Peranan SNK dalam Jemaat

PERANAN SATUA NIHA KERISO DALAM JEMAAT*

OLEH: Pdt. Budieli Hia, S.Th**

PENDAHULUAN

Hampir seluruh gereja di Indonesia mengenal apa yang disebut penatua. Gereja-gereja di Nias dan juga ONKP mengenal jabatan ini dengan istilah “Satua Niha Keriso” (SNK). Dalam jemaat-jemaat mula-mula jabatan ini sudah ada dan dipilih sendiri oleh rasul-rasul, misalnya dalam Kis. 14:23 dikatakan: “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”

Dari hal tersebut di atas, nyata bahwa penatua ini ini memiliki peranan yang sangat penting dalam jemaat sehingga jemaat semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Namun, yang menjadi pergumulan terutama bagi para penatua yang baru ditetapkan dalam jabatan tersebut adalah: apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami melakukannya? Kepada siapa kami bekerja/melayani? Bagaimana kalau kami tidak diterima? Apakah aku bisa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehingga mengakibatkan banyak di antara warga jemaat yang tidak mau bila di pilih sebagai salah seorang penatua.

Oleh karenanya pada kesempatan ini kita akan mendiskusikan bersama apa peranan kita (SNK) di tengah-tengah jemaat dan bagaimana kita melaksanakan peranan itu. Saya hanya akan memberikan beberapa pandangan sebagai dasar atau bahan diskusi kita.

JEMAAT

Sebagai pelayan, penatua harus memahami siapa yang ia layani. Tuhan mengutus penatua untuk melayani jemaat-Nya. Oleh karenanya seorang penatua harus betul-betul memahami, mengenal jemaat yang adalah kawanan domba milik Tuhan karena Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya untuk menggembalakan kawanan domba milikNya (Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21: 17).  Pemahaman dan pengenalan akan siapa yang dilayani (jemaat) sangat penting guna  pembinaan (penggembalaan) jemaat itu.

Oleh sebab itu dalam uraian ini kita akan menguraikan siapakah jemaat itu. Memang ada banyak istilah untuk memahami siapa jemaat itu, namun kita membatasi diri pada beberapa istilah saja, sebagaimana yang diuraikan oleh Abineno, yaitu:[1] Jemaat sebagai tubuh Kristus, jemaat sebagai persekutuan Roh, jemaat yang berkumpul, jemaat yang mengaku dan bersaksi, dan jemaat yang melayani.

  1. 1. JEMAAT SEBAGAI TUBUH KRISTUS

Menurut kesaksian PB jemaat adalah suatu kesatuan: suatu kesatuan antara Kristus dan orang-orang pilihanNya. Kesatuan ini dilukiskan atas rupa-rupa jalan: jemaat adalah anggota dari satu tubuh (1 Kor 12:12); anggota-anggota yang banyak itu takluk kepada satu Tuhan yang adalah kepala tubuh (Efs 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18; 2:19); jemaat adalah mempelai perempuan yang akan bersatu dengan Kristus sebagai mempelai laki-laki (Mrk 2:19; bnd Mat 22:2 dyb; 25:10 dyb; Luk 12:36; Efs 1:22 dyb); anggota-anggota jemaat adalah umatNya (1 Pet 2:9 dyb; Kol 3:12; Rm 11:2, 11 dyb); Ia adalah gedung atau bangunan dan  anggota-anggota jemaat adalah batu-batu yang hidup (1 Pet 2:5; Efs 2:20;bnd 1 Kor 3:9); Ia adalah pohon anggur dan anggota-anggota jemaat adalah carang-carangNya (Yoh 15:1 dyb); Ia adalah Gembala dan mereka adalah domba-dombaNya (Yoh 10:1 dyb), dan lain-lain.

Ungkapan yang paling jelas menyatakan kesatuan ini ialah tubuh Kristus. Ungkapan ini hanya terdapat dalam surat-surat rasul Paulus. Tubuh Kristus bukanlah suatu metafora, bukanlah suatu kiasan atau bandingan yang hanya mempunyai arti simbolis saja. Hal ini nampak dengan jelas dalam 1 Kor 10:16-17: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. Maksud Paulus dalam nas ini jelas: “dalam perjamuan Tuhan dipakai (dipecah-pecah) satu roti, dan karena semua anggota makan dari roti itu mereka menjadi satu tubuh, tubuh Kristus.” Di sini kita lihat, bahwa tubuh Kristus dalam perjamuan malam erat sekali hubungannya dengan tubuh Kritus sebagai jemaat. Siapapun juga tidak dapat menyangkal, bahwa tubuh Kristus dalam nas ini bukan hanya suatu kiasan saja.

Juga dalam 1 Kor 12:13: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka…”, dan dalam Rm 12:5: “kita yang banyak ini adalah satu tubuh dalam Kristus”, hal itu tampak dengan jelas. Dari Nas ini dan juga masih banyak nas lain, kita bisa melihat bahwa kesatuan dalam tubuh Kristus adalah suatu kesatuan baru, suatu kesatuan yang luar biasa, sebab kesatuan antara orang Yahudi dan orang Yunani, antara tuan dan hamba, hanya mungkin di dalam jemaat Yesus Kristus. Di dalam Dia berakhir segala perbedaan dan perseteruan yang memisahkan mereka.

