Misalnya, ketika seseorang memendam sikap enggan memaafkan, amarah, kekecewaan atau emosi-emosi baka lainnya, dia membuka dirinya untuk disiksa oleh roh-roh jahat. Hal ini akan mempersulit pembebasannya dan mungkin akan berakibat pada gejala-gejala tidak terjelaskan secara medis.

  • Ikatan-ikatan Jiwa Tidak Ilahi

Allah telah menempatkan kita dalam hubungan antar sesama. Hubungan yang sehat membawa kita pada peningkatan dan hubungan yang tidak sehat justru memperbudak kita. Contoh ikatan-ikatan jiwa termasuk hubungan di antara orangtua dan anak-anak, manakala ada kasih, penerimaan, dan penyemangatan; hubungan suami istri, saat keduanya menjadi satu tubuh, jiwa, dan roh; dan hubungan sehat di antara orang-orang berjenis kelamin sama seperti dalam kisah Daud dan Jonatan, dan Rut dan Naomi. Iblis membenci dan mengutak-atik hal yang ilahi menjadi tidak ilahi. Misalnya, banyak orangtua yang menolak anak-anak mereka, dan anak-anak tersebut berbalik berontak melawan orangtua mereka. Pasangan-pasangan bertengkar setiap hari dan suami istri masing-masingg selingkuh. Hubungan antara orang orang-orang berjenis kelamin sama memburuk dan berakhir sebagai hubungan homoseksual atau lesbian. Ikatan-ikatan jiwa tidak ilahi juga tercipta ketika orang jatuh ke bawah otoritas orang lain yang dirasuk Iblis, seperti dalam kasus mereka yang berkonsultasi dengan dukun, peramal dan sejenisnya.

Ikatan-ikatan jiwa tidak ilahi bertindak sebagai saluran spiritual bagi Iblis untuk mengalir dari seseorang yang punya otoritas ke orang lain di bawah wewenangnya. Ikatan-ikatan jiwa tidak ilahi ini harus dikoyakkan dalam pelayanan pelepasan.

  • Pengaruh Pralahir

Iblis selalu sigap mengambil keuntungan dari usaha seseorang ibu yang mencoba melakukan aborsi atau dari tindakan-tindakan berkubang dosa apa pun. Berbagai hal semacam ini dapat mencemari dan menyebabkan masalah-masalah emosional dan spiritual bagi jabang bayi. Secara spiritual, jabang bayi menderita rasa penolakan. Ketika si anak tumbuh besar, dia mungkin merasa ditolak. Dia merasa ditinggalkan seakan-akan dia bukanlah milik keluarganya.

  • Kekeliruan Religius dan Ajaran Palsu

Paulus dalam suratnya kepada Timotius telah mengingatkan bahwa pada waktu-waktu kemudian ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1 Tim 4:1). Ketika seseorang terlibat dalam praktik-praktik religius yang salah dan menerima ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Injil, seperti mereka yang dari kelompok-kelompok agama dan Pergerakan New Age, dia membuka dirinya bagi roh pembodohan. Lebih jauh Paulus mengingatkan dalam Kolose 2:8: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

  • Kutuk

Kutuk adalah kata-kata yang diucapkan. Kutuk memiliki kekuatan spiritual. Kutuk ditujukan kepada orang lain, dengan niat membahayakannya. Kutuk bisa datang dari Allah atau setan dan orang-orang yang bertindak atas namanya. Kutukan Allah adalah sebuah bentuk penghakiman bagi mereka yang tidak patuh atau menentang-Nya.

Iblis melekat pada kutuk karena mereka harus melaksanakan pekerjaan mereka untuk membuat kutuk itu berlaku. Jadi, jika seseorang yang telah dikutuk mengalami kegagalan, misalnya, kemudian roh kegagalan akan memastikan bahwa orang tersebut tidak akan sukses dalam setiap ruang kehidupannya.

  • Dosa Seksual

Kecanduan pornografi, pelecehan seksual, hubungan seks di luar nikah, tindakan-tindakan seksual tidak alami seperti seks oral atau seks anal, serta hubungan homoseksual dan lesbian membuka pintu bagi iblis untuk beroperasi dalam diri orang-orang yang melakukan atau ikut ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas ini.

  • Perawatan Medis Alternatif Tertentu

Sebelum orang Kristen, siapapun dia, beralih bentuk terapi alternatif apa saja, terlebih dulu, dia harus mencari tahu tentang keyakinan dan prinsip spiritual terapi itu dan pandangan dunia religius si ahli terapi. Beberapa dari ahli terapi ini memiliki akar agama Wiccan atau “ilmu sihir putih”. Beberapa yang lain memiliki hubungan dengan agama-agama Timur tertentu, sementara yang lainya lagi berurusan dengan agama-agama alam, di mana makhluk dan pemandu roh dipanggil. Tetapi apapun yang berhubungan dengan okultisme dan kepercayaan New Age harus dihindari walaupun memberikan hasil yang positif. Setan yang bekerja lewat agen-agennya, dapat “mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat 24:24).

  • Situs Kematian dan Gedung Tertentu

Ada beberapa jalan raya tertentu tempat kecelakaan lebih sering dibandingkan jalan raya yang lainnya. Hal ini benar di setiap negara. Iblis giat berulah di tempat-tempat di mana kecelakaan kerap terjadi. Situs-situs  bunuh diri massal, perang, dan pengurbanan manusia adalah juga tempat-tempat di mana iblis bersarang. Orang-orang yang mengunjungi tempat-tempat semacam itu dan merasa takut mungkin akhirnya akan tertekan secara spiritual.

Beberapa fasilitas, seperti hotel, juga mungkin menjadi sarang iblis karena tempat itu pernah ditinggali oleh orang-orang tertentu; atau, tempat itu pernah digunakan untuk aktivitas-aktivitas tertentu; atau di tempat itu pernah terjadi kejadian-kejadian tertentu.

  1. Dampak Kuasa Gelap

Setiap tindakan yang dilakukan pasti ada akibat atau dampaknya. Demikian juga dengan keterlibatan dalam kuasa gelap memiliki dampak baik itu pada diri sendiri, keluarga, orang lain, bahkan kepada keturunan. Dampak yang paling utama adalah agar manusia meninggalkan kepercayaannya kepada Tuhan Yesus dan memilih untuk mengikatkan diri kepada si iblis, sehingga manusia kehilangan kesempatan untuk hidup bersama-sama dengan Yesus dalam kekekalan dan menjadi teman si iblis dalam kematian yang kekal. 

Bila seseorang sakit akibat kuasa kegelapan dan dia pergi meminta pertolongan dari dukun, maka ada dua hal yang terjadi secara langsung:[8]

  1. Terjadi kesembuhan semu.

Dikatakan kesembuhan semu karena kesembuhan yang didapat bukanlah kesembuhan yang nyata dimana penyakit tersebut akan kambuh kembali ataupun akan tertransfer kepada keluarga/orang terdekat.

  1. Peluang bagi iblis untuk semakin menghancurkan manusia.

Dalam hal ini manusia membuka sebuah lembaran perjanjian bagi iblis untuk menghancurkan dirinya. Mau tidak mau, manusia ini seperti berhutang kepada seorang rentenir. Rentenir akan meminta 100 bahkan lebih ketika dia memberi 1. Begitu juga iblis akan meminta imbalan (tumbal) dalam bentuk kesengsaraan hidup bahkan bisa jadi meminta kehidupan itu langsung.

Pondsius dan Susanna Takaliuang menguraikan dampak dari kuasa kegelapan ini, sebagai berikut:[9]

  1. a.    Dampak secara rohani
  • Serangan depresi, misalnya seorang tenggelam dalam suatu kesedihan tanpa alasan. Orang berada di bawah tekanan, dicekam oleh perasaan takut terhadap hal-hal disekitarnya. Iblis tidak pernah dapat memberikan damai sejahtera dalam hati manusia. Hanya di dalam Kristus manusia sentosa, sejahtera dan merdeka/bebas (Yoh 16:33; Rm 16:20; 2 Kor 3:17). Kuasa kegelapan hanyalah menimbulkan kegelisahan.
  • Sikap tertutup keras terhadap firman Allah. Gejala ini tidak sama pada tiap-tiap orang. Ada yang merindukan Firman Allah, tetapi waktu ia mendengar, ia mengantuk dan tertidur, walaupun tubuhnya dalam keadaan segar bugar.
  • Iblis adalah roh penidur, membutakan mata hati manusia sehingga benih firman Allah tidak dapat masuk dan tidak bisa tumbuh dalam hati orang yang terlibat dalam dunia okultisme (2 Taw 33:10; Mat 13:4,18,19; 2 Kor 4:4). Orang-orang yang terlibat dalam dunia okultisme tidak menyukai firman Allah; mungkin masih membaca juga tetapi tidak mengerti. Kalau membaca buku-buku lain, dia tidak mengantuk dan tidak tertidur.
  • Gangguan lain ialah pada waktu mendengar Firman Tuhan ia dikuasai oleh roh sangsi, yang bekerja pada saat itu, sehingga sulit baginya untuk mempercayai firman Allahh dan akhirnya hidupnya tambah berantakan. Firman Allah tidak jadi jaminan yang utuh untuk imannya, tetapi merupakan bahan spekulasi saja. Itulah sebabnya kita bertemu dengan orang yang di atas mejanya ada buku mantera sejakigus ada juga Alkitab.
  • Ada keinginan bahkan kenyataan menghujat nama Tuhan Yesus, baik tersembunyi maupun terang-terangan. Orang yang demikian telah dikuasai oleh roh penghujat.
  1. b.    Dampak secara psikologi/mental
  • Pikiran bunuh diri yang seringkali berjalan sejajar dengan depresi. Ingat Saul dan Yudas Iskariot yang mengakhiri hidupnya dengan sangat menyedihkan (1 Sam 28; 1 Taw 10:14; Mat27:15). Iblis adalah bapa pembunuh manusia dan dialah yang membawa manusia kepada keputusasaan, menjadikan manusia nekad bunuh diri (Yoh 8:44)
  • Gejala adanya ketakutan yang tidak normal. Banyak hal disekitarnya membuat dia takut. Ini bukan takut akan Allah, tetapi takut yang aneh dan tidak wajar, karena memang terlibat dalam praktek okultisme. Berjalan melewati kuburan dan tempat keramat, bulu kuduk berdiri, takut bunyi-bunyi yang aneh, bahkan takut akan kematian, itulah yang menguasai orang yang terlibat okultisme.
  • Gejala angin kotor, angin hawa nafsu, pikiran-pikiran najis yang dihembuskan oleh roh-roh najis. Biasanya orang yang terlibat dalam okultisme, hidup seksualnya tidak normal, matanya penuh zinah dan angan-angan kotor yang menguasai dia. Iblis bukan hanya bapa pembunuh, tetapi juga bapa perzinahan.
  • Kemarahan atau hawa nafsu marah yang tidak normal. Ada kemarahan dari Roh Suci (1 Sam 11:6; Luk 9:51-56), tetapi ada kemarahan yang ditungggangi setan membawa kematian (Kej 4:48), dan penderitaan. Roh harimau (1 Ptr 5:8), menguasai orang yang terlibat okultisme, sehingga dengan tidak segan-segan ia “menerkam” orang di sekitarnya, seperti Kain yang dikuasai oleh roh jahat “menerkam” Habel, saudara kandungnya dengan tidak ada belas kasihannya sama sekali.
  1. c.    Dampak Secara Fisik
  • Urat syaraf sakit, karena mempraktekkan okultisme secara aktif. Orang yang didiami Roh Allah tubuhnya sehat seperti Musa (Ul 34:7), Yosua dan kaleb (Yos 14:6-11). Tubuh manusia yang didiami setan (Ef 2:2), banyak mengalami ganguan (1 Sam 16:14-23; 18:10-12; Luk 13:11,16). Ingatan Saul juga menjadi tidak waras lagi, sebab ia berada di bawah kekuasaan roh jahat. Sewaktu-waktu dia membenci Daud, dan sewaktu-waktu ia menyesal atas dosa-dosanya. Iblis memang merusakkan urat syaraf dan kesehatan seseorang, bahkan bisa mendatangkan kegilaan (Yer 50:38; Ul 28:28).
  • Kemandulan dan kematian yang tidak wajar, yaitu kematian sebelum waktunya (Kel 23:24-26). Tentu saja tidak semua kemandulan terjadi karena praktek okultisme.
  1. d.    Dampak dalam Keluarga

Kekacauan terjadi dalam keluarga, di mana menjadi kacauu, karena roh pengacau itu diberi tempat dalam keluarga sehingga semuanya menjadi kacau dan berantakan. Keluarga Yakub menjadi kacau, karena dalam rumahnya ada dewa asing dan anting-anting keramat sebagai jimat. Kekacauan nanti selesai setelah mereka membuang semua benda iblis dari rumah mereka (Kej 34-35).

  1. e.    Dampak untuk Keturunan berikutnya

Keturunan menjadi kacau dan terkutuk, tidak normal, cacat, sial, terlaknat dan terhukum turun temurun (Kel 20:4-5) karena berada di luar berkat Tuhan. Hanya darah Tuhan Yesus yang dapat menebus kita dari kutuk, karena cara hidup yang sia-sia yang turun temurun dari nenek moyang kita (1 Ptr 1:18,19).

  1. f.     Dampak untuk Kekekalan

Orang yang terlbat okultisme tidak akan mewarisi Kerajaan Allah (Gal 5:20,21), malah dilempar ke lautan yang bernyala-nyala dan akan mengalami kematian yang kedua (Why 21:8; 22:15)

  1. Bagaimana cara Mengatasi Kuasa Gelap secara Alkitabiah

Pelepasan adalah tindakan mengeluarkan Iblis atau roh jahat dari seseorang yang kerasukan. Setelah Yesus Kristus dibaptis, Ia dicobai di gurun pasir. Dia dicobai namun setiap pencobaan yang dilakukan iblis kepadaNya tidak pernah berhasil. Dalam hal ini Yesus menunjukkan keteladanannya secara langsung. Dia yang telah mempersiapkan diriNya dengan menahan segala keinginan daging (puasa), mulai melakukan pelayananNya. Secara garis besar ada 3 jenis pelayanan yang dilakukan Yesus Kristus yakni: mengajar, menyembuhkan dan mengusir setan. Pada saat Yesus akan naik ke Sorga, Dia menyatakan perintahnya kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Perintah yang dimaksud adalah untuk mengusir setan-setan demi namaNya (bnd. Mark. 16:17).

Cara yang dipakai selama ini untuk menolong mereka yang kerasukan setan adalah eksorsisme. Eksorsisme adalah pengusiran keluar roh-roh jahat dalam diri seseorang, dari suatu tempat, atau dari suatu barang ke tempat lain.[10] Yesus dalam pelayananNya banyak menggunakan eksorsisme ini (Mat 8:28-34; 15:21-28; 17:14-21; Mrk 1:23-27). Di samping itu Yesus juga memberikan kuasa dan memerintahkan murid-muridNya untuk mengusir setan-setan dalam pelayanan mereka (Luk 10:1-18). Perintah Yesus pada murid-muridNya untuk mengusir setan-setan membuat eksorsis menjadi salah satu bagian penting dari pelayanan para Rasul. Dalam kesaksian murid-murid kemudian (Luk 10:1-18) dijumpai bahwa banyak setan diusir dalam pelayanan mereka. Rasul Paulus juga melakukan eksorsis ini. Ia pernah mengusir setan dari hamba perempuan di Filipi (Kis 16:16-18).

Dalam perkembangan pemakaian metode ini selanjutnya digunakan istilah “pelayanan pelepasan” (deliverance ministry) sebagai istilah yang lebih luas pemahamannya dari pada eksorsisme. Dalam pelayanan pelepasan ini, penolong tidak hanya melakukan pengusiran setan-setan, melainkan juga membuat analisis kehidupan konseli (riwayat hidupnya). Misalnya diselidiki apakah ia atau keluarganya terdekat terlibat dalam okultisme atau tidak. Jika ada, harus diadakan doa pemutusann atau penyangkalan, dan kadangkala diserta pembakaran jimat-jimat. Klien kemudian dibimbing untuk memiliki hubungan secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Klien ditolong memiliki satu kelompok persekutuan yang diharapkan dapat mempercepat proses kesembuhannya, misalnya di gereja atau mengikuti konseling kelompok.

Orang kristen adalah benar pengikut Yesus, namun yang perlu untuk dilihat secara teliti adalah, kenapa orang kristen bisa dirasuki oleh setan? Padahal sudah jelas orang kristen adalah pengikut Yesus. Oleh karena itu penting untuk mengetahui jenis kerasukan. Kerasukan dibagi tiga tingkatan yakni kerasukan penuh, kerasukan sebagian dan dihinggapi roh jahat. Kerasukan penuh yakni ketika iblis yang mengendalikan langsung tubuh orang tersebut. Kerasukan sebagian yakni iblis berdiam ditubuh orang tersebut namun tidak menunjukkan manifestasinya. Sedangkan dihinggapi roh jahat adalah iblis mengontrol seseorang dari luar, mengunakan sifat negatif manusia untuk diperalat, hal ini juga sering di dengar sebagai ditunggangi (ditunggangi seperti kuda yang dipasang tali kekang dan dikemudikan).[11]

Iblis selalu menunggu kesempatan untuk menghancurkan manusia. Dia menunggu momen yang tepat untuk merebut kemenangan yakni dengan cara memancing manusia masuk ke dalam dosa. Iblis memiliki kuasa untuk memakai dosa sebagai medianya untuk masuk kedalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, setiap orang yang melakukan dosa bisa diganggu oleh iblis. Sehingga dari hal ini dapat dilihat bahwa semua orang mempunyai celah untuk dihancurkan iblis termasuk orang kristen. Dari hal ini timbullah pertanyaan, bagaimana caranya agar terlepas dari belenggu iblis?

Untuk melaksanakan pelayanan pelepasan, kita berpedoman pada prinsip-prinsip yang dilakukan oleh Yesus dalam pelayanannya melakukan pengusiran setan, yaitu:[12]

  1. Yesus tidak pernah mencari-cari secara khusus orang yang dirasuk. Umumnya adalah mereka yang di bawa orang lain kepadaNya, atau kebetulan jumpa pada saat Ia pergi melayani ke suatu tempat.
  2. Yesus mengusir setan-setan itu dengan satu perkataan/ kalimat pendek dan tegas mengusir setan-setan itu (Mrk 9:25), dan Ia tidak banyak beragumentasi dengan setan-setan itu.
  3. Yesus bertindak melalui kuasa Roh Kudus (Mat 12:28), dengan iman, doa dan puasa (Mrk 9:29, Mat 17:20).
  4. Dalam beberapa kasus Yesus memberi perintahNya berulangkali kepada setan-setan itu baru setan itu keluar dari korbannya (Mrk 5:8; Luk 11:14)
  5. Sebelum mengusir setan-setan itu Yesus lebih dahulu mengikat setan-setan itu (Luk 4:35)
  6. Yesus memerintahkan supaya setan-setan itu jangan lagi memasuki korbannya setelah setan-setan itu keluar (Mrk 9:25)
  7. Ia memberi perintah bukan kepada si penderita tetapi kepada setan-setan itu.
  8. Yesus tidak hanya mengusir setan-setan tetapi juga menyembuhkan penyakit lainnya jika ada.
  9. Pernah suatu saat Yesus melakukan pengusiran setan dari jarak jauh (Mat 15:28). Peristiwa ini terjadi karena iman yang luar biasa dari perempuan Kanaan itu. Jadi, iman anggota keluarga juga penting dalam pengusirann setan ini. Keluarga perlu diajak bersama untuk dapat beriman kepada Tuhan agar si pennderita menerima kelepasan dari ikatan setan-setan.