  1. 2. JEMAAT SEBAGAI PERSEKUTUAN ROH

Sekalipun di atas telah diuraikan bahwa jemaat adalah tubuh Kristus, namun yang perlu diperjelas adalah bahwa jemaat bukan Kristus. Kesatuan ini dalam PB diistilahkan sebagai “kesatuan dalam perbedaan”. Jemaat adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah Kepala jemaat. Keduanya erat hubungan. Di dalam kesatuan itu mempunyai “diri” sendiri: ia disapa, ditegur, dinasihati, dihakimi, tetapi di dalam semuanya itu ia tidak terlepas dari Kristus. Ia berada di dalam Dia (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1). Segala sesuatu yang ia alami, ia alami di dalam Dia.

Situasi yang nampaknya seperti kontradiksi ini dalam PB tidak dipersoalkan sebagai suatu masalah, tetapi dihidupi dan disaksikan sebagai suatu kenyataan. Di situ kita bertemu dengan suatu hidup, yang dihidupi oleh manusia sendiri, tetapi yang bukan miliknya: suatu hidup yang ia terima dari Tuhan Allah dan yang ia hidupi di hadapanNya dan karena itu suatu hidup yang benar-benar adalah hidup pribadi, hidup yang bertanggungjawab. “Sekarang aku hidup, tetapi bukan aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20), kata rasul Paulus. Hidup yang kita hidup sekarang, tetapi yang bukan hidup kita sendiri ialah hidup “di dalam Roh” (Gal 5:16).

Hidup ini, seperti yang telah kita dengar tadi, mempunyai dua muka. Keduanya sama riil. Pada satu pihak kita membaca bahwa jemaat tidak berbeda dengan persekutuan-persekutuan lain di dunia; anggota-anggotanya adalah orang-orang bercacat, yang bersalah, yang berdosa. Di dalam Pbhal itu tidak disembunyikan. Malahan sebaliknya. Di situ cacat, kesalahan dan dosa itu terang-terang disebutkan. Tentang jemaat di Korintus umpamanya dikatakan bahwa anggotanya terbagi-bagi dalam golongan-golongan yang fanatik, mereka saling adu-mengadukan, di antara mereka ada yang berzinah, ada wanita-wanita yang serong jalannya, ada penyembah-penyembah berhala,ada orang-orang yang angkuh, dan lain-lain. tentang jemaat di Efesus dikatakan, bahwa hidup anggotanya tidak beres; ada yang mencuri, ada yang berdusta, ada yang berzinah, ada yang mabuk, ada yang kotor (“keji”) mulutnya, ada yang hidup di dalam percabulan, dan lain-lain. tentang jemaat Filipi kita mendapat keterangan yang sama: anggota-anggotanya tidak sehati, mereka tidak saling mengasihi, tidak saling melayani, tetapi sebaliknya, mereka berkelahi (berbantah-bantah), mereka cemburu seorang terhadap yang lain, mereka mementingkan diri sendiri, dan lain-lain. Keadaan ini kita temui dalam semua jemaat. Dan ini adalah riil. Hal ini tentu kita semua akui.

Tetapi pada pihak lain jemaat (dan anggota-anggotanya) juga disebut “bangsa yang kudus…umat dan milik Allah sendiri” (1 Pet 2:9), “tiang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15),”orang-orang kudus” (1 Kor 1:2 dll), persekutuan “yang tidak bercacat” (Efs 5:26 dyb), dan lain-lain. gambaran ini juga riil. Apa yang disebutkan di atas bukanlah suatu cita-cita yang harus dikejar dan coba dilaksanakan, tetapi suatu kenyataan (realitas): jemaat adalah (bukan: harus menjadi) tiang dan dasar kebenaran, persekutuan yang tidak bercacat, dan lain-lain. jemaat adalah kudus, karena itu ia harus hidup di dalam kekudusan (1 Ptr 1:15 dyb),  hidup dalam kebenaran (Efs 5:9), dan ia harus hidup dalam kemurnian (Flp 2:15). Pengudusan dan pembenaran jemaat bukanlah suatu peristiwa ideologis, tapi suatu kejadian yang konkrit, yang terjadi kini dan disini, artinya pada waktu kini dan di tempat ini.

Jadi yang penting, yang harus kita ingat di sini, ialah bahwa jemaat yang penuh dengan cacat, kesalahan dan dosa seperti yang kita lihat di mana-mana di dalam dunia, adalah benar-benar bangsa yang kudus, adalah benar-benar umat dan milik Allah sendiri, adalah benar-benar tiang dan dasar kebenaran, adalah benar-benar persekutuan yang tidak bercacat, adalah benar-benar rumah Allah di dalam Roh (Efs 2:21-22). Dan Roh ini bukan hanya mendorong jemaat saja untuk hidup di dalam kekudusan dan kebenaran, tetapi Ia juga menciptakan, Ia juga menantang kekudusan dan kebenaran itu. Perjungan yang berlangsung antara Roh dan kuasa-kuasa kegelapan tidak terjadi di dunia lain, tetapi di sini, di dalam jemaat dan di dalam diri tiap-tiap anggotanya (Gal 5:16, dyb)

Roh yang bekerja di dalam jemaat ialah Roh Allah, Roh Kristus. Di dalam Dia Tuhan Allah sendiri hadir di tengah-tengah jemaat. Oleh pekerjaanNya pada hari pentakosta (Kis 2) “terciptalah” ia sebagai jemaat zaman akhir: jemaat selamat (ayat 17-21; bnd. Yoel 3:28-32), jemaat Kerajaan Allah (1:6; dyb), yang dalamnya mulai berlangsung pemerintahan Yesus Kristus sebagai Tuhan jemaat dan Raja dunia.