Orang percaya sebenarnya tidak terlihat dari perkataan namun dari sikapnya yang nyata. Seperti buah mangga yang kulitnya mulus tapi bisa jadi isinya busuk. Seperti itu pula manusia, bisa jadi seseorang telihat baik luarnya namun dalamnya berlumuran dosa “menang casingnya saja”. Tapi tentu saja yang diharapkan adalah mulus luar dalam. Orang yang benar-benar mempunyai kepercayaan penuh kepada Tuhan, mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya tentu akan sulit untuk diserang iblis. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai kepercayaan yang teguh akan mudah untuk diserang oleh iblis.

Ketika roh jahat diusir dari tubuh seorang yang sedang kerasukan, maka orang tersebut akhirnya bermanifestasi. Karena roh jahat adalah makhluk halus yang tidak kasat mata. Bila roh jahat yang tidak kasat mata itu menyerang orang tentu orang tersebut dapat bereaksi sakit, misalnya: perut terasa diaduk-aduk, kejang, pingsan dan lain sebagainya. Untuk hal seperti ini maka tidaklah mungkin ditangani oleh intervensi medis.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa Yesus mengajarkan manusia untuk mengusir setan demi NamaNya maka manusia dapat melakukan Intervensi okult. Setiap orang percaya dan mempunyai keinginan untuk melayani Dia dalam pengusiran setan akan diberikan anugrah penengkingan. Orang percaya ketika berhadapan dengan hal seperti ini dapat melakukan pelayanan pelepasan. Pelayanan pelepasan adalah mengusir setan dari tubuh yang dirasuki. Iblis takut akan nama Tuhan. Hal ini terlihat dalam kesaksian Alkitab dalam Injil Markus 1:24

“Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”

Hal ini menunjukkan bahwa iblis takut akan Tuhan. Iblis akan lari ketika diusir dalam nama Yesus. Otoritas dari Yesus Kristus akan membakar iblis yang bersemayam ditubuh seseorang. Orang yang dapat memakai otoritas ini adalah orang yang percaya dan takut akan Tuhan (bnd. Yak. 4:7).[13]

Derek Prince memaparkan langkah-langkah untuk persiapan dan pengusiran setan sebagai berikut yakni:[14]

  1. Menyatakan secara pribadi iman kepada Kristus
  2. Merendahkan diri kepada Kristus
  3. Mengakui dosa yang pernah diperbuat di hadapan Tuhan
  4. Bertobat dari semua dosa
  5. Mengampuni orang bersalah kepada kita
  6. Memutuskan hubungan dengan semua bentuk okultisme dan agama palsu
  7. Mempersiapkan diri untuk dilepaskan dari semua kutuk dalam kehidupan
  8. Berpihak kepada Tuhan
  9. Melakukan pengusiran

Setelah melakukan pengusiran setan, maka ucapkanlah syukur kepada Tuhan Yesus yang telah membebaskan dari belenggu setan. Tetapi hal yang sangat penting untuk diingat bahwa iblis tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan kembali dengan pasukan yang lebih besar untuk menaklukkan manusia itu. Hal inilah yang perlu diantisipasi. Manusia yang telah terlepas dari belenggu kuasa gelap akan hadir seperti rumah yang telah diperbaharui. Rumah ini bersih, rapi dan teratur. Tatanan bersih, rapi dan teratur tentulah baik, namun dari hal ini masih ada yang kurang yakni tuan rumah yang baik agar rumah itu tetap dijaga dengan kondisi seperti itu. Siapa tuan rumah yang baik? Manusia secara pribadi tentu tidak akan mampu untuk menjadi tuan rumah yang baik. Oleh karena itu, kita perlu menyediakan singgahsana yang agung untuk Dia dan mengundangNya hadir di dalam kita. Yesus Kristus adalah Tuan rumah yang baik yang menjaga rumah tetap bersih, rapi dan teratur. Sehingga jika orang yang pernah kesurupan dan telah dilepaskan ataupun setiap orang percaya harus senantiasa melakukan doa dan puasa sebagai wujud terimakasihnya kepada Tuhan[15].

Biasanya orang yang telah mendapat pelayanan pelepasan akan menjadi hamba Allah “agen Roh Kudus” untuk kembali membantu orang yang sakit karena kuasa gelap dalam menengking setan.

  1. Kesimpulan

Dari permaparan mengenai kuasa gelap dan manifestasinya terhadap manusia membuktikan bahwa seseorang bisa menderita gangguan penyakit diakibatkan oleh kuasa gelap. Tujuan utama dari penderitaan yang dilakukan oleh iblis itu adalah untuk memisahkan manusia dari Yesus. Setiap orang mempunyai kemungkinan untuk menderita oleh karena kuasa gelap bila orang tersebut membuka cela (dosa) bagi kuasa gelap untuk masuk. Namun bagi orang kristen yang mempunyai kepercayaan total akan anugrah keselamatan dari Tuhan, hal ini akan menjadi mentah tanpa pengaruh.

Orang percaya diberi kuasa untuk melakukan pengusiran terhadap roh-roh jahat demi NamaNya. Otoritas Yesus Kristus adalah anugrah dan perintah bagi setiap orang percaya. Untuk itu, yang menjadi petanyaan pada kita. Maukah kita dipakaiNya untuk melayani DIA dalam melakukan pengusiran akan kuasa kegelapan?

DAFTAR PUSTAKA

Bevere, John, Menutup Pintu Masuk Iblis, t.t.p. Light Publishing, 2008.

Julianto Simanjutak, Konseling Gangguan Jiwa dan Okultisme, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Umum, 2008.

L.Tobing, M. Victor, Menyingkap Strategi Musuh, Medan, Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2006

Lim, Leslie & Koh, Douglas, Mental Illness or Demonisation, Yogyakarta, Andi, 2009

Pondsius dan Takaliuang, Susanna, Antara kuasa gelap dan kuasa terang, Jawa Timur, Departemen Literatur, 2004.

Prince, Derek, Lucifer Exposed, t.t.p., Derek Prince Ministries Indonesia, 2007.

………………….., Mereka akan mengusir Setan-setan. t.t.p.: Derek Prince Ministries Indonesia 2004

Tony, Daud, Dunia Ajaran Sesat, Jakarta, Bethlehem Publiser, 2006

………………, Dunia Roh Jahat, Jakarta: Bethlehem Publiser, 2006


[1] Pondsius dan Susanna Takaliuang, Antara kuasa gelap dan kuasa terang, Jawa Timur: Departemen Literatur, 2004, hlm.xvi

[2] M. Victor L.Tobing, Menyingkap Strategi Musuh, Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2006, hlm. 33-34

[3] Derek Prince, Lusifer Exposed, t.t.p.: Derek Prince Ministries Indonesia, 2007, hlm. 4-12

[4] Leslie Lim & Douglas Koh, Mental Illness or Demonisation, Yogyakarta: Andi, 2009, hlm. 16-17

[5] Pondsius dan Susanna Takaliuang, Op.Cit., hlm. 301-302.

[6] Lislie Lim dan Douglas Koh, Op.Cit.,  hlm. 197-212

[7] Lislie Lim dan Douglas Koh, Op.Cit., hlm. 1-3

[8] Daud Tony, Dunia Ajaran Sesat, Jakarta: Bethlehem Publiser, 2006, hlm 32-41

[9] Pondsius dan Susanna Takaliuang, Op.Cit.,  hlm. 299-303

[10] Julianto Simanjutak, Konseling Gangguan Jiwa dan Okultisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 2008, hlm. 66

[11] Daud Tony, Dunia Roh Jahat, Jakarta: Bethlehem Publiser, 2006, hlm. 22-25

[12] Julianto Simanjuntak, Op.Cit., hlm 67-79

[13] Daud Tony, Dunia Roh Jahat… hlm. 10-13

[14] Derek Prince, Mereka akan mengusir Setan-setan. t.t.p.: Derek Prince Ministries Indonesia 2004 ,hlm. 301-302

[15] John Bevere, Menutup Pintu Masuk Iblis, t.t.p. Light Publishing, 2008, hlm. 104-106

Nama                          : Nico Sibarani dan Budieli Hia                               (18 Mei 2010)

M. Kuliah                     : Pengembalaan Orang Bermasalah Khusus

Dosen Pengampu       : Pdt. Jaharianson, S.Th, M.Sc, Ph.D

HUKUM & KEADILAN

HUKUM DAN KEADILAN

DITINJAU DARI PERSPEKTIF KEKRISTENAN

 

Pendahuluan

Tegak hukum setegak-tegaknya, adil dan makmur tak pandang bulu… itulah cuplikan suara hati anak negeri (Iwan Fals) untuk menyatakan keprihatinannya dengan proses penegakkan hukum di negeri ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah: ada apa dengan “hukum” di negara hukum? bagaimana penerapannya? Apakah “keadilan” itu sudah adil? Apakah hukum dan keadilan berjalan beriringan? Dan masih banyak pertanyaan yang lain yang menumpuk yang membutuhkan jawaban dari lubuk hati yang paling dalam.

Ketika kita memperhatikan perkembangan di negara kita akhir-akhir ini, kita bisa melihat bagaimana pelaksanaan hukum yang semakin carut-marut. Ketidakpastian itulah yang bisa menjadi kesimpulan kita. Hukum hanyalah berpihak kepada kaum kaya yang bisa membeli lembaga peradilan yang diharapkan menjadi panutan untuk menjaga agar pelaksanaan hukum itu bisa ditegakkan dengan adil.

 

Hukum dan Keadilan dalam PL

Untuk menata kehidupan umat manusia, Allah memberikan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. Dalam Alkitab kita melihat Tuhan memberikan Hukum Taurat bagi bangsa Israel dengan tujuan agar kehidupan merea sebagai suatu bangsa dapat tertata rapi. Dalam setiap hukum yang diberikan oleh Tuhan, di situ terkandung nilai-nilai keadilan. Hukum dan keadilan berjalan beriringan. Hukum tanpa keadilan adalah alat penindasan dan alat ketidakadilan. Keadilan tanpa hukum adalah tirani dan kesewenang-wenangan. Ketika Allah memberikan hukum-Nya kepada Israel, ia sekaligus memberikan hukum bersama keadilan, karena hukum dan keadilan adalah hakikat dari Taurat-Nya.

 

Hukum dan Kasih menurut Yesus

Yesus dalam pengajaranNya juga menegaskan untuk melaksanakan hukum-hukum yang telah diitetapkan oleh Allah. Ia mengatakan bahwa ia datang bukan untuk meniadakan hukum tetapi untuk menggenapinya (lih. Mat 5:7). Bahkan ia menyimpulkan dan memberi penekanan yang sangat penting dalam hukum itu yang dikenal dengan hukum kasih. Ia mengatakan bahwa inti dari hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama (lih Mat 22:37-39).

Yesus juga menegakkan hukum itu. Dalam hukum, orang yang bersalah harus dihukum. Manusia sudah melanggar hukum, oleh karenanya harus dihukum. Sebagai Raja yang adil, Ia harus melaksanakan hukum dan menegakkan keadilan. Namun, dalam pelaksanaan hukum dan keadilan itu sekaligus harus menampakkan kasih. Ia sangat mengasihi manusia, sehingga oleh karenanya Ia sendiri yang memikul hukuman manusia atas dosa-dosa manusia, agar mereka beroleh hidup yang kekal.

 

Taatilah Hukum dan Tegakkanlah Keadilan

Hukum dan keadilan adalah prasyarat hidup manusia secara pribadi maupun kolektif. Tanpa hukum dan keadilan masyarakat akan menjadi kacau, tirani akan merajalela, kejahatan akan berkuasa, dan kemanusiaan merosot tajam menempatkan kehidupan dalam bayang-bayang maut. Suatu kelompok, masyarakat, ataupun bangsa yang hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan mau tidak mau harus memperhatikan hukum dan keadilan.

Dalam Yesaya 56:1-2a dikatakan: Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, ….Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya:”. Nas ini memberitahukan bahwa Tuhan sendiri memanggil manusia untuk mentaati hukum dan menegakkan keadilan.

Panggilan untuk menaati hukum dan menegakkan keadilan juga berari panggilan untuk benar dalam masyarakat, yakni bertindak berdasarkan hukum dalam memperjuangkan keadilan. Panggilan ini adalah panggilan semua orang dalam masyarakat dan bangsa, panggilan orang per orang secara pribadi, keluarga, kaum dan masyarakat. Orangtua harus mengajarkan nilai-nilai hukum dan keadilan sejak dini kepada anak-anaknya, dan menjadi teladan bagi mereka dalam hal itu. Sebab panggilan ini adalah panggilan orang percaya.

 

Penutup

Hukum diberikan dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat, sehingga masyarakat bisa hidup tenang dan damai. Hukum harus bisa memberi kepastian bagi masyarakat. Hukum bukanlah alat untuk menutup mulut orang-orang yang menyatakan kebenaran, tetapi hukum menjadi payung pelindung bagi masyarakat untuk menyuarakan kebenaran. Dengan ditegakkan hukum setegak-tegaknya tanpa pandang bulu dan tetap memperhatikan nilai-nilai keadilan, maka masyarakat adil dan makmur akan segera terwujud.

 

 

 

Bahan Bacaan

Gruchi, Jhon W.de, Agama Kristen dan Demokrasi, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2003

Mawene, Marthinus Th., Teologi Kemerdekaan, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004

Sindunata, Sakitnya Melahirkan Demokrasi, Yogyakarta, Kanisius, 2000

Tinambunan, Victor, Menjadi Gereja Pro-Kehidupan, Gunungsitoli, STT BNKP Sundermann, 2004

Medan, 31 Mei 2010

Pdt. Budieli Hia, S.Th

Mahasiswa Pascasarjana STT Abdi Sabda

 