Adanya jemaat sebagai tubuh Kristus – yang mengakuiNya sebagai Tuhan (1 Kor 12:3) dan anggota-anggotanya sebagai anak-anak angkat (Rm 8:15) – di dalam dunia ini ialah karena pekerjaan Roh. Itulah sebabnya, maka di dalam PB “tubuh” dan Roh” itu sering kita temui sebagai kata-kata yang hampir bersamaan artinya. “Dalam satu Roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor 12:3). Demikian pula dalam Efs 2:16 dan 18: “satu tubuh” dan “satu Roh” dan dalam pasal 4”4 yang menyerupai suatu pengakuan: “satu tubuh dan satu Roh, seperti yang kamu telah dipanggil di dalam satu pengharapan. Dalam Roh Kudus tubuh Krsitus mendapat realitasbta yang konkrit: ia adalah persekutuan “orang-orang rohani”.

  1. 3. JEMAAT YANG BERKUMPUL

Di atas dikatakan bahwa jemaat adalah suatu persekutuan yang konkrit, samakonkritnya dengan persekutuan-persekutuan lain di dunia ini: ia mempunyai anggota-anggota, ia mempunyai peraturan-peraturan, ia mempunyai susunan tertentu, dan lain-lain. sungguhpun demikian ia tidak dapat digolongkan pada persekutuan-persekutuan itu. Ia mempunyai ujud atau hakekat yang lain. Ia berada di dunia, tetapi ia tidak berasal daripadanya (Yoh. 17:11 dyb)

Hal itu tidak berarti, bahwa ia tidakada sangkut-pautnya dengan dunia ini. Malahan sebaliknya.justru karena dunia inilah ia ditempatkan Tuhan di dalamnya. Karena itu ia tidak dapat melarikan diri dari sana, tanpa mengkhianati tugasnya itu dan menyangkali pemerintahan Kristus sebagai Tuhan jemaat dan Raja dunia.

Menurut PB jemaat sebagai tubuh Kristus bukan saja berada di mana-mana – “diseluruh alam” (Efs 1:23) – seperti yang telah kita dengar, tetapi ia juga terdapat di suatu tempat tertentu, misalnya: jemaat di Korintus (1 Kor 1:2), jemaat di Laodikea (Kol 4:16), jemaat di Tesalonika (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1), jemaat di rumah Akwila dan Priskila (Rm 16:5; 1 Kor 16:19), jemaat di rumah Nimphas (Kol 4:15), dan lain-lain. Sesuai dengan itu jemaat-jemaat yang terdapat di suatu daerah (wilayah) kadang-kadang disebut dalam bentuk jamak, misalnya: jemaat-jemaat di Asia (1 Kor 16:19), jemaat-jemaat di Galatia (1 Kor 16:1, Gal 4:2), jemaat-jemaat di Makedonia (2 Kor 8:1), jemaat-jemaat di Yudea (Gal 1:22, 1 Tes 2:14), dan lain-lain. di samping itu jemaat-jemaat yang banyak itu kadang-kadang juga disebut dalam bentuk tunggal, misalnya jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria (Kis 9:31), jemaat yang disiksa oleh Saulus (Gal 1:13; 1 Kor 15:9; Flp 3:6), maksudnya bukan satu jemaat tertentu, tetapi jemaat Allah, seperti yang terdapat di mana-mana.

Jemaat-jemaat di atas mempunyai hubungan yang erat satu sama lain. jemaat-jemaat itu merupakan suatu keluarga besar, tetapi dalam keluarga itu tidak terdapat pengertian-pengertia seperi bagian, cabang, jumlah atau gabungan. Jemaat-jemaat ini adalah “jemaat Allah”, sebagai orang-orang “yang dikuduskan di dalam Yesus Kristus” (1 Kor 1:2, dll) ia tidak berasal dari dunia ini. Ia nampak di suatu tempat yang tertentu, tetapi ujud atau hakekatnya ia terima dari dunia lain. ia adalah jemaat yang hidup di bawah janji Kristus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Jemaat ialah di mana orang-orang datang berkumpul dalam nama Yesus Kristus, atau seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, di mana mereka berseru kepadaNya (1 Kor 1:2)

Ditinjau dari sudut ke-konkritan jemaat yang berlangsung dalam waktu dan ruang sangat penting. Kita jangan memperhatikan saja bagian yang kedua dari Mat 18:20, yaitu janji Kristus, tetapi juga bagian pertama: kehadiranNya di dalam jemaat. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, artinya: di tiap-tiap tempat, “di mana Firman dan perbuatanNya, hidup dan kematianNya mereka beritakan”, Yesus Kristus “yang memenuhi segala sesuatu” (Efs 1:23), yang kepadaNya telah diserahkan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat 28:18), hadir bersama-sama dengan mereka. Ia hadir dan berfirman, mereka berkumpul dan menjawab. Ia hadir dan mengampuni, mereka berkumpul dan memuji namaNya.