BERGEMBIRA DALAM PEKERJAAN

BERGEMBIRA DALAM PEKERJAAN Pkh. 3:22a “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya.” Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terkasih dalam nama Yesus.. tak terasa kita telah satu bulan lebih memasuki tahun yang baru. Banyak yang baru. Contohnya saja, saya secara pribadi banyak yang baru berjumpa dengan bapak-bapak, mungkin juga dalam kegiatan pelayanan gereja banyak yang baru dimulai walaupun sudah bulan Februari. Jadi karena ini masih suasana Tahun baru maka tidak salah kalau saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Bapak-ibu yang kekasih…kalau kita memperhatikan kejadian akhir-akhir ini, ada banyak kisah yang membuat hati kitabertanya: “mengapa bisa terjadi?” peristiwa yang saya maksudkan adalah: ada banyak kejadian bunuh diri, terjun dari gedung tinggi. Yang anehnya kalau dulu orang kalau mau bunuh diri maka mereka mencari temppat yang sunyi, dan menggantung diri, dsb. Sekarang yang terjadi adalah banyak kasus bunuh diri dilakukan dimuka umum sehingga banyak yang melihatnya. Ada yang memanjat menara, ada yang terjun bebas dari gedung bertingkat, di mal-mal, dan sebagainya. Selain itu banyak juga yang mengalami depresi, stres baik di taraf rendah maupun ditaraf yang lebih tinggi. Yang menjadi pertanyaan: “apa yang membuat hal ini terjadi?” Dari berbagai peristiwa di atas, beberapa para ahli setelah meneliti orang-orang yang gagal bunuh diri, mereka mengatakan bahwa itu terjadi karena banyaknya beban pikiran. Bahwa lebih jauh para ahli mengatakan bahwa semua orang berpotensi untuk bunuh diri. Buktinya…ketika kita banyak beban apakah karena utang, apakah karena masalah keluarga, apakah karena anak-anak, apakah masalah di tempat kerja, dsb, kita bisa saja terpikir….ah lebih baik saja saya tidak ada di bumi ini? Namun untung saja akal sehat kita masih tetap bekerja sehingga kita masih ada sampai saat ini. Ada apa dengan manusia? Kebutuhan manusia semakin banyak dan menuntut pemenuhannya. Di luar kebutuhan juga ada banyak iklan-iklan yang menawarkan produknya dan “memaksa” kita seolah-olah itu adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, atau untuk menambah gaya, meningkatkan nama baik, dsb. Kalau kita tidak bijak maka kita bisa terjerumus untuk jatuh pada apa yang disebut Konsumerisme. Kecanduan membeli yang tidak menjadi kebutuhan. Dengan semakin banyak kebutuhan itu, maka manusia berusaha untuk memenuhinya. Apa yang harus dipenuhi? Jawabannya adalah: “kebutuhan” atau lebih tepatnya “keinginan” manusia. Untuk apa itu semua? Ya agar bisa bahagia. Lalu kapan itu semua bisa terpenuhi?…….. Untuk bisa memenuhi itu semua maka yang dilakukan manusia adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Pagi jam 4 manusia sudah mulai bekerja dan baru berhenti sampai jam 12 malam bahkan ada yang lebih. Ada yang hanya memiliki waktu tidur hanya 2 jam tiap malam. Wah… apa tidak capek? Apa tidak stress? Untuk apa semua itu? Kapan manusia itu bisa berbahagia. Saking padatnya jadwal kerja manusia, ada saja, walau satu rumah, namun syukur kalau ketemu sekali seminggu. Mungkin kita berkata: ah mana mungkin itu terjadi pendeta? Ah pendeta ini mengada-ada, masak tinggal satu rumah tapi susah sekali ketemu. Bapak ibu ada satu orang bapak mengatakan kepada saya: pendeta, saya itu jarang bertemu dengan anak-anak saya, saya baru pulang kerja pukul 12 malam dan anak-anak saya sudah tidur, dan saya bangun jam 7.30, anak-anak saya sudah berangkat kerja. Lalu yang jadi pertanyaan: untuk apa semua yang dikerjakan itu? Katanya, ya..untuk kebahagiaanku. Untu kebahagiaan anak-anakku. Yang jadi pertanyaan: kalau hidup ini hanya untuk bekerja, lalu kapan aku bisa bahagia? Kapan aku bisa bergembira? Salah satu yang membuat manusia stres adalah: karena kehilangan kegembiraan. Tidak ada keceriaan. Tidak ada waktu untuk bergembira. Kenapa? Karena yang ada dipikiran hanyalah pekerjaan. Pekerjaan itu menjadi beban dan hidupnya hanya untuk kerja. Bapak ibu yang dikasihi Tuhan, saya tidak mengatakan bahwa bekerja itu salah. Malah Tuhan sendiri mengatakan : SI LÕ MOHALÕWÕ BA BÕI YA MANGA. Jadi bekerja itu perlu dan penting. Bagaimana manusia bisa meraih cita-citanya, bisa mewujudkan mimpinya kalau ia tidak bekerja. Itu sama saja seperti BURUNG PUNGUK MERINDUKAN BULAN. Cita-cita tingggi, mimpi luar biasa, tetapi tidak mau kerja, tidak mau berusaha. Kalau begitu…apakah sepanjang hidup ini harus bekerja? Jawabannya adalah Ya. Kenapa? Karena sepanjang hidup ini kita memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau begitu kapan kita punya waktu untuk bergembira. Bapak ibu yang terkasih dalan nama Yesus,…orang yang mengalami stres, depresi atau bunuh diri adalah orang yang tidak punya waktu untuk bergembira dalam hidupnya. Yang ada setiap saat adalah beban hidup yang terus menerus dipikulnya. Beban hidup itu semakin lama semakin menghimpitnya. Beban hidup sebagai keluarga, beban hidup untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, beban hidup dalam pekerjaan, dsb. Banyak sekali beban hidup yang dimiliki manusia ibaratnya ada seutas tali bernama BEBAN HIDUP, diikatkan ke leher, kita ditarik ke belakang oleh beban hidup masa lalu, di tarik ke depan oleh beban hidup masa depan, dan ditambah lagi di himpit oleh tumpukan beban hidp masa sekarang. Karena begitu banyaknya beban yang menghimpit kehidupannya, maka ia memikirkan bagaimana cara yang cepat untuk melepaskan beban yang terus menghimpit ini. Akhirnya JALAN PINTAS DIANGGAP PANTAS. TANYA KENAPA, TANYA KENAPA? Bapak ibu yang kekasih penulis kitab Pengkhotbah sudah mengetahui bahwa sepanjang hidup manusia harus bekerja. Bahkan ia mengatakan bahwa dalam pekerjaan itu ada kebahagiaan. Wah luar biasa bapak-ibu…dalam pekrjaan ada kebahagiaan. Apa yang selama ini dicari oleh manusia ternyata hanya ditemui bila ia bekerja. Lalu kenapa kita tidak mengalaminya? Itu karena kita tidak bergembira dalam pekerjaan itu. Mengapa kita tidak bergembira? Karena kita tidak tahu untuk apa kita bekerja. Bekerja itu apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan? Jawabannya.. tidak… lebih daripada itu bapak-ibu…lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan hidup…karena di dalam pekerjaan iitu ada KEBAHAGIAAN KITA. Bekerja itu sangat perlu, karena dengan bekerja selain kita bisa memenuhi kebutuhan kita, juga melalui pekerjaan kita menjadi kesaksian. Kita memberitakan kasih Tuhan…melalui pekerjaan kita bisa melakukan yang terbaik, melalui pekerjaan itu kita memuji Tuhan…intinya: PEKERJAAN ITU ADALAH IBADAH kita. Jadi jangan main-main dengan pekerjaan. Sekecil apapun pekerjaan kita, bahkan sehina apapun pekerjaan kita…itu untuk memuji Tuhan. Oleh karena pekerjaan itu adalah untuk memuji nama Tuhan, maka sebagai orang percaya kita harus hati-hati dalam memilih pekerjaan.. kenapa? Mencuri itu bekrja lho, mengedarkan shabu-shabu itu bekerja, dsb. Tetapi apakah itu menjadi kemuliaan nama Tuhan? Selain itu sekalipun itu pekerjaan kita bagus apakah itu sebagai Pegawai Negeri, sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pedagang, dsb, namun bila kita ridak mengerjakannya dengan baik apakah itu menjadi kemuliaan Tuhan? Kalau dalam pekerjaan kita kita korupsi, atau kita tidak jujur melaksanakannya, apa kata dunia? Dunia akan berkata: begitukah orang Kristen itu? I a zitenga õ nia. Makan apa yang bukan haknya. Sekalipun itu adalah hak kita, namun kalau kita tidak jujur dalam mengerjakan pekerjaan kita, maka kita tidak layak mendapatkan upah tersebut. Pengkhotbah mengatakan: bergembiralah dalam pekerjaanmu. Apa kunci untuk bisa bergembira dalam pekerjaan? Ada seorang Pastor di Sirombu ketika terjadi tsunami tahun 2005 yang lalu, saya menemui dia. Ia sedang memasukkan ikan kering (i’a kilo, i’a sokõli, dsb) ke dalam kertas. Ia terlihat sangat bahagia mengerjakannya. Pastor ini sudah lama sekali di Sirombu bahkan ketika saya masih SD saya sudah melihat pastor ini. Saya bertanya ke dia: “pastor, saya dari kecil saya melihat pastorr sudah di Nias ini secara khusus di Paroki Sirombu ini. Apa yang membuat anda betah di sini?. Jawabannya sungguh mengejutkan hati saya, ia mengatakan: “begitulah kalau orang sudah jatuh cinta”. Saya bingung dan berkata dalam hati: ah pastor ini bercanda, masak pastor jatuh cinta. Apa kata dunia? . lalu saya bertanya ke dia: maksudnya pastor? Ia menjawab: saya sudah jatuh cinta dengan Nias, saya sudah jatuh cinta dengan pekerjaan saya, bahkan apa yang saya lakukan ini adalah wujud dari cinta saya. Wah luar biasa…. Ternyata bapak-ibu…yang membuat kita bergembira dalam pekerjaan kita adalah ketika kita jatuh cinta dengan pekerjaan itu. Orang kalau sudah jatuh cinta, maka ia akan melakukan yang terbaik untuk cintanya. Kalau kita jatuh cinta dengan pekerjaan kita maka kita melakukan yang terbaik dengan pekerjaan kita,. Pekerjaan kita tidak lagi menjadi beban yang menghimpit malah menjadi sukacita ketika kita mengerjakannya. Pekerjaan kita tidak lagi membuat kita stres, depresi apalagi kalau sampai bunuh diri. Kenapa? Betapun beratnya pekerjaan itu, namun karena kita sudah jatuh cinta kepadanya maka kita akan melakukan pekerjaan itu dengan sukacita. Muliakanlah Tuhan Allahmu melalui pekerjaanmu. Tuhan memberkati.

Peranan SNK dalam Jemaat

PERANAN SATUA NIHA KERISO DALAM JEMAAT*

OLEH: Pdt. Budieli Hia, S.Th**

PENDAHULUAN

Hampir seluruh gereja di Indonesia mengenal apa yang disebut penatua. Gereja-gereja di Nias dan juga ONKP mengenal jabatan ini dengan istilah “Satua Niha Keriso” (SNK). Dalam jemaat-jemaat mula-mula jabatan ini sudah ada dan dipilih sendiri oleh rasul-rasul, misalnya dalam Kis. 14:23 dikatakan: “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”

Dari hal tersebut di atas, nyata bahwa penatua ini ini memiliki peranan yang sangat penting dalam jemaat sehingga jemaat semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Namun, yang menjadi pergumulan terutama bagi para penatua yang baru ditetapkan dalam jabatan tersebut adalah: apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami melakukannya? Kepada siapa kami bekerja/melayani? Bagaimana kalau kami tidak diterima? Apakah aku bisa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehingga mengakibatkan banyak di antara warga jemaat yang tidak mau bila di pilih sebagai salah seorang penatua.

Oleh karenanya pada kesempatan ini kita akan mendiskusikan bersama apa peranan kita (SNK) di tengah-tengah jemaat dan bagaimana kita melaksanakan peranan itu. Saya hanya akan memberikan beberapa pandangan sebagai dasar atau bahan diskusi kita.

JEMAAT

Sebagai pelayan, penatua harus memahami siapa yang ia layani. Tuhan mengutus penatua untuk melayani jemaat-Nya. Oleh karenanya seorang penatua harus betul-betul memahami, mengenal jemaat yang adalah kawanan domba milik Tuhan karena Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya untuk menggembalakan kawanan domba milikNya (Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21: 17).  Pemahaman dan pengenalan akan siapa yang dilayani (jemaat) sangat penting guna  pembinaan (penggembalaan) jemaat itu.

Oleh sebab itu dalam uraian ini kita akan menguraikan siapakah jemaat itu. Memang ada banyak istilah untuk memahami siapa jemaat itu, namun kita membatasi diri pada beberapa istilah saja, sebagaimana yang diuraikan oleh Abineno, yaitu:[1] Jemaat sebagai tubuh Kristus, jemaat sebagai persekutuan Roh, jemaat yang berkumpul, jemaat yang mengaku dan bersaksi, dan jemaat yang melayani.

  1. 1. JEMAAT SEBAGAI TUBUH KRISTUS

Menurut kesaksian PB jemaat adalah suatu kesatuan: suatu kesatuan antara Kristus dan orang-orang pilihanNya. Kesatuan ini dilukiskan atas rupa-rupa jalan: jemaat adalah anggota dari satu tubuh (1 Kor 12:12); anggota-anggota yang banyak itu takluk kepada satu Tuhan yang adalah kepala tubuh (Efs 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18; 2:19); jemaat adalah mempelai perempuan yang akan bersatu dengan Kristus sebagai mempelai laki-laki (Mrk 2:19; bnd Mat 22:2 dyb; 25:10 dyb; Luk 12:36; Efs 1:22 dyb); anggota-anggota jemaat adalah umatNya (1 Pet 2:9 dyb; Kol 3:12; Rm 11:2, 11 dyb); Ia adalah gedung atau bangunan dan  anggota-anggota jemaat adalah batu-batu yang hidup (1 Pet 2:5; Efs 2:20;bnd 1 Kor 3:9); Ia adalah pohon anggur dan anggota-anggota jemaat adalah carang-carangNya (Yoh 15:1 dyb); Ia adalah Gembala dan mereka adalah domba-dombaNya (Yoh 10:1 dyb), dan lain-lain.

Ungkapan yang paling jelas menyatakan kesatuan ini ialah tubuh Kristus. Ungkapan ini hanya terdapat dalam surat-surat rasul Paulus. Tubuh Kristus bukanlah suatu metafora, bukanlah suatu kiasan atau bandingan yang hanya mempunyai arti simbolis saja. Hal ini nampak dengan jelas dalam 1 Kor 10:16-17: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. Maksud Paulus dalam nas ini jelas: “dalam perjamuan Tuhan dipakai (dipecah-pecah) satu roti, dan karena semua anggota makan dari roti itu mereka menjadi satu tubuh, tubuh Kristus.” Di sini kita lihat, bahwa tubuh Kristus dalam perjamuan malam erat sekali hubungannya dengan tubuh Kritus sebagai jemaat. Siapapun juga tidak dapat menyangkal, bahwa tubuh Kristus dalam nas ini bukan hanya suatu kiasan saja.

Juga dalam 1 Kor 12:13: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka…”, dan dalam Rm 12:5: “kita yang banyak ini adalah satu tubuh dalam Kristus”, hal itu tampak dengan jelas. Dari Nas ini dan juga masih banyak nas lain, kita bisa melihat bahwa kesatuan dalam tubuh Kristus adalah suatu kesatuan baru, suatu kesatuan yang luar biasa, sebab kesatuan antara orang Yahudi dan orang Yunani, antara tuan dan hamba, hanya mungkin di dalam jemaat Yesus Kristus. Di dalam Dia berakhir segala perbedaan dan perseteruan yang memisahkan mereka.

  1. 2. JEMAAT SEBAGAI PERSEKUTUAN ROH

Sekalipun di atas telah diuraikan bahwa jemaat adalah tubuh Kristus, namun yang perlu diperjelas adalah bahwa jemaat bukan Kristus. Kesatuan ini dalam PB diistilahkan sebagai “kesatuan dalam perbedaan”. Jemaat adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah Kepala jemaat. Keduanya erat hubungan. Di dalam kesatuan itu mempunyai “diri” sendiri: ia disapa, ditegur, dinasihati, dihakimi, tetapi di dalam semuanya itu ia tidak terlepas dari Kristus. Ia berada di dalam Dia (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1). Segala sesuatu yang ia alami, ia alami di dalam Dia.

Situasi yang nampaknya seperti kontradiksi ini dalam PB tidak dipersoalkan sebagai suatu masalah, tetapi dihidupi dan disaksikan sebagai suatu kenyataan. Di situ kita bertemu dengan suatu hidup, yang dihidupi oleh manusia sendiri, tetapi yang bukan miliknya: suatu hidup yang ia terima dari Tuhan Allah dan yang ia hidupi di hadapanNya dan karena itu suatu hidup yang benar-benar adalah hidup pribadi, hidup yang bertanggungjawab. “Sekarang aku hidup, tetapi bukan aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20), kata rasul Paulus. Hidup yang kita hidup sekarang, tetapi yang bukan hidup kita sendiri ialah hidup “di dalam Roh” (Gal 5:16).

Hidup ini, seperti yang telah kita dengar tadi, mempunyai dua muka. Keduanya sama riil. Pada satu pihak kita membaca bahwa jemaat tidak berbeda dengan persekutuan-persekutuan lain di dunia; anggota-anggotanya adalah orang-orang bercacat, yang bersalah, yang berdosa. Di dalam Pbhal itu tidak disembunyikan. Malahan sebaliknya. Di situ cacat, kesalahan dan dosa itu terang-terang disebutkan. Tentang jemaat di Korintus umpamanya dikatakan bahwa anggotanya terbagi-bagi dalam golongan-golongan yang fanatik, mereka saling adu-mengadukan, di antara mereka ada yang berzinah, ada wanita-wanita yang serong jalannya, ada penyembah-penyembah berhala,ada orang-orang yang angkuh, dan lain-lain. tentang jemaat di Efesus dikatakan, bahwa hidup anggotanya tidak beres; ada yang mencuri, ada yang berdusta, ada yang berzinah, ada yang mabuk, ada yang kotor (“keji”) mulutnya, ada yang hidup di dalam percabulan, dan lain-lain. tentang jemaat Filipi kita mendapat keterangan yang sama: anggota-anggotanya tidak sehati, mereka tidak saling mengasihi, tidak saling melayani, tetapi sebaliknya, mereka berkelahi (berbantah-bantah), mereka cemburu seorang terhadap yang lain, mereka mementingkan diri sendiri, dan lain-lain. Keadaan ini kita temui dalam semua jemaat. Dan ini adalah riil. Hal ini tentu kita semua akui.

Tetapi pada pihak lain jemaat (dan anggota-anggotanya) juga disebut “bangsa yang kudus…umat dan milik Allah sendiri” (1 Pet 2:9), “tiang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15),”orang-orang kudus” (1 Kor 1:2 dll), persekutuan “yang tidak bercacat” (Efs 5:26 dyb), dan lain-lain. gambaran ini juga riil. Apa yang disebutkan di atas bukanlah suatu cita-cita yang harus dikejar dan coba dilaksanakan, tetapi suatu kenyataan (realitas): jemaat adalah (bukan: harus menjadi) tiang dan dasar kebenaran, persekutuan yang tidak bercacat, dan lain-lain. jemaat adalah kudus, karena itu ia harus hidup di dalam kekudusan (1 Ptr 1:15 dyb),  hidup dalam kebenaran (Efs 5:9), dan ia harus hidup dalam kemurnian (Flp 2:15). Pengudusan dan pembenaran jemaat bukanlah suatu peristiwa ideologis, tapi suatu kejadian yang konkrit, yang terjadi kini dan disini, artinya pada waktu kini dan di tempat ini.

Jadi yang penting, yang harus kita ingat di sini, ialah bahwa jemaat yang penuh dengan cacat, kesalahan dan dosa seperti yang kita lihat di mana-mana di dalam dunia, adalah benar-benar bangsa yang kudus, adalah benar-benar umat dan milik Allah sendiri, adalah benar-benar tiang dan dasar kebenaran, adalah benar-benar persekutuan yang tidak bercacat, adalah benar-benar rumah Allah di dalam Roh (Efs 2:21-22). Dan Roh ini bukan hanya mendorong jemaat saja untuk hidup di dalam kekudusan dan kebenaran, tetapi Ia juga menciptakan, Ia juga menantang kekudusan dan kebenaran itu. Perjungan yang berlangsung antara Roh dan kuasa-kuasa kegelapan tidak terjadi di dunia lain, tetapi di sini, di dalam jemaat dan di dalam diri tiap-tiap anggotanya (Gal 5:16, dyb)

Roh yang bekerja di dalam jemaat ialah Roh Allah, Roh Kristus. Di dalam Dia Tuhan Allah sendiri hadir di tengah-tengah jemaat. Oleh pekerjaanNya pada hari pentakosta (Kis 2) “terciptalah” ia sebagai jemaat zaman akhir: jemaat selamat (ayat 17-21; bnd. Yoel 3:28-32), jemaat Kerajaan Allah (1:6; dyb), yang dalamnya mulai berlangsung pemerintahan Yesus Kristus sebagai Tuhan jemaat dan Raja dunia.

Adanya jemaat sebagai tubuh Kristus – yang mengakuiNya sebagai Tuhan (1 Kor 12:3) dan anggota-anggotanya sebagai anak-anak angkat (Rm 8:15) – di dalam dunia ini ialah karena pekerjaan Roh. Itulah sebabnya, maka di dalam PB “tubuh” dan Roh” itu sering kita temui sebagai kata-kata yang hampir bersamaan artinya. “Dalam satu Roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor 12:3). Demikian pula dalam Efs 2:16 dan 18: “satu tubuh” dan “satu Roh” dan dalam pasal 4”4 yang menyerupai suatu pengakuan: “satu tubuh dan satu Roh, seperti yang kamu telah dipanggil di dalam satu pengharapan. Dalam Roh Kudus tubuh Krsitus mendapat realitasbta yang konkrit: ia adalah persekutuan “orang-orang rohani”.

  1. 3. JEMAAT YANG BERKUMPUL

Di atas dikatakan bahwa jemaat adalah suatu persekutuan yang konkrit, samakonkritnya dengan persekutuan-persekutuan lain di dunia ini: ia mempunyai anggota-anggota, ia mempunyai peraturan-peraturan, ia mempunyai susunan tertentu, dan lain-lain. sungguhpun demikian ia tidak dapat digolongkan pada persekutuan-persekutuan itu. Ia mempunyai ujud atau hakekat yang lain. Ia berada di dunia, tetapi ia tidak berasal daripadanya (Yoh. 17:11 dyb)

Hal itu tidak berarti, bahwa ia tidakada sangkut-pautnya dengan dunia ini. Malahan sebaliknya.justru karena dunia inilah ia ditempatkan Tuhan di dalamnya. Karena itu ia tidak dapat melarikan diri dari sana, tanpa mengkhianati tugasnya itu dan menyangkali pemerintahan Kristus sebagai Tuhan jemaat dan Raja dunia.

Menurut PB jemaat sebagai tubuh Kristus bukan saja berada di mana-mana – “diseluruh alam” (Efs 1:23) – seperti yang telah kita dengar, tetapi ia juga terdapat di suatu tempat tertentu, misalnya: jemaat di Korintus (1 Kor 1:2), jemaat di Laodikea (Kol 4:16), jemaat di Tesalonika (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1), jemaat di rumah Akwila dan Priskila (Rm 16:5; 1 Kor 16:19), jemaat di rumah Nimphas (Kol 4:15), dan lain-lain. Sesuai dengan itu jemaat-jemaat yang terdapat di suatu daerah (wilayah) kadang-kadang disebut dalam bentuk jamak, misalnya: jemaat-jemaat di Asia (1 Kor 16:19), jemaat-jemaat di Galatia (1 Kor 16:1, Gal 4:2), jemaat-jemaat di Makedonia (2 Kor 8:1), jemaat-jemaat di Yudea (Gal 1:22, 1 Tes 2:14), dan lain-lain. di samping itu jemaat-jemaat yang banyak itu kadang-kadang juga disebut dalam bentuk tunggal, misalnya jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria (Kis 9:31), jemaat yang disiksa oleh Saulus (Gal 1:13; 1 Kor 15:9; Flp 3:6), maksudnya bukan satu jemaat tertentu, tetapi jemaat Allah, seperti yang terdapat di mana-mana.