  1. 4. JEMAAT YANG MENGAKU DAN BERSAKSI

Tadi telah diuraikan bahwa jemaat itu bukanlah persekutuan yang statis tetapi yang dinamis. Di sana bukan saja berkumpul anggota-anggota jemaat. Tetapi Kristus hadir bersama-sama dengan mereka. Ia hadir sebagai Tuhan. Ia hadir dan berfirman dan Ia menghendaki supaya mereka memberi jawa kepadaNya.

Jawab seperti itu jemaat berikan dalam rupa-rupa bentuk: dalambentuk pengakuan, dalam bentuk doa, dalam bentuk pengucapan syukur, dalam bentuk puji-pujian, dan lain-lain. dari semua bentuk ini pengakuan (dan kesaksian) yang paling sentral: ia terdapat dalam doa, pengucapan syukur, puji-pujian, bahkan ia terdapat dalam segala pelayanan jemaat. Itulah sebabnya, maka dalam PB ia memainkan peranan yang sangat penting,sekalipun kata “pengakuan” tidak sering kita temui di sana. Jemaat tidak dapat kita pikirkan tanpapengakuan. Ia ada sebab dan seberapa jauh ia mengaku.

Pengakuan jemaat bukanlah uraian tentang pikiran atau pandangan sendiri. pengakuan itu, seperti yang telah dikatatakan di atas,adalah jawab: jawab atas Firman dan perbuatan Allah. Pengakuan yang demikian tidak dapat diucapkan begitu saja. Ia hanya mungkin oleh percaya. Tanpa percaya jemaat tidak dapat mengaku. Hal ini nampak dalam jelas dalam Rm 10:9-10: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”. Juga dalam II Kor 4:13: di sana dikatakan, bahwa pengakuan dan pemberitaan timbul dari percaya.

Tetapi percaya itu, seperti yang telah berulang-ulang kita dengar, bukanlah prestasi, bukanlah hasil usaha jemaat. Ia adalah kurnia Allah. Ia diciptakan oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam hati anggota-anggota jemaat (bnd. Rm 8-26,15,16). Tanpa pekerjaan Roh Kudus jemaat tidak dapat percaya dan karena itu tidak dapat juga mengaku: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengaku “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1 Kor 12:3).

Jemaat terpanggil, bukan saja untuk mengaku, tetapi juga untuk bersaksi, karena Tuhan menghendaki, supaya semua orang beroleh keselamatan (1 Tim 2:4). Untuk tugas itu Ia memberikan  kuasa (Mat 10:1; Mrk 6:7; Luk 9:7; Kol 1:29) dan RohNya (Kis 2; 1 Kor 12:3 dyb; 2 Tim 1:14) kepadanya. Di dalam RohNya itu Ia ada bersama-sama dengan dia (Mat 28:20). Ia memimpin dan menguatkannya di dalam penyaksiannya (1 Kor 2:13), malahan Ia sendiri berkata-kata (=bersaksi) menggantikannya (Mat. 10:19,20; Luk 12:11,12).

Menurut kesaksian PB bersaksi adalah suatu pelayanan yang sukar, suatu pelayanan yang meminta penderitaan dan korban. Kepada murid-muridNya yang Ia utus untuk pelayanan itu Tuhan Yesus katakan, bahwa mereka akan hidup sebagai domba di antara serigala-serigala (Mat 10:16), bahwa mereka akan dibenci oleh semua orang (ay 22), juga oleh kaum keluarganya sendiri, bahkan mereka akan disiksa (ay 23), bahwa mereka akan diserahkan kepada pemerintah, raja-raja, dan majelis-majelis pengadilan, malahan mereka akan disiksa dan menderita snegsara karena namaNya (ay 17, 18)

Berhubung dengan itu banyak anggota jemaat tidak akan setia. Mereka akan murtad. Dalam khotbah pengutusan di atas Tuhan Yesus juga telah mengatakan hal itu. Sungguhpun demikian JemaatNya tidak akan musnah. Sebab jatuh-bangunnya jemaat tidak bergantung kepada kesetiaan atau ketidak-setiaan anggota-anggotanya. Jemaat berada di dalam Allah Bapa dan Yesus Kristus (1 Tes 1:1; 2 Tes 1:1). Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah dasarnya.oleh karena itu tidak ada suatu kuasapun di dunia ini yang dapat mengalahkannya, gerbang-gerbang kerajaan mautpun tidak! (Mat 16:19).

Penyaksian jemaat berlangsung di dalam dunia, di antara orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus dan yang karena itu belum menjadi anggota jemaat (gereja)-Nya: mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis 1;8; bnd Mat 24:14). Dalam Mat 18:19 orang-orang yang belum percaya kepada Yesus disebut “segala bangsa”. Segala bangsa dalam hal ini adalah semua manusia di dalam dunia.

  1. 5. JEMAAT YANG MELAYANI

Jemaat dalam pelayanannya (pengakuan dan kesaksian) tidak terbatas pada sekedar kata-kata saja. Lebih daripada itu harus diteruskan dengan pelayanan dengan perbuata. Kedua hal ini (perkataan dan perbuatan) mempunyai kaitan/ hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Hal ini sesuai dengan ujud (hakekat) Firman Allah. Dalam PL Firman Allah bukan hanya perkataan saja, tetapi  juga perbuatan: “Ia berfirman, maka semuanya jadi. Ia bertitah, maka semuanya ada” (Mzm 33:9; Kej 1:3). Firman Allah adalah Firman Perbuatan. Kesaksian ini kita dapati juga dalam PB.Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi daging, bukan saja melayani dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan. Dalam pelayananNya ke dua hal ini erat bersatu: perkataanNya adalah perbuatan dan perbuatanNya adalah perkataan.

Pelayanan ini – dengan perkataan dan perbuatan – ditegaskan oleh Kristus kepada anggota-anggota jemaatNya. Mereka harus melayani menurut pola, yang  Ia berikan kepada mereka, yaitu pola hidupNya sendiri, pola hidup pelayan (Rm 15:8), pola hidup hamba Allah (flp 2:7): “barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada.” (Luk 22:27; Yoh 12:16).

Pelayanan (diakonia) ini bukan pekerjaan moral. Ia juga bukan pekerjaan amal. Pelayanan dalam PB mempunyai arti yang lebih dalam: ia adalah partisipasi sesungguhnya di dalam kepapaan dan penderitaan manusia. Seperti yang dibuat oleh Yesus “yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongka diriNya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. (Flp 2:6-8). Oleh kematianNya itu Ia masuk sampai ke dasar eksistensi manusia dengan segala dosa dan penderitanNya.

Dalam Yoh 13:15, sesudah Ia mencuci kaki (merendahkan diri dan melayani) murid-muridNya, Ia berkata kepada mereka: “Aku telah memberikan suatu contoh kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Aku buat terhadap kamu”. Yang Ia maksudkan di sini dengan “contoh” bukanlah pekerjaan susila yang harus mereka tiru, tetapi “undangan” untuk menerima pola hidupNya: pola hidup pelayan, pola hamba.

Aspek lain yang harus dilakukan jemaat yang merupakan aspek khusus dari panggilan jemaat, yaitu pelayanan  kepada dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang istimewa membutuhkan bantuan: orang-orang miskin, orang-orang sakit, orang-orang hukuman, orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dalam Rm 12:7 diakonia dalam arti ini, yaitu suatu karunia atau kharisma khusus yang berbeda dengan karunia nubuat, karunia pengajaran, karunia pimpinan dan lain-lain.

Pelayanan ini harus jemaat berikan bukan saja kepada anggota-anggotanya, tetapi juga kepada mereka yang belum (tidak) menjadi anggotanya, sesuai dengan pola hidup Tuhannya, yang datang ke dalam dunia untuk melayani dan menyerahkan hidupNya sebagai harga tebusan bagi semua orang. Ungkapan “saudara-saudaraKu yang paling hina” (Mat 25:40) ini bukan hanya mengenai murid-murid Tuhan Yesus atau anggota-anggota jemaat saja, tetapi melingkupi semua orang yang membutuhkan bantuan – orang-orang lapar, orang-orang dahaga, orang-orang yang telanjang, orang-orang yang sakit, orang-orang hukuman, dan lain-lain – jadi juga orang kafir. Ungkapan ini sama dengan ungkapan-ungkapan lain seperti “orang-orang kecil”, “orang-orang papa”, “orang-orang miskin” yang selalu kita temui dalam kitab-kitab Injil, semua orang-orang yang rendah dan hina, tetapi yang dilindungi oleh Tuhan Allah dan yang kepadanya dijanjikan Kerajaan Sorga.

PENATUA DAN JABATANNYA[2]

  1. 1. Pengertian Jabatan

Sering terjadi kesalah pahaman atau kesalah pengertian tentang jabatan ini. Hal ini disebabkan karena kita selalu berhadapan dengan dunia sekuler, sehingga kita tidak bisa membedakan jabatan dalam pengertian gerejani dengan jabatan dalam masyarakat atau dalam pemerintahan. Memang jabatan ini memiliki persamaan tetapi juga memiliki perbedaan yang signifikan dalam pelaksanaannya.

Kalau demikian apakah itu jabatan dan apakah itu pemangku jabatan. Arti umum dari jabatan ialah profesi atau tugas. Jabatan dalam arti ini biasanya digunakan oleh pemerintah untuk pegawai-pegawai atau karyawan-karyawannya. Oleh penggunaan ini timbullah perbedaan antara jabatan dan profesi. Kita memilih suatu profesi. Dari kemungkinan-kemungkinan yang ada, kita memilih satu di antaranya, umpamanya: guru, atau dokter, atau perawat, dan lain-lain – sebagai profesi kita.

Tetapi kita memangku suatu jabatan berdasarkan pengangkatan. Oleh pengangkatan itu kita memperoleh suatu kewenangan yang tertentu, yang diakui orang. Jadi suatu jabatan – dalam arti ini – mempunyai suatu sifat yang tetap, yang harus memenuhi suatu lowongan. Hal itu berlaku baik bagi pejabat-pejabat pemerintah, maupun bagi pejabat-pejabat Gereja.

Atas dasar di atas, maka banyak menimbulkan kesalahpahaman, malahan kadang-kadang menimbulkan kekacauan dalam gereja. Sebab para pejabat gereja (pendeta, guru jemaat, penatua, pengurus komisi-komisi)  bukan pejabat-pejabat seperti dalam pemerintahan.

Pemangku-pemangku jabatan dalam Jemaat atau Gereja adalah hamba-hamba dari Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. kata atau istilah yang digunakan dalam PB untuk apa yang kita sebut pemangku jabatan ialah “diakonos” artinya “pelayan” dan “diakonia” artinya “pelayanan”. Nas Alkitab yang paling penting dalam hubungan ini ialah Markus 10:45, di mana Yesus mengatakan, bahwa “Ia (= Anak Manusia) bukan datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Nas ini mempunyai makna yang sangat penting bagi seluruh pelayanan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat gerejawi.