Jemaat-jemaat di atas mempunyai hubungan yang erat satu sama lain. jemaat-jemaat itu merupakan suatu keluarga besar, tetapi dalam keluarga itu tidak terdapat pengertian-pengertia seperi bagian, cabang, jumlah atau gabungan. Jemaat-jemaat ini adalah “jemaat Allah”, sebagai orang-orang “yang dikuduskan di dalam Yesus Kristus” (1 Kor 1:2, dll) ia tidak berasal dari dunia ini. Ia nampak di suatu tempat yang tertentu, tetapi ujud atau hakekatnya ia terima dari dunia lain. ia adalah jemaat yang hidup di bawah janji Kristus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Jemaat ialah di mana orang-orang datang berkumpul dalam nama Yesus Kristus, atau seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, di mana mereka berseru kepadaNya (1 Kor 1:2)

Ditinjau dari sudut ke-konkritan jemaat yang berlangsung dalam waktu dan ruang sangat penting. Kita jangan memperhatikan saja bagian yang kedua dari Mat 18:20, yaitu janji Kristus, tetapi juga bagian pertama: kehadiranNya di dalam jemaat. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, artinya: di tiap-tiap tempat, “di mana Firman dan perbuatanNya, hidup dan kematianNya mereka beritakan”, Yesus Kristus “yang memenuhi segala sesuatu” (Efs 1:23), yang kepadaNya telah diserahkan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat 28:18), hadir bersama-sama dengan mereka. Ia hadir dan berfirman, mereka berkumpul dan menjawab. Ia hadir dan mengampuni, mereka berkumpul dan memuji namaNya.

  1. 4. JEMAAT YANG MENGAKU DAN BERSAKSI

Tadi telah diuraikan bahwa jemaat itu bukanlah persekutuan yang statis tetapi yang dinamis. Di sana bukan saja berkumpul anggota-anggota jemaat. Tetapi Kristus hadir bersama-sama dengan mereka. Ia hadir sebagai Tuhan. Ia hadir dan berfirman dan Ia menghendaki supaya mereka memberi jawa kepadaNya.

Jawab seperti itu jemaat berikan dalam rupa-rupa bentuk: dalambentuk pengakuan, dalam bentuk doa, dalam bentuk pengucapan syukur, dalam bentuk puji-pujian, dan lain-lain. dari semua bentuk ini pengakuan (dan kesaksian) yang paling sentral: ia terdapat dalam doa, pengucapan syukur, puji-pujian, bahkan ia terdapat dalam segala pelayanan jemaat. Itulah sebabnya, maka dalam PB ia memainkan peranan yang sangat penting,sekalipun kata “pengakuan” tidak sering kita temui di sana. Jemaat tidak dapat kita pikirkan tanpapengakuan. Ia ada sebab dan seberapa jauh ia mengaku.

Pengakuan jemaat bukanlah uraian tentang pikiran atau pandangan sendiri. pengakuan itu, seperti yang telah dikatatakan di atas,adalah jawab: jawab atas Firman dan perbuatan Allah. Pengakuan yang demikian tidak dapat diucapkan begitu saja. Ia hanya mungkin oleh percaya. Tanpa percaya jemaat tidak dapat mengaku. Hal ini nampak dalam jelas dalam Rm 10:9-10: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”. Juga dalam II Kor 4:13: di sana dikatakan, bahwa pengakuan dan pemberitaan timbul dari percaya.

Tetapi percaya itu, seperti yang telah berulang-ulang kita dengar, bukanlah prestasi, bukanlah hasil usaha jemaat. Ia adalah kurnia Allah. Ia diciptakan oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam hati anggota-anggota jemaat (bnd. Rm 8-26,15,16). Tanpa pekerjaan Roh Kudus jemaat tidak dapat percaya dan karena itu tidak dapat juga mengaku: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengaku “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1 Kor 12:3).

Jemaat terpanggil, bukan saja untuk mengaku, tetapi juga untuk bersaksi, karena Tuhan menghendaki, supaya semua orang beroleh keselamatan (1 Tim 2:4). Untuk tugas itu Ia memberikan  kuasa (Mat 10:1; Mrk 6:7; Luk 9:7; Kol 1:29) dan RohNya (Kis 2; 1 Kor 12:3 dyb; 2 Tim 1:14) kepadanya. Di dalam RohNya itu Ia ada bersama-sama dengan dia (Mat 28:20). Ia memimpin dan menguatkannya di dalam penyaksiannya (1 Kor 2:13), malahan Ia sendiri berkata-kata (=bersaksi) menggantikannya (Mat. 10:19,20; Luk 12:11,12).

Menurut kesaksian PB bersaksi adalah suatu pelayanan yang sukar, suatu pelayanan yang meminta penderitaan dan korban. Kepada murid-muridNya yang Ia utus untuk pelayanan itu Tuhan Yesus katakan, bahwa mereka akan hidup sebagai domba di antara serigala-serigala (Mat 10:16), bahwa mereka akan dibenci oleh semua orang (ay 22), juga oleh kaum keluarganya sendiri, bahkan mereka akan disiksa (ay 23), bahwa mereka akan diserahkan kepada pemerintah, raja-raja, dan majelis-majelis pengadilan, malahan mereka akan disiksa dan menderita snegsara karena namaNya (ay 17, 18)

Berhubung dengan itu banyak anggota jemaat tidak akan setia. Mereka akan murtad. Dalam khotbah pengutusan di atas Tuhan Yesus juga telah mengatakan hal itu. Sungguhpun demikian JemaatNya tidak akan musnah. Sebab jatuh-bangunnya jemaat tidak bergantung kepada kesetiaan atau ketidak-setiaan anggota-anggotanya. Jemaat berada di dalam Allah Bapa dan Yesus Kristus (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1). Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah dasarnya.oleh karena itu tidak ada suatu kuasapun di dunia ini yang dapat mengalahkannya, gerbang-gerbang kerajaan mautpun tidak! (Mat 16:19).

Penyaksian jemaat berlangsung di dalam dunia, di antara orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus dan yang karena itu belum menjadi anggota jemaat (gereja)-Nya: mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis 1;8; bnd Mat 24:14). Dalam Mat 18:19 orang-orang yang belum percaya kepada Yesus disebut “segala bangsa”. Segala bangsa dalam hal ini adalah semua manusia di dalam dunia.

  1. 5. JEMAAT YANG MELAYANI

Jemaat dalam pelayanannya (pengakuan dan kesaksian) tidak terbatas pada sekedar kata-kata saja. Lebih daripada itu harus diteruskan dengan pelayanan dengan perbuata. Kedua hal ini (perkataan dan perbuatan) mempunyai kaitan/ hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Hal ini sesuai dengan ujud (hakekat) Firman Allah. Dalam PL Firman Allah bukan hanya perkataan saja, tetapi  juga perbuatan: “Ia berfirman, maka semuanya jadi. Ia bertitah, maka semuanya ada” (Mzm 33:9; Kej 1:3). Firman Allah adalah Firman Perbuatan. Kesaksian ini kita dapati juga dalam PB.Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi daging, bukan saja melayani dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan. Dalam pelayananNya ke dua hal ini erat bersatu: perkataanNya adalah perbuatan dan perbuatanNya adalah perkataan.

Pelayanan ini – dengan perkataan dan perbuatan – ditegaskan oleh Kristus kepada anggota-anggota jemaatNya. Mereka harus melayani menurut pola, yang  Ia berikan kepada mereka, yaitu pola hidupNya sendiri, pola hidup pelayan (Rm 15:8), pola hidup hamba Allah (flp 2:7): “barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada.” (Luk 22:27; Yoh 12:16).

Pelayanan (diakonia) ini bukan pekerjaan moral. Ia juga bukan pekerjaan amal. Pelayanan dalam PB mempunyai arti yang lebih dalam: ia adalah partisipasi sesungguhnya di dalam kepapaan dan penderitaan manusia. Seperti yang dibuat oleh Yesus “yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongka diriNya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. (Flp 2:6-8). Oleh kematianNya itu Ia masuk sampai ke dasar eksistensi manusia dengan segala dosa dan penderitanNya.

Dalam Yoh 13:15, sesudah Ia mencuci kaki (merendahkan diri dan melayani) murid-muridNya, Ia berkata kepada mereka: “Aku telah memberikan suatu contoh kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Aku buat terhadap kamu”. Yang Ia maksudkan di sini dengan “contoh” bukanlah pekerjaan susila yang harus mereka tiru, tetapi “undangan” untuk menerima pola hidupNya: pola hidup pelayan, pola hamba.

Aspek lain yang harus dilakukan jemaat yang merupakan aspek khusus dari panggilan jemaat, yaitu pelayanan  kepada dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang istimewa membutuhkan bantuan: orang-orang miskin, orang-orang sakit, orang-orang hukuman, orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dalam Rm 12:7 diakonia dalam arti ini, yaitu suatu karunia atau kharisma khusus yang berbeda dengan karunia nubuat, karunia pengajaran, karunia pimpinan dan lain-lain.

Pelayanan ini harus jemaat berikan bukan saja kepada anggota-anggotanya, tetapi juga kepada mereka yang belum (tidak) menjadi anggotanya, sesuai dengan pola hidup Tuhannya, yang datang ke dalam dunia untuk melayani dan menyerahkan hidupNya sebagai harga tebusan bagi semua orang. Ungkapan “saudara-saudaraKu yang paling hina” (Mat 25:40) ini bukan hanya mengenai murid-murid Tuhan Yesus atau anggota-anggota jemaat saja, tetapi melingkupi semua orang yang membutuhkan bantuan – orang-orang lapar, orang-orang dahaga, orang-orang yang telanjang, orang-orang yang sakit, orang-orang hukuman, dan lain-lain – jadi juga orang kafir. Ungkapan ini sama dengan ungkapan-ungkapan lain seperti “orang-orang kecil”, “orang-orang papa”, “orang-orang miskin” yang selalu kita temui dalam kitab-kitab Injil, semua orang-orang yang rendah dan hina, tetapi yang dilindungi oleh Tuhan Allah dan yang kepadanya dijanjikan Kerajaan Sorga.

PENATUA DAN JABATANNYA[2]

  1. 1. Pengertian Jabatan

Sering terjadi kesalah pahaman atau kesalah pengertian tentang jabatan ini. Hal ini disebabkan karena kita selalu berhadapan dengan dunia sekuler, sehingga kita tidak bisa membedakan jabatan dalam pengertian gerejani dengan jabatan dalam masyarakat atau dalam pemerintahan. Memang jabatan ini memiliki persamaan tetapi juga memiliki perbedaan yang signifikan dalam pelaksanaannya.

Kalau demikian apakah itu jabatan dan apakah itu pemangku jabatan. Arti umum dari jabatan ialah profesi atau tugas. Jabatan dalam arti ini biasanya digunakan oleh pemerintah untuk pegawai-pegawai atau karyawan-karyawannya. Oleh penggunaan ini timbullah perbedaan antara jabatan dan profesi. Kita memilih suatu profesi. Dari kemungkinan-kemungkinan yang ada, kita memilih satu di antaranya, umpamanya: guru, atau dokter, atau perawat, dan lain-lain – sebagai profesi kita.

Tetapi kita memangku suatu jabatan berdasarkan pengangkatan. Oleh pengangkatan itu kita memperoleh suatu kewenangan yang tertentu, yang diakui orang. Jadi suatu jabatan – dalam arti ini – mempunyai suatu sifat yang tetap, yang harus memenuhi suatu lowongan. Hal itu berlaku baik bagi pejabat-pejabat pemerintah, maupun bagi pejabat-pejabat Gereja.

Atas dasar di atas, maka banyak menimbulkan kesalahpahaman, malahan kadang-kadang menimbulkan kekacauan dalam gereja. Sebab para pejabat gereja (pendeta, guru jemaat, penatua, pengurus komisi-komisi)  bukan pejabat-pejabat seperti dalam pemerintahan.

Pemangku-pemangku jabatan dalam Jemaat atau Gereja adalah hamba-hamba dari Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. kata atau istilah yang digunakan dalam PB untuk apa yang kita sebut pemangku jabatan ialah “diakonos” artinya “pelayan” dan “diakonia” artinya “pelayanan”. Nas Alkitab yang paling penting dalam hubungan ini ialah Markus 10:45, di mana Yesus mengatakan, bahwa “Ia (= Anak Manusia) bukan datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Nas ini mempunyai makna yang sangat penting bagi seluruh pelayanan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat gerejawi.

Kepada murid-muridNya Yesus katakan: “Aku berada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk 22:27). Dalam pelayananNya ia merendahkan diriNya dan taat sampa mati, bahkan sampai mati di kayu salib (bnd. Flp 2:8). Dalam kasihNya yang melayani Ia berjalan sampai ke yang paling jauh. Dan hal ini Ia gunakan sebagai “contoh” atau “teladan” bagi pengikut-pengikutNya (bnd. a.l. Yoh 13:14-15), khususnya bagi pejabat-pejabat yang melayani dalam GerejaNya. Jadi, melayani dalam arti Kitab Suci – yaitu melayani dengan seluruh penyerahan diri dalam dalam kasih, sama seperti Kristus – hanya dapat kita pelajari dari Dia. Oleh karenanya dalam menunaikan tugas pelayanan ini harus dilaksanakan dengan rendah hati.

  1. 2. Relasi antara penatua dan pejabat-pejabat lain

Penatua bukanlah satu-satunya pejabat dalam jemaat. Di situ ia melayani bersama-sama dengan pejabat-pejabat yang lain. bersama-sama mereka memelihara dan memberikan pimpinan kepada jemaat. Pejabat-pejabat yang lain itu misalnya pendeta, guru jemaat, pengurus komisi-komisi ditgaskan untuk bekerja sama dalam jemaat. Oleh karenanya mereka dapat saling membantu dan saling mengisi. Benar, bidang pelayanan mereka tidak sama; ada yang berfungsi di bidang pemberitaan, adang di bidang penggembalaan, ada yang di bidang diakonia, dan lain-lain. tetapi pelayanan yang mereka lakukan itu saling berhubungan. Karena itu mereka tidak dapat melakukan pelayanan mereka sendiri-sendiri, tanpa menghiraukan apa yang dikerjakan oleh pejabat-pejabat lain.

  • Urutan, yang biasa digunakan untuk menyebut pejabat-pejabat kita ialah: pendeta, Guru Jemaat, penatua, dan komisi-komisi. Urutan ini bukan urutan tingkat atau derajat, seperti yang terdapat dalam gereja Katolik Roma.
  • Urutan ini juga bukan urutan fungsional, seperti yang terdapat dalam pemerintah: di situ terdapat pejabat tinggi, pejabat menengah dan pejabat rendah. Pejabat-pejabat gerejawi bukan pegawai-pegawai atau karyawan-karyawan. Karena itu mereka tidak dapat dibagi atau diatur demikian.
  • Penatua tidak lebih rendah dari pada pendeta dan guru jemaat dan tidak lebih tinggi daripada pengurus komisi-komisi. Mereka semua adalah Pejabat.

Jabatan-jabatan gerejawi – seperti yang kita katakan di atas – berbeda-bed, tetapi setingkat. Jabatan-jabatan gerejawi (yang berbeda-beda) itu saling melengkapi dan saling membutuhkan. Dalam 1 Kor 12 Paulus memperlihatkan, bagaimana rupa-rupa karunia Roh yang ada dapat berfungsi dalam tubuh Kristus yang satu. “mata tidak dapat katakan kepada tangan: “aku tidak membutuhkan engkau”. Dan kaki tidak dapat katakan kepada telnga: “aku tidak membutuhkan engkau”. Dan lain-lain”.

Demikian juga dengan pejabat gerejawi. Mereka tidak dapat katakan seorang kepada yang lain: “aku tidak membutuhkan engkau.” Benar, untuk pelayanan, yang ditugaskan kepada mereka masing-masing, mereka memperoleh kharisma dari Tuhan Gereja. Tetapi kharisma-kharisma itu terbatas. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang memperoleh semua kharisma, yang ia butuhkan untuk pekerjaannya, sehingga ia tidak memerlukan bantuan pejabat-pejabat yang lain.

  1. 3. Pelayanan Penatua sebagai Pejabat

Secara umum tugas penatua di tengah-tengah jemaat yaitu untuk menjaga dan memelihara Jemaat Tuhan – kawanan domba Kristus – dan mengawasi supaya tiap-tiap anggota gereja – khususnya anggota-anggota sidi – hidup menurut Firman Allah. Mereka selanjutnya ditugaskan untuk mengingatkan jemaat akan tugasnya, yaitu – supaya ia denga perkataan dan perbuatan – memberitakan Firman Allah di dunia.

Firman yang telah diberitakan kepada kita di dalam jemaat, harus tumbuh dan berbuah. Tugas penatua-penatua ialah berjalan keliling dan melihat, apakah hal itu nampak dalam hidup anggota-anggota jemaat. Pada saat peneguhan SNK telah diuraikan tugas penatua di dalam jemaat yaitu:

1)    Latolo zangombakha taroma Li Lowalangi, satua andrõ. Faoma la’ohalõwõgõigõ wamaigi-maigi banua Zo’aya fa lõ taya wamatira, fa tedou mbua-bua si sõkhi, bua-bua Niha Keriso, fa la’ata’ufi Lowalangi sifaronga fa lõ fabali ira, fa lõ fasoso-soso, fa lategu ndraono ba zi lõ sõkhi. Ba fanuturu lala khõra saekhu khõ Lowalangi; fa lõ aefa wangenanõ, awõ huku si sõkhi, ba fanenawa ngawalõ waya fefu. Bõi la’ata’ufi satua andrõ gofu haniha ia, ba bõi so ba dõdõra ena’õ la omasi’õ ira niha, ba bõi bõrõ da’õ wa lõ lategu sa’ae mbua-bua si lõ sõkhi, sinenge Lowalangi. La’oromaõ lala andrõ ba zolalõ, ba wolo’õ somasi Yesu. Ya hulõ na ifarou dõdõ nononia ama ba ina. Ya mamahaõ daroma Li ba mango’ou duma-duma ba zato, ena’õ tefosumange Lowalangi ba mbua-bua si sõkhi ba mbanua ena’õ oi nihaogõ fefu, ba ena’õ atulõ fefu hadia ia.

2)    Mohalõwõ zatua andrõ, wamaigi-maigi falõ fagua-gua ba gosali, ero na owulo ni’amoni’õ andrõ khõ Zo’aya, he ba Migu, ba he ba zekola, ba gofu manõ heza owulo mbanua Yesu, ba wamatunõ taroma Li Lowalangi, fa’a’oi ahono wamondrondrongo hadia ni’ombakha’õ ba da’õ. La hõrõ-hõrõgõi fa lõ te ta’unõi luo ni’amoni’õ andrõ khõ Zo’aya Lowalangida, ya’ia luo Migu andrõ. Ena’õ la’angenanõi wo’amoni’õ ngaluo andrõ ba wolo’õ oroisa Lowalangi. Lafarou dõdõ zatua ba we’amõi ba Migu, fa lõ tebulõ-bulõ mbanua Yesu, barõ wamaha’õ fefu.

3)    Mo’õmõ zatua andrõ, wango’oigõ tõdõra, wanolo fefu si gõna fa’abu dõdõ, gofu hadia ia. Latolo zi lõ ama ba si lõ ina awõ lakha mbanua si lõ sondrorogõ, hulõ na oroma wa talifusõra. Mohalõwõ ira wamolala tõdõ niha baero ba wanaglui fangorifi khõ Yesu  Keriso.