Kepada murid-muridNya Yesus katakan: “Aku berada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk 22:27). Dalam pelayananNya ia merendahkan diriNya dan taat sampa mati, bahkan sampai mati di kayu salib (bnd. Flp 2:8). Dalam kasihNya yang melayani Ia berjalan sampai ke yang paling jauh. Dan hal ini Ia gunakan sebagai “contoh” atau “teladan” bagi pengikut-pengikutNya (bnd. a.l. Yoh 13:14-15), khususnya bagi pejabat-pejabat yang melayani dalam GerejaNya. Jadi, melayani dalam arti Kitab Suci – yaitu melayani dengan seluruh penyerahan diri dalam dalam kasih, sama seperti Kristus – hanya dapat kita pelajari dari Dia. Oleh karenanya dalam menunaikan tugas pelayanan ini harus dilaksanakan dengan rendah hati.

  1. 2. Relasi antara penatua dan pejabat-pejabat lain

Penatua bukanlah satu-satunya pejabat dalam jemaat. Di situ ia melayani bersama-sama dengan pejabat-pejabat yang lain. bersama-sama mereka memelihara dan memberikan pimpinan kepada jemaat. Pejabat-pejabat yang lain itu misalnya pendeta, guru jemaat, pengurus komisi-komisi ditgaskan untuk bekerja sama dalam jemaat. Oleh karenanya mereka dapat saling membantu dan saling mengisi. Benar, bidang pelayanan mereka tidak sama; ada yang berfungsi di bidang pemberitaan, adang di bidang penggembalaan, ada yang di bidang diakonia, dan lain-lain. tetapi pelayanan yang mereka lakukan itu saling berhubungan. Karena itu mereka tidak dapat melakukan pelayanan mereka sendiri-sendiri, tanpa menghiraukan apa yang dikerjakan oleh pejabat-pejabat lain.

  • Urutan, yang biasa digunakan untuk menyebut pejabat-pejabat kita ialah: pendeta, Guru Jemaat, penatua, dan komisi-komisi. Urutan ini bukan urutan tingkat atau derajat, seperti yang terdapat dalam gereja Katolik Roma.
  • Urutan ini juga bukan urutan fungsional, seperti yang terdapat dalam pemerintah: di situ terdapat pejabat tinggi, pejabat menengah dan pejabat rendah. Pejabat-pejabat gerejawi bukan pegawai-pegawai atau karyawan-karyawan. Karena itu mereka tidak dapat dibagi atau diatur demikian.
  • Penatua tidak lebih rendah dari pada pendeta dan guru jemaat dan tidak lebih tinggi daripada pengurus komisi-komisi. Mereka semua adalah Pejabat.

Jabatan-jabatan gerejawi – seperti yang kita katakan di atas – berbeda-bed, tetapi setingkat. Jabatan-jabatan gerejawi (yang berbeda-beda) itu saling melengkapi dan saling membutuhkan. Dalam 1 Kor 12 Paulus memperlihatkan, bagaimana rupa-rupa karunia Roh yang ada dapat berfungsi dalam tubuh Kristus yang satu. “mata tidak dapat katakan kepada tangan: “aku tidak membutuhkan engkau”. Dan kaki tidak dapat katakan kepada telnga: “aku tidak membutuhkan engkau”. Dan lain-lain”.

Demikian juga dengan pejabat gerejawi. Mereka tidak dapat katakan seorang kepada yang lain: “aku tidak membutuhkan engkau.” Benar, untuk pelayanan, yang ditugaskan kepada mereka masing-masing, mereka memperoleh kharisma dari Tuhan Gereja. Tetapi kharisma-kharisma itu terbatas. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang memperoleh semua kharisma, yang ia butuhkan untuk pekerjaannya, sehingga ia tidak memerlukan bantuan pejabat-pejabat yang lain.

  1. 3. Pelayanan Penatua sebagai Pejabat

Secara umum tugas penatua di tengah-tengah jemaat yaitu untuk menjaga dan memelihara Jemaat Tuhan – kawanan domba Kristus – dan mengawasi supaya tiap-tiap anggota gereja – khususnya anggota-anggota sidi – hidup menurut Firman Allah. Mereka selanjutnya ditugaskan untuk mengingatkan jemaat akan tugasnya, yaitu – supaya ia denga perkataan dan perbuatan – memberitakan Firman Allah di dunia.

Firman yang telah diberitakan kepada kita di dalam jemaat, harus tumbuh dan berbuah. Tugas penatua-penatua ialah berjalan keliling dan melihat, apakah hal itu nampak dalam hidup anggota-anggota jemaat. Pada saat peneguhan SNK telah diuraikan tugas penatua di dalam jemaat yaitu:

1)    Latolo zangombakha taroma Li Lowalangi, satua andrõ. Faoma la’ohalõwõgõigõ wamaigi-maigi banua Zo’aya fa lõ taya wamatira, fa tedou mbua-bua si sõkhi, bua-bua Niha Keriso, fa la’ata’ufi Lowalangi sifaronga fa lõ fabali ira, fa lõ fasoso-soso, fa lategu ndraono ba zi lõ sõkhi. Ba fanuturu lala khõra saekhu khõ Lowalangi; fa lõ aefa wangenanõ, awõ huku si sõkhi, ba fanenawa ngawalõ waya fefu. Bõi la’ata’ufi satua andrõ gofu haniha ia, ba bõi so ba dõdõra ena’õ la omasi’õ ira niha, ba bõi bõrõ da’õ wa lõ lategu sa’ae mbua-bua si lõ sõkhi, sinenge Lowalangi. La’oromaõ lala andrõ ba zolalõ, ba wolo’õ somasi Yesu. Ya hulõ na ifarou dõdõ nononia ama ba ina. Ya mamahaõ daroma Li ba mango’ou duma-duma ba zato, ena’õ tefosumange Lowalangi ba mbua-bua si sõkhi ba mbanua ena’õ oi nihaogõ fefu, ba ena’õ atulõ fefu hadia ia.

2)    Mohalõwõ zatua andrõ, wamaigi-maigi falõ fagua-gua ba gosali, ero na owulo ni’amoni’õ andrõ khõ Zo’aya, he ba Migu, ba he ba zekola, ba gofu manõ heza owulo mbanua Yesu, ba wamatunõ taroma Li Lowalangi, fa’a’oi ahono wamondrondrongo hadia ni’ombakha’õ ba da’õ. La hõrõ-hõrõgõi fa lõ te ta’unõi luo ni’amoni’õ andrõ khõ Zo’aya Lowalangida, ya’ia luo Migu andrõ. Ena’õ la’angenanõi wo’amoni’õ ngaluo andrõ ba wolo’õ oroisa Lowalangi. Lafarou dõdõ zatua ba we’amõi ba Migu, fa lõ tebulõ-bulõ mbanua Yesu, barõ wamaha’õ fefu.

3)    Mo’õmõ zatua andrõ, wango’oigõ tõdõra, wanolo fefu si gõna fa’abu dõdõ, gofu hadia ia. Latolo zi lõ ama ba si lõ ina awõ lakha mbanua si lõ sondrorogõ, hulõ na oroma wa talifusõra. Mohalõwõ ira wamolala tõdõ niha baero ba wanaglui fangorifi khõ Yesu  Keriso.

4)    Faoroma wamaigi-maigi ba fondrorogõ okhõta mnua niha Keriso, sebua ba side-ide, soya ba si lõ oya-oya, me no okhõta Lowalangi da’õ fefu, ba wondrou’õ banua-Nia, ba fangabõlõ zohalõwõ khõ-Nia fefu, ba wombambaya halõwõ andrõ. Bõi faruka wamini tõdõ ba falimosa. Ihõrõ-hõrõgõ sa zatulõ So;aya, ba ibe’e mbõrõ dalinga-Nia ba wangandrõra. Ba itõngõ So’aya dozi samazõkhi si lõ sõkhi, ba wangohori tõira ba gulidanõ.

Kita yakin, bahwa sebagai pejabat ia bukan saja banyak mengalami kesulitan dan kekecewaan dalam pekerjaannya, tetapi juga banyak kegembiraan, malahan mungkin lebih banyak kegembiraan daripada kesulitan dan kekecewaan.karena justru sebagai pejabat ia tahu, bahwa pekerjaan Allah – bagaimanapun banyaknya kendala dan tantangan yang ia hadapi – akan terus berlangsung “sampai pada hari Yesus Kristus” (Flp 1:6).

Sesuai dengan nasihat Paulus kepada para penatua di Efesus (Kis 20:28) para penatua kita juga diwajibkan untuk menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan domba Allah, yang dipercayakan kepada mereka. Tetapi hal itu harus mereka lakukan secara rohani. Mereka – dalam pekerjaan mereka – harus memberi diri mereka dipimpin oleh Firman dan Roh Allah. Kalau tidak demikian “penjagaan” atau “pengawasan” mereka akan melulu terdiri dari peraturan-peraturan manusia yang bersifat legalitas.

Selain dari pada tugas-tugas di atas, kepada penatua juga dipercayakan tugas pastoral. Anggota-anggota jemaat harus mereka kunjungi di tumah-rumah mereka. Bukan saja “gembala dan pengajar” (bnd Efs 4), juga penatua melakukan pekerjaan penggembalaan. Ia ditugaskan untuk “menjaga” (Kis 20:28) dan “menggembalakan” kawanan domba Allah (1 Pet 5:8).

Banyak penatua segan dan tidak mau melakukan kunjungan rumah tangga, karena mereka kuatir tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh angota-anggota jemaat yang mereka kunjungi. Tetapi apa yang mereka kuatirkan itu biasanya tidak banyak terjadi. Anggota-anggota jemaat itu umumnya telah merasa puas dan bergembira, bahwa mereka dapat berkumpul bersama-sama dengan gembala-gembala mereka di sekitar Firman Allah yang mereka bacakan.

Memang tidak boleh disangkal, bahwa tugas penatua mencakup banyak hal dan bahwa persoalan-persoalan, yang ia temui dalam pekerjaannya, tidak selalu dapat ia selesaikan sendiri. Karena itu sebaiknya kunjungan rumah tangga jangan diadakan oleh penatua sendiri saja, tetapi bersama-sama dengan pejabat yang lain, khususnya dengan seorang diaken. Sebabnya ialah, karena biasanya anggota-anggota jemaat bukan saja bergumul dengan persoalan-persoalan iman, tetapi juga dengan persoalan-persoalan yang menyangkut kebutuhan hidup mereka.