4)    Faoroma wamaigi-maigi ba fondrorogõ okhõta mnua niha Keriso, sebua ba side-ide, soya ba si lõ oya-oya, me no okhõta Lowalangi da’õ fefu, ba wondrou’õ banua-Nia, ba fangabõlõ zohalõwõ khõ-Nia fefu, ba wombambaya halõwõ andrõ. Bõi faruka wamini tõdõ ba falimosa. Ihõrõ-hõrõgõ sa zatulõ So;aya, ba ibe’e mbõrõ dalinga-Nia ba wangandrõra. Ba itõngõ So’aya dozi samazõkhi si lõ sõkhi, ba wangohori tõira ba gulidanõ.

Kita yakin, bahwa sebagai pejabat ia bukan saja banyak mengalami kesulitan dan kekecewaan dalam pekerjaannya, tetapi juga banyak kegembiraan, malahan mungkin lebih banyak kegembiraan daripada kesulitan dan kekecewaan.karena justru sebagai pejabat ia tahu, bahwa pekerjaan Allah – bagaimanapun banyaknya kendala dan tantangan yang ia hadapi – akan terus berlangsung “sampai pada hari Yesus Kristus” (Flp 1:6).

Sesuai dengan nasihat Paulus kepada para penatua di Efesus (Kis 20:28) para penatua kita juga diwajibkan untuk menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan domba Allah, yang dipercayakan kepada mereka. Tetapi hal itu harus mereka lakukan secara rohani. Mereka – dalam pekerjaan mereka – harus memberi diri mereka dipimpin oleh Firman dan Roh Allah. Kalau tidak demikian “penjagaan” atau “pengawasan” mereka akan melulu terdiri dari peraturan-peraturan manusia yang bersifat legalitas.

Selain dari pada tugas-tugas di atas, kepada penatua juga dipercayakan tugas pastoral. Anggota-anggota jemaat harus mereka kunjungi di tumah-rumah mereka. Bukan saja “gembala dan pengajar” (bnd Efs 4), juga penatua melakukan pekerjaan penggembalaan. Ia ditugaskan untuk “menjaga” (Kis 20:28) dan “menggembalakan” kawanan domba Allah (1 Pet 5:8).

Banyak penatua segan dan tidak mau melakukan kunjungan rumah tangga, karena mereka kuatir tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh angota-anggota jemaat yang mereka kunjungi. Tetapi apa yang mereka kuatirkan itu biasanya tidak banyak terjadi. Anggota-anggota jemaat itu umumnya telah merasa puas dan bergembira, bahwa mereka dapat berkumpul bersama-sama dengan gembala-gembala mereka di sekitar Firman Allah yang mereka bacakan.

Memang tidak boleh disangkal, bahwa tugas penatua mencakup banyak hal dan bahwa persoalan-persoalan, yang ia temui dalam pekerjaannya, tidak selalu dapat ia selesaikan sendiri. Karena itu sebaiknya kunjungan rumah tangga jangan diadakan oleh penatua sendiri saja, tetapi bersama-sama dengan pejabat yang lain, khususnya dengan seorang diaken. Sebabnya ialah, karena biasanya anggota-anggota jemaat bukan saja bergumul dengan persoalan-persoalan iman, tetapi juga dengan persoalan-persoalan yang menyangkut kebutuhan hidup mereka.

Yang paling penting bagi kita ialah pertanyaan: Apakah penatua sebagai gembala benar-benar mencintai kawanan domba Allah yang dipercayakan kepadanya dan apakah ia benar-benar setia menunaikan tugasnya? Pertanyaan ini yang diajukan kepadanya pada waktu ia diteguhkan dalam jabatannya: “Apakah anda – karena kasih kepada Kristus dan pada jemaatNya – berjanji, bahwa anda akan setia menunaikan tugas anda dalam jabatan anda?” pertanyaan ini telah dijawab: “Ya, dengan segenap hatiku”. Karena itu ia sebenarnya tidak boleh kuatir atau takut menunaikan tugas yang ia terima.

  1. 4. Tugas dan Wibawa

Wibawa adalah hak untuk mengatakan sesuatu, hak untuk memerintah,hak untuk memutuskan. Dalam gereja hanya Kristus saja yang mempunyai hak untuk itu.itulah bedanya wibawa dalam gereja dan wibawa dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Wibawa dalam gereja tidak berdasar atas perjanjian-perjanjian, yang dibuat oleh anggota-anggota Gereja antara mereka dengan mereka. Wibawa dalam Gereja berdasar atas kehendak Kristus, yang diberlakukan oleh orang-orang yang Ia gunakan sebagai pejabat-pejabat dalam pelayananNya. Untuk pekerjaan itu Ia memberikan otoritas kepada mereka.

Waktu Ia mengutus ketujuh puluh muridNya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah di kota-kota dan di tempat-tempat yang akan dikunjungiNya, Ia antara lain katakan kepada mereka: “Siapa mendegar kamu, Ia mendengarkan Aku, siapa menolak kamu, ia menolak Aku” (Luk 10:16). Jadi siapa yang mendengar mereka berbicara, ia mendengar Kristus berbicara dengan perantaraan mereka. Itu wibawa mereka, tetapi wibawa itu erat berhubungan dengan syarat, bahwa apa yang mereka katakan (= bicarakan) itu adalah FirmanNya.

Tugas, yang Kristus berikan kepada murid-muridNya, sesudah Ia bangkit, tidak hanya berlaku bagi mereka saja. Tugas itu berlaku bagi Gereja dan melalui Gereja ia secara khusus berlaku bagi pejabat-pejabat gerejawi. Dan janji  yang Ia tambahkan dalam tugas itu, sangat luas: “dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Mat 28:18-20). Dengan otoritas, yang diberikan oleh BapaNya kepadaNya, Kristus menyertai murid-muridNya – maksudnya: Ia berjalan bersama-sama dengan murid-muridNya – kalau mereka pergi memberitakana Injil kepada semua bangsa untuk menjadikan mereka murid-MuridNya.

Jadi, wibawa pejabat-pejabat tidak boleh lain daripada wibawa Firman Allah, yang mereka beritakan. Dalam perkataan lain: wibawa yang terbatas dan yang telah ditentukan normanya.

Hal ini paneting sekali diingat. Ia mengatakan kepada kita, bahwa tidak boleh ada pejabat gerejawi yang menuntut, supaa pekataannya (= keputusannya) harus ditaati tanpa syarat. Malahan ia – bersama-sama dengan jemaat – harus tunduk pada wibawa Firman Allah. Ia harus memahami berita Firman Allah dan terus menyampaikannya kepada orang lain. kalau tidak demikian ia tidak mempunyai hak untuk mengucapkan suatu perkataan yang berwibawa. Akibat daripada itu wibawa jabatannya hilang. Dan kalau hal itu terjadi, ia tidak dapat lagi mempertahankan lagi dirinya dengan “wibawa formal”, bahwa ia adalah pejabat gerejawi.

Jemaat-jemaat kita adalah jemaat-jemaat yang dewasa. Karena itu kita sebagai jemaat tidak boleh meperlakukan mereka sebagai jemaat-jemaat yang tidak atau yang belum dewasa. Dan karena itu kita masih terus-menerus saja mau memberikan bimbingan kepada mereka dengan nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk kita. Yang mereka butuhkan ialah Firman Allah sendiri, yang dapat memimpin mereka keluar dari rupa-rupa persoalan yang mereka hadapi dalam hidup dan pekerjaan mereka.kita harus hatihati bertindak, supaya kita jangan sampai menjadi halangan bagi mereka untuk berfungsi sebagai jemaat-jemaat Tuhan yang dewasa.

  1. 5. Tidak Memerintah tetapi Melayani

Dari pengalaman kita tahu, bahwa hampir semua posisi dapat disalahgunakan. Demikianlah pula halnya dengan posisi pejabat gerejawi. Pejabat gerejawi dapat mempertahankan atau membela dirinya dengan mengatakan: Saya adalah pendeta. Saya adalah guru jemaat. Saya adalah penatua. Saya adalah pengurus komisi-komisi. Kalau pejabat-pejabat gerejawi dibiarkan mengatakan atau melakukan apa saja ang mereka kehendaki, maka yang akan berlaku dalam Gereja bukan lagi Kristokrasi (Kristus yang memerintah) tetapi: pendetakrasi, sinengekrasi, Penatuakrasi.

Jabatan gerejawi tidak memberikan hak kepada kita untukmemerintah: memerintah jemaat atau saling memerintah. Tugas pejabat gereja adalah melayani. Dan melayani adalah sebaliknya daripada memerintah (Mat 20:20-28; Mrk 10:35-45). Teladan, yang diberikan Yesus kepada mereka, ialah supaya mereka seperti seorang hamba (bnd Yoh 13:1-20). Teladan ini yang harus diikuti dan dipraktikkan oleh pejabat-pejabat gerejawi dalam pekerjaan mereka. Mereka harus ingat, bahwa sebagai manusia dan sebagai orang percaya pejabat-pejabat itu tidak lebih daripada anggota-anggota jemaat yang lain. ia juga dapat berada di tengah-tengah anggota jemaat yang lain sebagai saudara. Dan sebagai saudara tidak usah semua yang ia katakan, ia harus katakan sebagai pejabat.

Pejabat gerejawi harus rendah hati. Tetapi sebagai pejabat mereka juga mempunyai hak untuk bertindak dengan jelas dan dengan berani. Mereka melakukan itu atas nama Kristus, yang mengutus mereka. Itulah tugas mereka. Yang penting ialah bukan saja, bahwa para penatua dan para pejabat gerejawi yang lain harus berkata-kata atas nama Yesus Kristus sebagai Tuhan Gereja, tetapi juga bahwa wibawa jabatan mereka juga diterima oleh jemaat. Dan hal itu sebenarnya telah terjadi, sejak mereka diteguhkan dalam jabatan mereka.

PENUTUP

Penatua-penatua – sama seperti pejabat-pejabat gerejawi yang lain – adalah manusia yang tidak sempurna. Tetapi hal itu janganlah menjadi tantangan bagi penatua untuk – dengan jujur – melayani Kristus dan jemaatNya. Dan untuk turut mengambil bagian dalam karya besar dari Kristus: karya yang mempunyai masa depan. Dalam Alkitab terdapat rupa-rupa janji bagi mereka yang banyak memberikan tenaga dan waktu untuk pekerjaan Tuhan. Karena itu kita boleh percaya, bahwa pekerjaan yang dikerjakan oleh pejabat-pejabat gerejawi karena terhadap Kristus dan jemaatNya, akan dberkati. Berdasarkan kepercayaan ini, marilah kta selalu memandang kepada Yesus Kristus, Gembala Agung itu, supaya apabila Ia datang, maka kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu (1 Pet 5:4).

Kepustakaan

Abineno, J.L.Ch.Dr., Jemaat. Ujud, peraturan, susunan, pelayanan dan pelayan-pelayannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, tt.

———————, Penatua jabatannya dan pekerjaannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Riemer. G., Jemaat Yang Hidup, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994


* Disampaikan pada saat Diskusi dengan  Satua Niha Keriso Gereja ONKP Jemaat Hiligafia, Kamis, 07 Januari  2010

** Pendeta ONKP Resort Medan

[1] Dr. J.L. Ch. Abineno, JEMAAT, Ujud, Peraturan, Susunan, Pelayanan dan Pelayan-pelayannya, Jakarta; BPK Gunung Mulia,tt, hlm. 8-31

[2] Dr. J.L.Ch. Abineno, Penatua Jabtannya dan pekerjaannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm 1-26

Sejarah ONKP Medan

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) Communion of Protestant Chistian Church pada awalnya berasal dari Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) yang memisahkan diri sejak  tanggal 16 April 1952 dan berkedudukan di Tugala Lahömi, Kecamatan Sirombu Kabupaten Nias, Propinsi Sumatera Utara. Landasan Teologi berdirinya Gereja ONKP adalah I Korintus 3: 11 yang berbunyi ”Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus”. Gereja ONKP mendapat pengesahan dengan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman RI tanggal 26 Pebruari 1953 No. J.A. 5/19/12 dan telah terdaftar sebagai lembaga keagamaan pada Departemen Agama Republik Indonesia dengan SK Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag. RI No 76 tahun 1991 tanggal 4 Maret 1991.

Pada tahun 1960, Presiden ONKP (sekarang disebut Ephorus) PKD Marundruri (A. Dasima) berkunjung ke Medan bersama DZ Marundruri (A. Suka), memimpin kebaktian keluarga jemaat ONKP yang ada di Medan bertempat di rumah bapak Solo’õ Daeli (A. Ruslan) di Jl. Asrama II No. 7 Teladan-Medan. Pada tahun 1962 dilaksanakan kembali kebaktian Gereja ONKP di rumah bapak A. Ruslan Daeli yang dipimpin langsung oleh Presiden ONKP bapak PKD Marunduri, pada kebaktian tersebut sekaligus dilaksanakan baptisan anak an. Nini Daeli & Ritul Daeli (anak dari A. Ruslan Daeli) sesuai dengan Tata Ibadah Gereja ONKP.

Pada tahun 1976 Ephorus ONKP Bapak Pdt.F. Daeli berkunjung ke Medan dalam rangka pengurusan ONKP masuk PGI Wilayah SUMUT-NAD dan pada saat itu dilaksanakan kebaktian warga jemaat ONKP sesuai dengan Tata Ibadah Gereja ONKP di rumah bapak Orudua Daeli (Perwakilan ONKP di Medan) sekaligus syukuran memasuki rumah baru. Setelah pelaksanaan kebaktian keluarga jemaat ONKP di Medan pada saat itu, maka jemaat ONKP yang ada di Medan sudah mulai memikirkan untuk mendirikan gereja ONKP walaupun pada saat itu masih berjemaat di Gereja lain, tetapi hal ini masih terkendala mengingat jumlah jemaat masih sangat sedikit dan rumah tempat tinggal berpencar.

B. Maksud & Tujuan

Adapun tujuan dan maksud dalam penulisan Sejarah Gereja ONKP Jemaat Medan dan Pos Pelayanan Martubung ini adalah:

  1. Agar warga jemaat mengetahui karya Tuhan dalam usaha mendirikan Gereja ONKP di Medan dan dalam perjuangan untuk pembangunan.
  2. Agar warga jemaat mengenal para tokoh yang dipakai oleh Tuhan yang telah berjerih lelah dalam mendirikan Gereja ONKP di Medan ini.
  3. Agar warga jemaat mengetahui pergumulan yang dihadapi oleh Gereja ONKP di Medan dan Martubung dan bagaimana karya Tuhan dalam menjawab setiap pergumulan tersebut.
  4. Agar warga jemaat belajar dari setiap proses sejarah sehingga bisa berbuat lebih baik lagi dalam melayani Tuhan.
  5. Agar warga jemaat semakin mencintai Gereja ONKP.
  1. C. Nara Sumber

Yang menjadi narasumber dalam penyusunan Sejarah Gereja ONKP Jemaat Medan dan Pos Pelayaanan Martubung ini adalah para tokoh yang terlibat langsung dalam proses penggagasan hingga berdirinya Gereja ONKP Jemaat Medan dan Pos Pelayanan Martubung. Mereka ini adalah:

1. Adieli Daeli (A.Boy)

2. Arozatulõ Daeli (A. Feri)

3. Robert Bõrõzatulõ Harefa (A. Richard)

4. Sitefano Marundruri (A. Desi)

5. Pdt.T. Zalukhu (A. Tibe)

6. Obalasi Hia (A. Zulfi)

7. Seluruh Majelis ONKP Jemaat Medan & Pos Pelayanan Martubung.

D. Metode Pengumpulan Data

Untuk mencari data-data yang valid dalam penulisan Sejarah Gereja ONKP Jemaat Medan dan Pos Pelayanan Martubung ini, dilakukan dalam 3 cara, yaitu:

  • Wawancara langsung kepada tokoh secara pribadi-pribadi yang terlibat langsung dalam pendirian dan pembangunan Gereja ONKP Medan dan Pos Pelayanan Martubung.
  • Meneliti data-data yang ada berupa surat-surat dan dokumen.
  • Hasil wawancara dan analisa dokumen tersebut dibahas lagi melalui diskusi yang dihadiri oleh Tokoh pendiri ONKP Medan, Majelis Resort, Majelis Jemaat Medan dan Majelis Pos Pelayanan Martubung pada hari Senin, 21 September 2009 yang dilaksanakan di Gereja ONKP Jemaat Medan, Jl. Kiwi III No.3 B.

BAB II

BERDIRINYA GEREJA ONKP MEDAN

A. USAHA MENGGAGAS MENDIRIKAN ONKP DI MEDAN

Awalnya dimulai ketika bapak Arozatulõ Daeli dan Bapak A. Desi Marundruri bertamu di rumah bapak A. Richard Harefa dalam satu kegiatan dalam rangka meminta sumbangan pelaksanaan pesta pembangunan gereja BNKP Jemaat Mandala. Pada pertemuan itu bapak A. Richard mencetuskan untuk mendirikan gereja ONKP di Medan karena beliau mengetahui bahwa ada fasilitas (tanah) yang diperuntukkan untuk gereja di Perumnas Mandala. Mereka bertiga berjanji untuk mewujudkan hal itu. Keesokan harinya mereka  mendata keluarga-keluarga yang mau bergabung di dalam kebaktian keluarga (sekola wangandrõ) atas nama ONKP. Kebaktian keluarga pertama dilaksanakan di rumah A. Richard Harefa di Jl. Penguin Raya III No. 73 Perumnas Mandala dihadiri 17 KK warga ONKP dan rumah tersebut dijadikan sebagai sekretariat ONKP di Medan.

Pada waktu Bapak A. Vandel Daeli datang ke Medan, ia dijumpai oleh A. Richard Harefa di Asrama Haji untuk meminta saran dalam mendirikan gereja ONKP di Medan. A. Vandel Daeli memberikan rekomondasi lisan dengan mengatakan: “silahkan kamu lakukan, kamu mulai, kamu jadikan, saya yang bertanggungjawab”. Setelah ada rekomondasi lisan dari unsur pimpinan ONKP tersebut, menambah semangat dalam melaksanakan kegiatan dan kebaktian keluarga yang terus dilakukan secara bergantian. Untuk mengkoordinir kebaktian keluarga ONKP di Perumnas Mandala-Medan, maka dihunjuk koordinator pelayanan an. SNK. Arozatulõ Daeli.

Untuk mendapatkan rekomondasi secara tertulis dari pimpinan Gereja ONKP, maka pada bulan september 1984 Ibu I. Rene Marundruri diutus menemui Pimpinan Pusat ONKP di kantor Pusat ONKP di Tugala Lahõmi meminta rekomondasi kepada Pimpinan Pusat ONKP agar dapat dilaksanakan persekutuan jemaat ONKP di Medan.

Setelah ada pertemuan BPH pada saat itu, maka BPH mengeluarkan surat rekomondasi untuk melaksanakan kebaktian atau persekutuan doa jemaat di Medan dengan Nomor 879/VIII-15/SK/IX/1984 tanggal 11 September 1984 dan menghunjuk SNK. Arozatulo Daeli (A. Feri) untuk mengkoordinir kegiatan Persekutuan Doa atau kebaktian keluarga ONKP di Medan.

Berdasarkan surat izin tersebut maka pada tanggal 14 Oktober 1984 dilaksanakan pertemuan sekaligus persekutuan doa di rumah bapak Tasõndra Marundruri (A. Rene) di Jl. Parkit II Perumnas Mandala yang dihadiri oleh 23 KK. Undangan pertemuan ini ditandatangani oleh A. Richard Harefa. Pada saat itu kebaktian ini dipimpin oleh Snk. T. Zalukhu. Selesai kebaktian dilanjutkan dengan rapat yang dipimpin oleh Bapak Orudua Daeli (A. Eta). Pertemuan ini menghasilkan dua keputusan, yaitu:

Dibentuk pengurus Persekutuan Doa

  • Ketua                                   : Arozatulõ Daeli (A. Feri)
  • Sekretaris                          : Resi Zai (A. Tuti)
  • Bendahara                         : Sitefano Marunduri (A. Desi)

Direkomondasikan pembentukan panitia pembangunan.

Untuk membentuk panitia pembangunan, maka dilaksanakan pertemuan di rumah A. Richard Harefa dengan susunan panitia inti sebagai berikut:

  • Ketua Umum                    : Adieli Daeli (A. Boy)
  • Ketua I                                                : Robert Bõrõzatulõ Harefa (A. Richard)
  • Ketua II                               : Folo’õ Maruhawa (A. Andreas)
  • Sekretarus Umum          : Adanudin Hia (A. Desri)
  • Sekretaris I                        : Eliasa Zalukhu (A. Vivi)
  • Sekretaris II                       : Martini Marundruri (I. Harapan)
  • Bendahara                         : Seti Daeli (A. Luter)

Susunan panitia pembangunan tersebut dilaporkan kepada BPH ONKP, maka oleh BPH mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan panitia pembangunan gereja ONKP Medan dengan Nomor: 1028/SK-ONKP/XII/1984.

Panitia pembangunan memulai kegiatannya dengan melaksanakan pertemuan pertama di rumah A. Richard Harefa (Sekretariat ONKP Perumnas Mandala). Sejak saat itu kegiatan pelayanan (kerohanian) mulai diintensifkan dengan melaksanakan kebaktian keluarga atau Persekutuan Doa secara bergantian 2 kali sebulan di rumah warga jemaat ONKP yang berdomisili di Medan.

Untuk mempersiapkan tenaga pelayan di Gereja ONKP (Calon SNK), maka sejak tahun 1984 dilaksanakan pembekalan kepada para calon Satua Niha Keriso yang dilaksanakan oleh A.Tibe Zalukhu.

Pada awalnya Gereja ONKP Jemaat Medan dikenal dengan nama Gereja ONKP Jemaat Mandala-Medan. Hal ini juga terlihat dalam surat-surat yang ada terlebih-lebih surat-surat dari Pemda tingkat II Deliserdang, namun pada perkembangan berikutnya nama ini berubah menjadi Gereja ONKP Jemaat Medan.

B. Usaha Pembangunan Gedung Gereja

Setelah panitia pembangunan terbentuk, maka kegiatan yang pertama adalah mencari tempat petapakan gedung gereja. Setelah didengar bahwa ada sebidang tanah di Perumnas Mandala yang diperuntukkan untuk tempat pembangunan tempat ibadah (gereja), maka panitia pembangunan mengajukan permohonan kepada Pemda Tingkat II Deli Serdang untuk mendapatkan pertapakan gedung gereja melalui surat nomor: 05/PPG/ONKP/1984 tanggal 15 Nopember 1984.

Permohonan panitia pembangunan Gereja ONKP mendapat jawaban dari Pemda Tingkat II Deli Serdang dengan menghunjuk lokasi di Jl. Kiwi III Blok XVII Perumnas Mandala melalui surat Bupati Deli Serdang, Nomor 645.8/1187 tanggal 27 Pebruari 1985. (lih. Lampiran Surat Bupati tentang Penghujukan lokasi pertapakan gereja ONKP)

Setelah keluar surat penghujukan lokasi oleh Bupati Deli Serdang, maka pada hari Sabtu, 23 Maret 1985 dilaksanakan pengukuran Kavling Pertapakan Gereja ONKP Jemaat Perumnas Mandala.  Pengukuran tanah tersebut dihadiri oleh:

  1. Edward Siagian, Suseno & Suparno. Dalam hal ini bertindak atas nama Perum Perumnas Unit Medan Denai
  2. Drs. A. Harefa dan Fikir Ginting. Dalam hal ini bertindak atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang.
  3. Adieli Daeli, Arozatulõ Daeli dan Sitefano Marundruri. Dalam hal ini bertindak atas nama Gereja ONKP.

Hasil dari pengukuran tersebut adalah:

  1. Batas pengukuran dari SD Inpres ke Rencana Gang                  : 31,10 m
  2. Batas pengukuran dari Gereja BNKP ke Pinggir sungai             : 29 m
  3. Batas pengukuran dari Rec. Gang ke SD Inpres                           : 11 m
  4. Batas pengukuran dari Pinggir sungai ke Gereja BNKP             : 40,20 m
  5. Luas Kavling                                                                                                = 682 m

Setelah mendapatkan lokasi pertapakan gedung gereja, Panitia membersihkan lokasi (dengan ditraktor) karena lokasi tersebut merupakan tempat pembuangan sampah. Selain itu pantia juga mulai mencari dana melalui sumbangan spontanitas seluruh warga ONKP di Medan.

Setelah melalui kerja keras dan pergumulan yang sangat berat, akhirnya pada tanggal 16 September 1985 dilaksanakan peletakkan batu pertama dengan dihadiri sejumlah warga jemaat ONKP di Medan dan sekitarnya.

Panitia terus bekerja keras dengan dukungan seluruh warga jemaat ONKP dan dukungan simpatisan dari berbagai pihak. Walaupun kondisi bangunan masih belum siap dengan sempurna, maka pada tanggal 05 Oktober 1986 gedung gereja ONKP dipakai secara resmi. Kebaktian dipimpin oleh pimpinan pusat ONKP dengan mengutus Pdt. Aseli Daeli (A. Medi) untuk memimpin kebaktian perdana dan sekaligus pengangkatan para Satua Niha Keriso (penatua) perdana. Kebaktian perdana ini dihadiri oleh utusan PGI wilayah Sumut yaitu Pdt. A. Pandia.

C. TANTANGAN YANG DIHADAPI DALAM PEMBANGUNAN

Dalam pembangunan Gereja ONKP Jemaat Perumnas Mandala banyak menghadapi tantangan dan pergumulan. Atas penyertaan Tuhan melalui usaha panitia pembangunan dan seluruh warga ONKP di Medan, maka tantangan tersebut bisa dilewati. Adapun tantangan tersebut antara lain:

  1. Setelah lokasi tersebut dibersihkan, gereja HKBP Pelikan (di samping Gereja ONKP) mengklaim bahwa tanah tersebut adalah wilayah mereka dengan membangun bangunan darurat. Untuk menyelesaikan masalah ini, Pemda Tingkat II Deli Serdang, Perum Perumnas Medan II memberikan teguran kepada HKBP Pelikan agar tidak menggarap tanah pertapakan gedung gereja ONKP. Untuk menyelesaikan masalah ini dibuat berita acara pada tanggal 29 April 1985 di kantor sospol Tk. II Kabupaten Deli Serdang.
  2. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Medan Denai mengklaim bahwa sebagian tanah pertapakan Gereja ONKP adalah milik SD Inpres. Untuk menyelesaikan masalah ini, maka dilaksanakan pertemuan di Kantor Kecamatan Medan Denai yang dihadiri oleh Pembantu Walikota Medan, Muspika Medan Denai, Kepala SD Inpres, Lurah Kenanga, dan panitia pembangunan Gereja ONKP atas nama A. Boy Daeli. Maka diputuskan berdasarkan data yang ada bahwa  tanah tersebut adalah milik Gereja ONKP Medan dan sebagian tanah tempat rumah penjaga SD Inpres termasuk milik Gereja ONKP, dengan catatan apabila bangunan tersebut diperbaharui kembali, maka tidak dibenarkan mendirikan bangunan di tanah milik gereja ONKP.
  3. Pada bulan Oktober 1987, Gereja Protestan persekutuan menancapkan patok-patok dijalan menuju lokasi Gereja ONKP. Oleh karenananya pada tanggal 07 Oktober 1987 Panitia Pembangunan Gedung Gereja ONKP menyurati kepala kelurahan Perumnas/Kenangan dengan tembusan Koramil 13/Percut Sei Tuan. Untuk menyelesaikan masalah ini maka pada tanggal 26 Oktober 1987 Koramil 13 /Percut Sei Tuan mengundang pertemuan yang dihadiri oleh Pengurus Gereja ONKP, GPP, HKBP, BNKP, Pengurus Perumnas, Kepala SD Inpres dan Kepala Lurah Kenangan dan menghasilkan keputusan bahwa GPP bersedia mencabut patok tersebut. (sesuai dengan surat Koramil 13 No. B/0277/X/1987 perihal Pengiriman laporan hasil pertemuan musyawarah tentang masalah penutupan jalan yang menuju Gereja ONKP di Perumnas).
  4. Gereja BNKP Mandala ketika membangun gedungnya, mereka membangun tepat pada batas antara tanah milik BNKP dengan ONKP, sehingga pada saat  membangun / memberi semen di emperan keliling gereja melewati 1 meter dari batas yang sebenarnya di tanah milik ONKP. Panitia pembangunan Gereja ONKP memperingati namun BNKP tidak mengindahkan. Untuk menyelesaikan masalah ini, maka pada saat peresmian gedung Gereja BNKP Mandala, Panitia bersama Pdt. Kalebi Hia (Pendeta BNKP) menyurati Majelis ONKP Medan untuk meminta supaya tanah tersebut di relakan karena sudah terlanjur digunakan.
  5. Pemerintah telah menyediakan jalan antara Gereja BNKP Mandala dengan Gereja GPP sebagai jalan untuk masuk ke lokasi Gereja ONKP, namun BNKP telah mengambil sebagian jalan tersebut dengan mendirikan bangunan di atasnya sehingga jalan tersebut tidak layak dipergunakan sebagaimana mestinya. Untuk menyelesaikan masalah ini, Majelis ONKP mengadakan pendekatan kepada Majelis BNKP Mandala, namun tidak ada titik temu sehingga masalah ini sampai kepada Pemda Tk II Deli Serdang. Setelah beberapa kali dilaksanakan pertemuan di Kantor Camat Percut Sei Tuan, namun tidak ada hasil. Pada pertemuan berikutnya di Kantor Camat Percut Sei Tuan yang dipimpin langsung oleh Pembantu Bupati Deli Serdang Bapak Richard Siahaan. Pertemuan ini dihadiri oleh Sekwilcam/Pelaksana Camat Percut Sei Tuan bapak Sayuti, Muspika Percut Sei Tuan, Utusan BNKP, Utusan ONKP, Utusan SD Inpres, maka diputuskan agar bangunan BNKP di atas jalan resmi diperintahkan untuk dibongkar atau BNKP menyediakan jalan bagi Gereja ONKP. Pihak BNKP memilih untuk tidak membongkar bangunannya sehingga mereka menyediakan jalan di depan BNKP dengan lebar 2 meter (garis pembatas di depan Gereja BNKP merupakan tanda jalan resmi yang diberikan pemerintah).

Setelah selesai pembangunan Gedung Gereja ONKP Jemaat Medan, pada waktu Pdt. Christoph M.N Hia, S.Th sebagai Pendeta Resort, warga jemaat mempunyai kerinduan agar gedung gereja ONKP Jemaat Medan ditahbiskan, maka dibentuk panitia pelaksana pentahbisan gedung gereja ONKP Jemaat Medan dengan susunan panitia inti, sebagai berikut:

  • Ketua umum                              : Snk. Adanudin Hia (A. Desri)
  • Ketua I                                          : Pdt. Drs. Aroni Zendratõ (A. Boy)
  • Ketua II                                        : Snk. dr. Emanuel Hia (A. Hikmat)
  • Sekretaris Umum                     : Snk. Fatizaro Hia (A. Irma)
  • Sekretaris I                                 : Salatiaeli Daeli
  • Sekretaris II                                                : Senas L. Marundruri (A. Acong)
  • Bendahara                                  : Snk. Samueli Waruwu (A. Fani)
  • Wakil Bendahara                      : Grj. Izaaki Zebua (A. Tini)

Atas anugerah Tuhan kita Yesus Kristus dan kebersamaan seluruh jemaat, pada tanggal 31 Agustus 2003 dilaksanakan pentahbisan Gedung Gereja ONKP Jemaat Medan oleh Pimpinan Pusat ONKP (Ephorus) Pdt. BL Hia, Sm.Th, dan dihadiri oleh PGI Wilayah Sumut yang diwakili oleh Pdt. Ar. Pardede, S.Th, dan Gubernur Sumatera Utara yang diwakili oleh Drs. Silvester Lase.

D. Kegiatan Kerohanian

Dari atas sudah dijelaskan bahwa sebelum berdirinya gereja ONKP di Medan, maka kebaktian dilaksanakan di rumah-rumah warga jemaat ONKP dalam bentuk kebaktian keluarga (sekola wangandrõ) walupun tidak rutin. Setelah dibentuk koordinator maka kebaktian keluarga rutin dilaksanakan dua kali sebulan secara bergantian di rumah warga jemaat ONKP.

Walaupun kondisi bangunan masih belum selesai dengan sempurna, pada tanggal 05 Oktober 1986 dilaksanakan kebaktian perdana sekaligus peneguhan Satua Niha Keriso yang dipimpin oleh Pdt. As. Daeli mewakili Pimpinan Pusat ONKP.

Pada tahun 1987 Gereja ONKP jemaat Medan) diberikan status sebagai Resort dan sebagai pelaksana pendeta resort dihunjuk Pdt. Th.J. Nanulaitta, S.Th (saat itu merangkap sebagai pendeta resort Gunungsitoli). Pada tahun 1988 ditetapkan pendeta resort defenitif atas nama Pdt. Yuridis Daeli, S.Th, dan Arozatulõ Daeli diangkat sebagai Guru jemaat Pertama di Jemaat Medan yang dilantik oleh Ephorus ONKP Bapak Pdt. Fang Gulõ di Gereja ONKP Medan.

E. PERKEMBANGAN PELAYANAN

a. Pendeta Yang Melayani

  1. Tahun 1986 s/d 1987 Pdt. Aseli Daeli (diperbantukan oleh BPH untuk menanggulangi palayanan di jemaat Medan)
  1. Tahun 1987 s/d 1988 Pdt. Th.J. Nanulaitta S.Th (Plt. Pendeta Resort)
  2. Tahun 1988 s/d 1992 Pdt. Yuridis Daeli S.Th (pendeta resort, dibantu oleh pendeta fungsional an.Pdt. T. Zalukhu sejak 15 Januari 1989 s/d tahun 1992)
  3. Tahun 1992 s/d 1994 Pdt. Saridame Hia, S.Th (Pendeta Resort)
  4. Tahun 1994 Pdt. Ar. Mendrõfa (Pendeta Resort)
  5. Tahun 1994 s/d 2000 Pdt. Fat. Gulõ (Pendeta Resort)
  6. Tahun 2000 s/d 2001 Pdt.Aseli Daeli (Pendeta Resort)
  7. Tahun 2002 s/d 2004 Pdt. Christoph Masa Natal Hia, S.Th (Pendeta Resort, dibantu oleh 2 orang pendeta fungsional an. Pdt. Naurbaiti br. Pasaribu, S.Th & Pdt. Hiburan Waruwu, S.Th)
  8. Tahun 2004-2005 Pdt. Nurbaiti br. Pasaribu, S.Th (Pendeta Resort)
  9. Tahun 2007 s/d 05 Oktober 2008 BPH ONKP (Plt. Pendeta Resort)
  10. 05 Oktober 2008 s/d sekarang Pdt. Budieli Hia, S.Th (Pendeta Resort
  • b. Guru Jemaat
    1. Tahun 1984 s/d 1988 Snk. Arozatulõ Daeli (Koodinator kebaktian/ ketua majelis)
    2. Tahun 1988 s/d 1991 Grj. Arozatulo Daeli (A. Feri)
    3. Tahun 1991 s/d 2003 Grj. Sitefano Marundruri (A. Desi)
    4. Tahun 2003 s/d 2006 Grj. Adanudin Hia (A. Desri)
    5. Tahun 2007 s/d Oktober 2008 Grj. Elirani Gea, S.Th
    6. Oktober 2008 s/d 02 Agustus 2009 Snk. Fatizaro Hia,SH (Plt. Guru Jemaat)
    7. Tanggal 02 Agustus 2009 s/d sekarang Grj. Fatizaro Hia, SH (Guru Jemaat)


c. Satua Niha Keriso

Ü  Pengangkatan Pertama yang dikukuhkan oleh Pdt. As. Daeli

  1. Adanudin Hia (A. Desri)
  2. Adieli Daeli (A. Boy)
  3. Ama Iwan Hulu
  4. Arozatulõ Daeli (A. Feri)
  5. Eliasa Zalukhu (A. Vivi)
  6. Mariza Daeli (I. Eta)
  7. Resi Zai (A. Tuti)
  8. Sadoki Maruao (A. Kae)
  9. Sitefano Marundruri (A. Desi)

Ü  Pengangkatan kedua yang dikukuhkan oleh Pdt……

  1. Anaria Zebua (I.Luter Daeli)
  2. Fatohu Marundruri (A. Yohanes)
  3. I. Boy Daeli

Ü  Pengangkatan ketiga yang dikukuhkan oleh Pdt. Drs. Fat. Gulõ

  1. A. Ester Gulõ,
  2. A. Hikmat Hia,
  3. A. Selfi Zai,
  4. A. Serius Hia,
  5. A. Serta Gulõ,
  6. A. Tataso Daeli,
  7. A. Tini Zebua
  8. A. Tomi Daeli,
  9. A. Victor Zega,
  10. A. Yamin Marundruri,
  11. I. Desri Hia,

Ü  Pengangkatan keempat Tahun 1997 dikukuhkan oleh Pdt. Drs. Fat. Gulõ

  1. A. Abdi Hia
  2. A. Ceci Marundruri
  3. A. Indah Zalukhu
  4. A. Irma Hia
  5. A. Nica Hia
  6. A. Nita Zebua
  7. A. Novi Gulõ
  8. A. Setiawan Buulõlõ
  9. A. Zeni Hia

Ü  Pengangkatan kelima Tahun 1999 dikukuhkan oleh Pdt. Drs. Fat. Gulõ

  1. A. Fani Waruwu
  2. A. Kirce Maruao
  3. A. Safa Maruhawa
  4. A. Yosua Gulõ

Ü  Pengangkatan keenam Tahun 2001 yang dikukuhkan oleh Pdt. As. Daeli

  1. A. Efi Zebua
  2. A. Eri Hia
  3. A. Febrina Waruwu
  4. A. Hendra Gea
  5. A. Linda Gulõ
  6. A. Meni Hia
  7. A. Rista Waruwu
  8. A. Yesti Waruwu
  9. I. Efi Hia

Ü  Pengangkatan ketujuh tahun 2007 yang dikukuhkan oleh Pdt. Matias Daeli, S.Th

  1. A. Acong Marundruri
  2. A. Elsa Daeli
  3. A. Kuru Gulõ
  4. A. Titin Hia
  5. A. Titus Hia
  6. A. Wawan Lase

Ü  Pengangkatan kedelapan pada tanggal 23 November 2009 oleh Pdt. Budieli Hia, S.Th

  1. Snk. Datafati Zebua
  2. Snk. Denisama Lahagu
  3. Snk. Hanasi Hia
  4. Snk. Haogõmbõwõ Gulõ
  5. Snk. Hasanolo Gulõ
  6. Snk. Marlena Laoli
  7. Snk. Martinus Gulo
  8. Snk. Oloheta Maruhawa
  9. Snk. Otenieli Hia
  10. Snk. Rahmad Eli Jaya Daeli
  11. Snk. Resefi Maru’ao
  12. Snk. Rudin Bate’e
  13. Snk. Samueli Waruwu
  14. Snk. Sozanolo Hia
  15. Snk. Yanuari Hia
  16. Snk. Yanusõkhi Lase
  17. Snk. Zalirudin Marundruri
  1. F. PENGEMBANGAN POS PELAYANAN

Setelah selesai pembangunan gedung gereja ONKP Jemaat Medan, maka para Majelis mulai merintis pelayanan dengan melaksanakan kebaktian keluarga di Tanjung Morawa, dan setelah itu menghunjuk Snk. A. Ka’e Maru’ao dan A. Ester Gulõ untuk mengkoordinir kebaktian tersebut yang seterusnya ditetapkan sebagai Pos Pelayan. Setelah selang beberapa waktu Jemaat Pos Pelayanan Tanjung Morawa bersama dengan sebagian majelis melakukan hubungan langsung dengan BPH ONKP bekerja sama dengan Pendeta Resort (Pdt. Drs. Fat. Gulõ), untuk meningkatkan status Pos Pelayanan Tanjung Morawa menjadi Jemaat. Setelah menjadi satu Jemaat, maka Jemaat ONKP Medan tidak mempunyai hubungan pelayanan dengan Jemaat ONKP Tanjung Morawa.

Setelah Pos Pelayanan Tanjung Morawa dibuka, maka pada tahun 1989 mulai dirintis daerah pelayanan baru di daerah Taman Deli dan Martubung. Pos Pelayanan ini dikoordinir oleh SNK. A. Ka’e Maru’ao dan SNK. A. Ampuni Hia, Pos pelayanan ini hanya berjalan sekitar 1 (satu) tahun lebih berhubung karena komunikasi pelayanan tidak memadai.

BAB III

BERDIRINYA POS PELAYANAN MARTUBUNG

  1. A. USAHA MENDIRIKAN POS PELAYANAN MARTUBUNG

Pada tanggal 27 Mei 2004, Kel. A. Irma Hia bertemu dengan keluarga A. Zulfi Hia dalam suatu kegiatan sosial. Pada saat ini tersirat dalam pembicaraan mengenai pergumulan dan perkembangan Gereja ONKP di daerah Martubung dan sekitarnya. Sebagai hasil dari pertemuan tersebut, kedua kelurga ini melakukan komunikasi dengan anggota jemaat ONKP yang ada di daerah Martubung sekitarnya yang selama ini berjemaat di gereja yang lain.

Sebagai tindak lanjut dari komunikasi tersebut, maka dilaksanakan pertemuan di rumah A. Novi Gulõ yang dihadiri oleh:

  1. A. Mira Gulõ
  2. A. Edi Suranta Hia
  3. A. Fentinus Zendratõ.
  4. A. Yosep Gulõ
  5. A. Zulfi Hia
  6. A. Irma Hia
  7. A, Kurnia Gulõ
  8. A. Ferlin Gulõ
  9. A. Yahya Hia

Sebagai hasil pertemuan tersebut, disepakati untuk mendirikan Gereja ONKP di daerah Martubung.

Untuk menyusun personil kepengurusan, maka dilaksanakan pertemuan di rumah keluarga A. Mira Gulõ yang menghasilkan struktur kepengurusan Gereja ONKP Pos Pelayanan Martubung, sebagai berikut:

Ketua                    : Pdt. Yona Gulõ, S.Th

Wakil Ketua        : A. Derta Waruwu

Sekretaris                            : Agape Daeli

Bendahara          : A. Edi Suranta Hia

Hasil kepengurusan ini, kemudian oleh SNK. Fatizaro Hia, SH (Sekretaris Jemaat Medan) melaporkan kepada Majelis  Jemaat Medan. Majelis ONKP Jemaat Medan menyambut baik rencana ini dan menyarankan supaya dilaksanakan kabaktian keluarga ONKP. Kebaktian keluarga pertama dilaknsakan di rumah A. Fentinus Zendratõ yang dilayani oleh SNK. A. Tataso Daeli. Kebaktian keluarga ini dihadiri oleh 18 Keluarga. Kebaktian keluarga ini dilaksanakan secara bergantian setiap hari Rabu di rumah-rumah warga ONKP di Martubung dan sekitarnya.

  1. B. KEGIATAN PEMBANGUNAN

Sambil kebaktian keluarga berjalan, maka mulai ada usaha untuk mencari pertapakan gereja. Pada awal Juli 2004 pertapakan gereja didapat, yang kemudian pada tanggal 10 Juli 2004 dilaksnakan pengukuran tanah pertapakan. Pada saat pengukuran ini dihadiri oleh SNK. Fatizaro Hia, SH dan A. Kuru Gulõ. Hasil pengukuran ini kemudian dilaporkan kepada Majelis ONKP Jemaat Medan.

Setelah ada kepastian tentang pertapakan tanah ini, maka Majelis Jemaat Medan mengutus SNK. Fatizaro Hia, SH dan A. Zulfi Hia untuk melaporkan kepada BPH ONKP. BPH ONKP menyambut baik dan atas saran Ephorus ONKP Pdt. BL.Hia, Sm.Th supaya mengikuti kebaktian Minggu di Gereja ONKP Jemaat Gunungsitoli-Kota dan melaksanakan aksi dana spontanitas.

Setelah pulang dari Nias, maka dilaksanakan rapat Majelis jemaat Medan untuk membentuk panitia pembangunan Gereja ONKP Pos Pelayanan Martubung-Jemaat Medan-Resort Medan dengan susunan panitia inti:

Ketua                                                 : F. Gea SH (A. Lili)

Wakil Ketua                     : SNK. S. Daeli (A. Tataso)

Sekretaris                         : SNK. Fatizaro Hia, SH (A. Irma)

Wakil Sekretaris             : Senas L. Marundruri (A. Acong)

Bendahara                       : SNK. Samueli Waruwu (A. Fani)

Panitia pembangunan mulai mencari dana dengan melaksanakan kebaktian Minggu pada tanggal 29 September 2004 di Gereja GKPI Martubung sambil melaksanakan aksi dana (lelang). Pada saat itu juga kepengurusan Pos Pelayanan Martubung dikukuhkan oleh Pdt. H. Waruwu, S.Th (Pendeta Fungsional).

Untuk menyelesaikan pembelian tanah pertapakan gereja kekurangan dana dibantu oleh A. Kurnia Gulõ sebagai pinjaman sementara. Setelah diselesaikan pembelian ini, maka pada tanggal 05 Oktober 2004 panitia melaksanakan pembersihan lokasi yang dihadiri oleh Guru Jemaat ONKP Medan, Grj. AD. Hia dan ibu, Kel. A/I Neni Daeli, SNK. Fatizaro Hia, SH, A. Kurnia Gulõ, A.Zulfi Hia, A. Ferlin Gulõ.

Selanjutnya pada tanggal 16 Oktober 2004 dimulai pembangunan Lods, sebagai kepala kerja adalah Efori Daeli (A. Harapan). Setelah lods selesai, maka pada hari Rabu, 24 November 2004 kebaktian keluarga dialihkan di Lods tersebut yang dipimpin oleh Pdt.H. Waruwu, S.Th. Selanjutnya pada hari Minggu, 28 November 2004 dilaksanakan kebaktian perdana yang dipimpin oleh Pdt. Nurbaiti Pasaribu, S.Th. pada saat itu dilaksanakan Sakramen Baptisan Kudus atas nama Irma Putri Handayani Hia, anak dari A/I Irma Hia.

Sehubungan karena Sekretaris Pos Pelayanan an. Agape Daeli kurang aktif, maka disepakati untuk mengangkat A. Zulfi Hia sebagai Sekretaris Pos Pelayanan Martubung.

Sehubungan karena Ketua Panitia an. A. Lili Gea tidak bisa melanjutkan pekerjaan kepanitian, maka Majelis Jemaat Medan menyepakati untuk mengangkat Grj. AD.Hia sebagai Ketua Panitia Pembangunan, dan struktur kepanitiaan lainnya tidak berubah.

Pada tanggal 07 Mei 2006 dilaksanakan peletakkan batu pertama oleh BPH ONKP yang diwakili oleh Pdt. As. Daeli sekaligus memimpin kebaktian minggu pada saat itu. Acara peletakan batu pertama ini dihadiri salah seorang tokoh masyarakat Nias di Medan oleh Drs. Penyabar Nakhe. Setelah itu dilanjutkan pembangunan dengan mengerjakan pondasi.

Untuk mencari dana, maka direncanakan untuk melaksanakan pesta pembangunan. Maka dibentuk Panitia Pesta Pembangunan Gedung Gereja ONKP Pos Pelayanan Martubung Jemaat Medan-Resort Medan, dengan susunan Panitia inti sebagai berikut:

Ketua Umum                        : Drs. Penyabar Nakhe.

Ketua I                                     : Snk. Salema Daeli, S.Th

Ketua II                                    : Pdt. Yona Gulõ, S.Th

Sekretaris Umum                                : SNK. Fatizaro Hia, SH.

Sekretaris I                             : Senas L. Marundruri

Sekretaris II                           : Arianus Giawa

Bendahara Umum              : SNK. Samueli Waruwu.

Bendahara I                           : SNK. Kalebi Gulõ.

Bendahara II                          : Siti Nur Afia Zebua, S.Pd

Pada tanggal 04 November 2007 dilaksanakan Pesta pembangunan kedua yang dhadiri oleh BPH ONKP (Ephorus Pdt. E.K. Waruwu, S.Th, S.IP, dan Sekjen Pdt. Matias Daeli, S.Th.), Walikota Pematang Siantar Ir. RE. Siahaan, SEKDA Nias Drs. FG. Marthin Zebua, Firman Jaya Daeli, SH, dan beberapa tokoh masyarakat Nias di Medan.

Setelah acara pesta pembangunan, maka surat tanah pertapakan Gereja ONKP Pos Pelayanan Martubung di Notariskan atas nama BPH ONKP (Pdt. E.K. Waruwu, S.Th, S.IP sebagai Ephorus), yang kemudian surat-surat tersebut telah diserahkan kepada BPH ONKP.

Untuk membantu pencarian dana dalam pembangunan pos pelayanan Martubung, maka oleh Majelis Jemaat Medan dan Pos Pelayanan Martubung menyepakati untuk mengumpulkan persembahan setiap Minggu ketiga bulan berkenaan di Jemaat Medan dan, dan setiap Minggu di Jemaat Pos Pelayan Martubung.

Setelah ketua Panitia an. Grj. AD Hia pindah jemaat, maka struktur Panitia Pembangunan disempurnakan dengan susunan Kepanitiaan inti sebagai berikut:

Ketua                    : SNK. Salema Daeli, S.Th

Wakil Ketua        : Elirani Gea, S.Th

Sekretaris                            : SNK. Fatizaro Hia, SH (A. Irma)

Wakil Sekretaris                : Senas L. Marundruri (A. Acong)

Bendahara                          : SNK. Samueli Waruwu (A. Fani)

Panitia pembangunan mengusahakan sumbangan dana dari berbagai pihak dan juga partisipasi warga jemaat, dan pembangunan tahap kedua dilanjutkan (sampai sekarang).

  1. C. KEGIATAN PELAYANAN

Untuk mengkoordinir pelayanan di Pos Pelayanan Martubung maka disusun struktur kepengurusan sebagaimana yang telah diuraikan dari atas. Selain itu juga dikasanakan pemilihan para penatua (Satua Niha Keriso. SNK pertama dikukuhkan tanggal 27 Januari 2005 oleh Pdt. Nurbaiti Pasaribu, S.Th, yaitu:

  1. Amosi Daeli (A. Seni)
  2. Faahakhõdõdõ Gulõ (A. Ferlin)
  3. Kalebi Gulõ (A. Kurnia)
  4. Raradõdõ Hia (A. Zuli)

Kemudian pada tanggal ……….kembali dikukuhkan para penatua II yang dikukuhkan oleh Pdt……, yaitu:

  1. A. Dama Daeli
  2. Faahakhõdõdõ Gulõ (A. Ferlin)
  3. Faonasõkhi Gulõ (A. Sema)
  4. Fatimanõ Gulõ (A. Nata)
  5. Kalebi Gulõ (A. Kurnia)
  6. Masiria Mendrõfa (I. Frans Zai)
  7. Mutiara Daeli (I. Yuber Mendrõfa)
  8. Sofatera Daeli (A. Kristin)

Pada tanggal tanggal 25 Desember 2007, dikukuhkan penatua tahap III oleh Sekjen ONKP Pdt. Matias Daeli (Plt. Pendeta Resort), yaitu:

  1. Dedisman Hia (A. Apos)
  2. Faahakhõdõdõ Gulõ (A. Ferlin)
  3. Faonasõkhi Gulõ (A. Sema)
  4. Fatimanõ Gulõ (A. Nata)
  5. Fõnaziduhu Hulu (A. Doni)
  6. Kalebi Gulõ (A. Kurnia)
  7. Masiria Mendrõfa (I. Frans Zai)
  8. Medieli Daeli (A. Yenti)
  9. Mutiara Daeli (I. Yuber Mendrõfa)
  10. Natiama Daeli (I.Nini)
  11. Yarman Zendratõ (A. Friska)

Pada tanggal 29 November 2009, dikukuhkan Penatua tahap IV oleh Pdt. Budili Hia, S.Th sebagai pendeta resort, antara lain:

  1. Adiso Zendratõ
  2. Bezisõkhi Hia
  3. Dediisman Hia (A. Apos)
  4. Esera Hia
  5. Faahakhõdõdõ Gulõ (A. Ferlin)
  6. Fatimanõ Gulõ (A. Nata)
  7. Fiktor Marni Gulõ
  8. Fõnaziduhu Hulu (A. Doni)
  9. Herlina Zendratõ
  10. Kalebi Gulõ (A. Kurnia)
  11. Masiria Mendrõfa (I. Frans Zai)
  12. Medieli Daeli (A. Yenti)
  13. Mutiara Daeli (I. Yuber Mendrõfa)
  14. Onekhesi Gulõ
  15. Sonaha Gulõ
  16. Yarman Zendratõ (A. Friska)

BAB IV

PENUTUP

Demikianlah Sejarah Gereja ONKP Jemaat Medan dan Pos Pelayanan Martubung dibuat dengan segala keterbatasannya, oleh karenanya diharapkan kritikan, masukan dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaannya. Akhirnya Selamat Ulang Tahun XXIII Gereja ONKP Jemaat Medan dan Selamat Ulang Tahun V Gereja ONKP Pos Pelayanan Martubung. Jadilah Garam dan Terang DuniaTerang Dunia.

Medan, September 2009

TIM PERUMUS SEJARAH GEREJA

  1. Pdt. Budieli Hia, S.Th
  2. Grj. Fatizaro Hia, SH
  3. SNK. Senas L. Marundruri
  4. SNK. Rahmad Eli Jaya Daeli
  5. SNK. Zalirudin Marundruri
  6. SNK. Resefi Maruao
  7. SNK. Samueli Waruwu
  8. SNK. Haogõmbõwõ Gulõ.
  9. SNK. Yanuari Hia
  10. SNK. Medieli Daeli
  11. Obalazi Hia
  12. Terifosa

Teori Kebutuhan Menurut Maslow

Nama                               : Budieli Hia

M. Kuliah                        : Psikologi Pastoral

Dosen Pengampu        : Pdt. Jaharianson, S.Th, M.Sc, Ph.D

TEORI ABRAHAM MASLOW

TENTANG

TINGKAT KEBUTUHAN MANUSIA

I. Pendahuluan

    Abraham Maslow merupakan anak imigran Rusia.[1] Ia dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908 dan wafat pada tanggal 8 Juni 1970 dalam usia 62 tahun karena menderita serangan jantung.[2] Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara.

    Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya. Semasa anak-anak dan remaja Maslow merasa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya.[3]

    Keluarga Maslow amat berharap ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang hukum tapi gagal. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dan memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934.

    Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

    II. HIRARKI KEBUTUHAN MANUSIA

      Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

      Kebutuhan Maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

      Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

      1. Kebutuhan Fisiologis/ Dasar

      Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologis yang ditandai dengan kekurangan (defisit) sesuatu dalam tubuh orang yang bersangkutan. Contoh dari kebutuhan Fisiologis ini adalah: Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, seks, dan lain sebagainya. Kebutuhan ini juga dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan sangat ekstrim (misalnya: sangat kelaparan) bisa manusia yang bersangkutan kehilangan kendali akan atas perilakunya sendiri (agresif, tidak malu, tidak punya pertimbangan pada orang lain, dan sebagainya) karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu (menghilangkan rasa laparnya).[4]

      Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga-diri dan cinta pertama-tama ia akan memburu makanan terlebih dahulu. Ia akan mengabaikan atau menekan semua kebutuhan yang lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan. Maslow mengatakan: “bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tidak ada minat lain kecuali pada makanan. Ia bermimpi tentang makanan, ia teringat tentang makanan, ia berpikir tentang makanan, emosinya tergerak hanya karena makanan, ia hanya mempersiapkan makanan dan ia hanya menginginkan makanan…orang semacamitu dengan tegas dapat dikatakan dapat hidup dengan makanan belaka.[5]

      Tak teragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.

      Bagi banyak orang yang hidup ditengah masyarakat yang beradab, jenis-jenis kebutuhan dasar ini telah terpuaskan secara memadai. Maslow menguraikan bahwa jika makanan tersedia dan perut sudah kenyang, maka dengan segera kebutuhan-kebutuhan yang lain (tingkatan yang lebih tinggi) akan muncul, lalu kebutuhan-kebutuhan ini yang akan mendominasi si organisme.[6]

      2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan

      Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan (safety needs) Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.

      Sama halnya dengan anak-anak, orang dewasa pun bila merasa tidak aman (neurotik) bertingkah sama seperti anak-anak yang tidak aman. Maslow menguraikan bahwa orang dewasa yang merasa tidak aman akan bertingkah laku seakan-akan selalu dalam keadaan terancam bencana besar. Seorang yang yang tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas secara berlebihan serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak diharapkannya.[7]

      Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan inilah yang mendorong manusia membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan kepercayaan, membuat sistem asuransi, pensiun, dan sebagainya. Menurut Maslow, sama halnya dengan basic neeeds, ketidakterpenuhan akan safety needs ini akan mempengaruhi pandangan seseorang tentang dunianya dan pada gilirannya akan cenderung kearah yang makin negatif.[8]

      3. Kebutuhan Sosial.

      Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang (belongingness and love needs) akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.

      Maslow tidak menyamakan cinta dengan seks (yang merupakan kebutuhan fisiologis). Menurutnya seks merupakan cara untuk mengekspresikan kebutuhan akan cinta. Maslow menyebutkan bahwa kegagakan untuk memuaskan kebutuhan akan cinta merupakan penyebab dasar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri secara emosional.

      4. Kebutuhan Penghargaan

      Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis)[9] mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri (estem needs). Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri.[10] Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.

      5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

      Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut Maslow sebagai aktualisasi diri (self actualization) . Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.

      Maslow menguraikan bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kelompok “meta-needs” yang didalamnya mencakup 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hierarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta-needs tidak terpenuhi, maka akan terjadi meta-patologi  seperti: apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.

      Ke 17 meta-kebutuhan tersebut menurut Maslow adalah: 1. Kebenaran, 2. Kebaikan, 3. Keindahan/kecantikan, 4. keseluruhan (kesatuan/integrasi), 5. Dikhotomi-Transendensi, 6. Berkehidupan (berproses, berubah tetapi pada esensinya, 7. Keunikan, 8. Kesempurnaan (perfeksi), 9. Keniscayaan, 10. Penyelesaian, 11. Keadilan, 12. Keteraturan, 13. Kesederhanaan, 14. Kekayaan (banyak variasi, majemik, tidak ada yang tersembunyi, semua sama penting), 15. Tanpa susah payah (santai, tidak tegang), 16. Bermain (fun, rekreasi, humor), 17. Mencukupi diri sendiri.[11]

      Dari hasil penelitian yang merupakan proses analisis panjang, Maslow akhirnya mengidentifikasikan 19 karakteristik pribadi yang sampai pada tingkat aktualisasi diri.[12]

      1. Persepsi yang jelas tentang hidup (realitas), termasuk kemampuan untuk mendeteksi kepalsuan dan menilai karakter seseorang dengan baik. Berkat persepsi yang tajam, mereka lebih tegas dan jitu dalam memprediksikan peristiwa yang bakal terjadi. Mereka lebih mampu melihat dan menembus realitas-realitas yang tersembunyi dalam aneka peristiwa; lebih peka melihat hikmah dari pelbagai masalah.
      2. Pribadi demikian melihat hidup apa adanya dan bukan berdasarkan keinginan mereka. Mereka lebih obyektif dan tidak emosional. Orang yang teraktualisasi diri tidak akan membiarkan harapan-harapan dan hasrat-hasrat pribadi menyesatkan pengamatan mereka. Sebaliknya kebanyakan orang lain mungkin hanya mau mendengarkan apa yang ingin mereka dengar dari orang lain sekalipun menyangkut hal yang tidak benar dan jujur.
      3. Mempunyai spontanitas yang lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap inner life yang kaya dan tidak konvensional, serta memiliki kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang baru dan menghargai keindahan dalam hal-hal yang biasa. Biasanya mereka tidak merasa perlu menyembunyikan perasaan atau pikiran mereka, atau bertingkah laku yang dibuat-buat. Pribadi teraktualisai punya selera yang tinggi terhadap seni, musik, dan masalah-masalah politik dan filsafat.
      4. Keterpusatan-pada-masalah. Mereka amat konsisten dan menaruh perhatian pada pertanyaan dan tantangan dari luar diri, memiliki misi atau tujuan yang jelas sehingga menghasilkan integritas, ketidakpicikan, dan tekun introspeksi. Mereka mempunyai komitmen yang jelas pada tugas yang harus mereka kerjakan dan mampu melupakan diri sendiri, dalam arti mampu membaktikan diri pada pekerjaan, tugas, atau panggilan yang mereka anggap penting.
      5. Merindukan kesunyian. Selain mencari kesunyian yang menghasilkan ketenteraman batin, mereka juga dapat menikmatinya.
      6. Mereka sangat mandiri dan otonom, namun sekaligus menyukai orang lain. Mereka punya keinginan yang sehat akan keleluasaan pribadi yang berbeda dari kebebasan neurotik (yang serba rahasia dan penuh rasa takut). Terkadang mereka terlihat sangat otonom, karena mereka menggantungkan diri sepenuhnya pada kapasitas sendiri. Inilah paradoksnya: mereka adalah orang yang paling individualis sekaligus sosial dalam masyarakat. Bila mereka menaati suatu aturan atau perintah, hal itu didasarkan pada pemahaman akan manfaat yang dapat dicapai dari pemenuhan aturan yang bersangkutan, dan bukan karena ikut-ikutan.
      7. Ada kalanya mereka mengalami apa yang disebut “pengalaman puncak” (peak experience); saat-saat ketika mereka merasa berada dalam keadaan terbaik, saat diliputi perasaan khidmat, kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam atau ekstase. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mereka untuk berkonsentrasi secara luar biasa. Kadang-kadang kemampuan ini membuat mereka seolah linglung. Tidak jarang mereka mengalami flow dalam kegiatan yang mereka lakukan.
      8. Rasa kekeluargaan terhadap sesama manusia yang disertai dengan semangat yang tulus untuk membantu sesama.
      9. Pribadi unggul ini lebih rendah hati dan menaruh hormat pada orang lain. Mereka yakin bahwa dalam banyak hal mereka harus belajar dari orang lain. Hal ini membuat mereka mampu untuk mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran. Keutamaan (virtue) ini lahir dari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Sama seperti anak-anak, mereka mampu mendengarkan orang lain tanpa apriori atau penilaian sebelumnya. Maslow menyebut keunggulan ini sebagai “Being cognition” atau “B-cognition”; pengamatan yang pasif dan reseptif.
      10. Mereka memiliki etika yang jelas tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Namun bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur.
      11. Selera humor yang baik. Mereka tidak tertarik pada pelbagai lelucon yang melukai atau menyiratkan inferioritas yang membuat orang lain merasa dilecehkan. Mereka lebih menyukai humor yang filosofis, kosmik, atau yang nilai humornya terkandung dalam logika kata-kata. Mereka juga menonjol dalam hal toleransi terhadap kelemahan-kelemahan alamiah orang lain. Namun mereka sangat anti terhadap ketidakjujuran, penipuan, kebohongan, kekejaman, dan kemunafikan.
      12. Kreatif dalam mengucapkan, melakukan, dan menyelesaikan sesuatu. Sifat ini dikaitkan dengan fleksibelitas, tidak takut membuat sesuatu yang di kemudian hari ternyata adalah kesalahan, dan keterbukaan. Seperti seorang anak yang lugu, mereka tidak takut berkreasi karena cemoohan orang lain. Mereka kreatif dan melihat aneka peristiwa secara segar tanpa prasangka. Menurut Maslow, hampir setiap anak mampu membuat lagu, sajak, tarian, lakon, atau permainan secara mendadak, tanpa direncanakan atau didahului oleh maksud tertentu sebelumnya. Demikian jugalah kira-kira kreativitas orang yang teraktualisasi diri.
      13. Mereka memiliki penghargaan yang sehat atas diri sendiri bertolak dari pengenalan akan potensi diri mereka sendiri. Mereka bisa menerima pujian dan penghargaan tetapi tidak sampai tergantung pada penghargaan yang diberikan orang lain. Mereka tidak mendewakan kemasyhuran dan ketenaran kosong.
      14. Ketidaksempurnaan. Mereka tentu juga mempunyai perasaan bersalah, cemas, bersalah, iri dan lain-lain. Namun perasaan itu tidak seperti yang dialami orang-orang yang neurotis. Mereka lebih dekat dengan cara pikir positif. Mereka tidak selalu tenang, kadang-kadang bisa meledakkan amarah pula; bosan dengan obrolan basa-basi , omong-kosong, dan hiruk-pikuk suasana pesta.
      15. Mereka mempunyai “hirarki nilai” yang jelas. Mereka mampu melihat dan membedakan mana yang lebih penting dan harus diprioritaskan dalam situasi tertentu. Kadar konflik dirinya rendah. Mereka memiliki lebih banyak energi untuk tujuan-tujuan yang produktif daripada menghabiskan waktu untuk menyesali diri dan keadaan. Bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur, dan dengan tulus mengikutinya. Bagi orang-orang ini, disiplin diri relatif mudah sebab apa yang ingin mereka lakukan sejalan dengan apa yang mereka yakini benar. Nilai-nilai mereka didasarkan pada apa yang nyata bagi mereka, bukan pada apa yang dikatakan orang lain kepada mereka.
      16. Resistensi terhadap inkulturisasi. Mereka mampu melihat hal-hal di luar batasan kebudayaan dan zaman. Maslow menyebut mereka mempunyai apa yang disebut “kemerdekaan psikologis”. Hal itu tercermin dari keputusan-keputusan mereka yang terkadang “melawan arus” pendapat khalayak ramai. Mereka tidak segan menolak kebudayaan mereka jika memang tidak sejalan dengan akal sehat. Untuk hal-hal kecil seperti sopan-santun, bahasa, dan pakaian, makanan, dan sebagainya tidak dipermasalahkan. Tapi bila menyangkut hal-hal yang dirasa melawan prinsip-prinsip dasar, mereka dapat bersikap bebas mandiri dan bertindak di luar kebiasaan.
      17. Mereka cenderung mencari persahabatan dengan orang yang memiliki karakter yang sama, seperti jujur, tulus hati, baik hati dan berani, namun tidak menghiraukan ciri-ciri superfisial seperti kelas sosial, agama, latar belakang ras, dan penampilan. Dalam hal ini mereka tidak merasa terganggu oleh perbedaan-perbedaan. Makin matang kepribadiannya, mereka makin tidak peduli dengan penampilan ayu, tubuh tegap, badan montok, dan sebagainya. Sebaliknya mereka amat menjunjung tinggi soal kecocokan, kebaikan, ketulusan, dan kejujuran.
      18. Secara umum dapat dikatakan bahwa orang yang teraktualisasi diri cenderung membina hidup perkawinan yang kokoh, bahagia, dan berlangsung seumur hidup. Dalam pribadi yang sehat, perkawinan yang terbina memungkinkan kedua belah pihak saling meningkatkan kepercayaan dan harga diri, saling memberikan manfaat.
      19. Mereka itu sangat filosofis dan sabar dalam menuntut atau menerima perubahan yang perlu secara tertib. Sementara kebanyakan orang dalam masyarakat cenderung bersikap sangat praktis atau sangat teoritis, orang yang teraktualisasi diri lebih condong bersikap praktis sekaligus teoritis tergantung kondisi yang bersangkutan. Mereka berusaha mencintai dunia apa adanya, dengan tetap membuka mata pada kekurangan yang ada seraya berupaya memperbaikinya.

      Menurut Maslow orang dewasa secara normal memuaskan kira kira 85% kebutuhan fisiologis, 70% kebutuhan rasa aman, 50% kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40% kebutuhan harga diri serta 10% kebutuhan aktualisasi diri. Pernyataan tersebut cukup logis karena rata rata orang lebih termotivasi memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa ditunda tunda lagi seperti makan, minum dan kebutuhan fisiologisnya. Sementara kebutuhan lainya masih bisa ditunda.[13]

      Dalam prosesnya teori Maslow menjelaskan bahwa tingkatan kebutuhan hirarki diatas dapat dicapai setiap manusia secara bertahap. Suatu tingkatan kebutuhan memerlukan pemuasan yang optimal apabila ingin berpindah ke tingkatan selanjutnya. Sifat statis teori ini mengindikasikan bahwa orang akan terus menerus berupaya memenuhi tingkatan kebutuhanya yang belum terpenuhi hingga puas dan tidak memotivasi dirinya lagi. Jika keadaan sudah puas terjadi orang akan berpindah ke kebutuhan selanjutnya yang nilai kepuasanya lebih tinggi dan memerlukan upaya yang lebih tinggi lagi. Begitulah seterusnya hingga manusia mencapai kepuasan tertinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri di masyarakat.

      Namun, keadaan setiap individu yang berbeda beda baik dari segi ekonomi, status, jabatan dan lain lain menyebabkan kebutuhan setiap individu berbeda beda dan berada dalam berbagai tingkatan. Ini tentu jadi tantangan bagi pemimpin untuk memahami keberadaan motivasi karyawan karyawanya sehingga tidak ada kesalahan ketika memberikan sebuah perangkat motivator seperti bonus, promosi dll. Pemimpin yang mampu membaca tingkatan motivasi bawahan akan dapat dengan mudah menentukan paket motivator yang cocok bagi bawahanya.

      Lebih jauh Maslow menjelaskan bahwa tingkatan kebutuhan yang ia susun dibagi menjadi dua jenis kebutuhan umum, yaitu:

      1. Kebutuhan order rendah yang mencangkup kebutuhan fisiologis dan keamanan
      2. Kebutuhan order tinggi yang mencangkup kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri

      Kedua klasifikasi kebutuhan diatas membedakan sumber pemenuhannya masing masing. Kebutuhan order rendah dipenuhi secara internal (dalam diri orang itu) sedangkan kebutuhan order tinggi dipenuhi secara eksternal (misal dengan upah, kontrak, masa kerja,dll).

      III. KRITIK & REFLEKSI TEOLOGIS

      Manusia diciptakan dengan disertai berbagai kebutuhan. Maslow mencoba membagi kebutuhan manusia itu dalam 5 (lima) tingkat kebutuhan yang dikenal dengan “Teori Hirarki Kebutuhan”. Kebutuhan adalah anugerah Tuhan kepada manusia agar ia bisa hidup. Manusia sering salah memahami makna kebutuhan itu seakan-akan kebahagiaan utama akan diperoleh bila kebutuhan-kebutuhan itu telah terpenuhi. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah “kapankah kebutuhan manusia itu terpenuhi?”

      Dari Teori Maslow ini terlihat bahwa manusia tidak pernah merasa puas. Ketika kebutuhan yang satu telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lainnya yang lebih meningkat. Terlepas dari itu, masing-masing manusia punya standard khusus untuk tiap-tiap kebutuhan itu bahkan standardnya akan terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Jadi dari hal ini dapat disimpulkan bahwa manusia tidak akan pernah puas akan kebutuhan-kebutuhan itu. Bila mengikuti Teori Maslow maka manusia tidak akan pernah bisa meningkat ke kebutuhan yang lainnya karena sepanjang hidup manusia tidak akan pernah puas dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. Dan kalaupun ia sudah mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, tidak berarti bahwa manusia itu tidak akan memikirkan lagi akan kebutuhan dasarnya. Jadi ini salah satu kelemahan dalam Teori Maslow.

      Maslow menempatkan kebutuhan yang yang sangat penting dalam kehidupan manusia dalam tingkatan yang lebih tinggi yaitu “Aktualisasi Diri”, yang di dalamnya terdapat kebutuhan rohani. Sehingga manusia tidak pernah berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang satu ini karena manusia sibuk untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan yang tidak pernah bisa terpuaskan karena tidak pernah “cukup”. Akhirnya yang tercipta adalah manusia-manusia yang serakah, individualisme, egoisme. Manusia-manusia yang mempunyai motto “hidup untuk makan” bukan “makan untuk hidup” .

      Manusia berada di bumi ini dalam lingkungan sosialnya pasti punya tujuan. Yesus memberikan fondasi kebutuhan manusia yang bertolak belakang dari Maslow. Maslow berkata bahwa manusia bila kelaparan maka akan berusaha dan bisa saja menghalalkan segala cara untuk memuaskan rasa laparnya. Namun Yesus ketika ia kelaparan dan dicobai oleh Iblis…Yesus berkata: Manusia hidup bukan dari roti saja,…[14] dari hal itu terlihat bahwa ada tujuan hidup manusia ini yang lebih mulia dari sekedar memuaskan rasa lapar. Tujuan utama hidup manusia adalah: “Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya” (Matius 6:33). Jadi yang utama adalah kebutuhan rohani yang harus mendapat prioritas utama untuk dipenuhi.

      Negeri kita sarat dengan praktek KKN…hal ini dikarenakan manusia sibuk untuk memuaskan kebutuhan dasarnya yang tidak pernah bisa terpuaskan…sehingga untuk bisa memuaskannya maka apapun cara akan ditempuh. Manusia hanya bisa terpuaskan bila sudah merasa “cukup”. Untuk bisa mencukupkan diri, maka yang paling utama dipenuhi adalah kebutuhan rohani.

      IV. SIMPULAN

      Maslow telah menguraikan akan kebutuhan manusia yang dikenal dengan hirarki kebutuhan. Menurut bila kebutuhan dasar berupa kecukupan fisiologis(makan, minum, tempat tinggal dan bebas dari rasa sakit) dan keselamatan/keamanan (bebas dari ancaman/aman) telah terpenuhi, maka akan meningkat pada pemenuhan kebutuhan yang disebut kebutuhan pertumbuhan yaitu: kebutuhan rasa memiliki (sosial dan cinta), kebutuhan harga diri (penghargaan diri dan penghargaan orang lain), dan kebutuhan aktualisasi diri (memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian, dan potensi). Konsep Maslow ini menekankan bahwa kebutuhan tingkat dasar harus terpenuhi terlebih dahulu/ tercukupi, bila kebutuhan ini telah terpenuhi maka akan mereda daya motivasinya dan kemudian akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat pertumbuhan.

      Maslow melupakan atau menempatkan kebutuhan yang paling penting dalam urutan yang paling tinggi (aktualisasi diri) sehingga manusia hanya terus berkutat dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Sekalipun demikian, teori Maslow ini bisa membeikan gambaran kepada kita akan pergumulan yang utama dalam kehidupan manusia yaitu pemenuhan kebutuhan fisiologis. Kiranya Makalah ini bermanfaat dalam pelayanan kita.

      KEPUSTAKAAN

      Alkitab, Jakarta: LAI, 2005

      Frank G. Goble, Mazhab ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta, Kanisius, 1987.

      Hall, Calvin S.  & Lindzey, Gardner, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Yoyakarta, Kanisius, 1993.

      Sarwono, Sarlito W. Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikolog,i, Jakarta: Bulan Bintang, 2002.

      Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, tt. Hlm. 588

      http://prohumancapital.blogspot.com/2008/07/aktualisasi-teori-motivasi-abraham.html.

      http://operedzone.wordpress.com/2008/08/15/teori-motivasi-hirarki-kebutuhan-maslow

      http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham Maslow


      [1] Sarlito W. Sarwono, Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikolog,i, Jakarta: Bulan Bintang, 2002, hlm. 174

      [2] Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Yoyakarta, Kanisius, 1993, hlm 106

      [3] Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham Maslow yang diupdate tanggal 08 September 2009

      [4] Sarlito W. Sarwono, Op. Cit. Hlm. 176

      [5] Frank G. Goble, Mazhab ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta, Kanisius, 1987, hlm. 71.

      [6] Ibid. Hlm. 72

      [7] Ibid. Hlm. 73

      [8] Sarlito W, Sarwono, Op. Cit. Hlm. 176

      [9] Patologi artinya: ilmu yang mengkaji tentang seluk-beluk penyakit. Lih. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, tt. Hlm. 588

      [10] Frank G. Goble,  Op. Cit., hlm 76

      [11] Sarlito W. Sarwono, Op. Cit.,hlm. 177.

      [12] http://prohumancapital.blogspot.com/2008/07/aktualisasi-teori-motivasi-abraham.html, diupdate tanggal 14 September 2009

      [13] Lih. http://operedzone.wordpress.com/2008/08/15/teori-motivasi-hirarki-kebutuhan-maslow, diupdate tanggal 15 September 2009

      [14] Lih. Pencobaan di Padang Gurun dalam Matius 4: 1-11; Markus 1: 12-13; Lukas 4:1-13)