Yang paling penting bagi kita ialah pertanyaan: Apakah penatua sebagai gembala benar-benar mencintai kawanan domba Allah yang dipercayakan kepadanya dan apakah ia benar-benar setia menunaikan tugasnya? Pertanyaan ini yang diajukan kepadanya pada waktu ia diteguhkan dalam jabatannya: “Apakah anda – karena kasih kepada Kristus dan pada jemaatNya – berjanji, bahwa anda akan setia menunaikan tugas anda dalam jabatan anda?” pertanyaan ini telah dijawab: “Ya, dengan segenap hatiku”. Karena itu ia sebenarnya tidak boleh kuatir atau takut menunaikan tugas yang ia terima.

  1. 4. Tugas dan Wibawa

Wibawa adalah hak untuk mengatakan sesuatu, hak untuk memerintah,hak untuk memutuskan. Dalam gereja hanya Kristus saja yang mempunyai hak untuk itu.itulah bedanya wibawa dalam gereja dan wibawa dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Wibawa dalam gereja tidak berdasar atas perjanjian-perjanjian, yang dibuat oleh anggota-anggota Gereja antara mereka dengan mereka. Wibawa dalam Gereja berdasar atas kehendak Kristus, yang diberlakukan oleh orang-orang yang Ia gunakan sebagai pejabat-pejabat dalam pelayananNya. Untuk pekerjaan itu Ia memberikan otoritas kepada mereka.

Waktu Ia mengutus ketujuh puluh muridNya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah di kota-kota dan di tempat-tempat yang akan dikunjungiNya, Ia antara lain katakan kepada mereka: “Siapa mendegar kamu, Ia mendengarkan Aku, siapa menolak kamu, ia menolak Aku” (Luk 10:16). Jadi siapa yang mendengar mereka berbicara, ia mendengar Kristus berbicara dengan perantaraan mereka. Itu wibawa mereka, tetapi wibawa itu erat berhubungan dengan syarat, bahwa apa yang mereka katakan (= bicarakan) itu adalah FirmanNya.

Tugas, yang Kristus berikan kepada murid-muridNya, sesudah Ia bangkit, tidak hanya berlaku bagi mereka saja. Tugas itu berlaku bagi Gereja dan melalui Gereja ia secara khusus berlaku bagi pejabat-pejabat gerejawi. Dan janji  yang Ia tambahkan dalam tugas itu, sangat luas: “dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Mat 28:18-20). Dengan otoritas, yang diberikan oleh BapaNya kepadaNya, Kristus menyertai murid-muridNya – maksudnya: Ia berjalan bersama-sama dengan murid-muridNya – kalau mereka pergi memberitakana Injil kepada semua bangsa untuk menjadikan mereka murid-MuridNya.

Jadi, wibawa pejabat-pejabat tidak boleh lain daripada wibawa Firman Allah, yang mereka beritakan. Dalam perkataan lain: wibawa yang terbatas dan yang telah ditentukan normanya.

Hal ini paneting sekali diingat. Ia mengatakan kepada kita, bahwa tidak boleh ada pejabat gerejawi yang menuntut, supaa pekataannya (= keputusannya) harus ditaati tanpa syarat. Malahan ia – bersama-sama dengan jemaat – harus tunduk pada wibawa Firman Allah. Ia harus memahami berita Firman Allah dan terus menyampaikannya kepada orang lain. kalau tidak demikian ia tidak mempunyai hak untuk mengucapkan suatu perkataan yang berwibawa. Akibat daripada itu wibawa jabatannya hilang. Dan kalau hal itu terjadi, ia tidak dapat lagi mempertahankan lagi dirinya dengan “wibawa formal”, bahwa ia adalah pejabat gerejawi.

Jemaat-jemaat kita adalah jemaat-jemaat yang dewasa. Karena itu kita sebagai jemaat tidak boleh meperlakukan mereka sebagai jemaat-jemaat yang tidak atau yang belum dewasa. Dan karena itu kita masih terus-menerus saja mau memberikan bimbingan kepada mereka dengan nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk kita. Yang mereka butuhkan ialah Firman Allah sendiri, yang dapat memimpin mereka keluar dari rupa-rupa persoalan yang mereka hadapi dalam hidup dan pekerjaan mereka.kita harus hatihati bertindak, supaya kita jangan sampai menjadi halangan bagi mereka untuk berfungsi sebagai jemaat-jemaat Tuhan yang dewasa.

  1. 5. Tidak Memerintah tetapi Melayani

Dari pengalaman kita tahu, bahwa hampir semua posisi dapat disalahgunakan. Demikianlah pula halnya dengan posisi pejabat gerejawi. Pejabat gerejawi dapat mempertahankan atau membela dirinya dengan mengatakan: Saya adalah pendeta. Saya adalah guru jemaat. Saya adalah penatua. Saya adalah pengurus komisi-komisi. Kalau pejabat-pejabat gerejawi dibiarkan mengatakan atau melakukan apa saja ang mereka kehendaki, maka yang akan berlaku dalam Gereja bukan lagi Kristokrasi (Kristus yang memerintah) tetapi: pendetakrasi, sinengekrasi, Penatuakrasi.

Jabatan gerejawi tidak memberikan hak kepada kita untukmemerintah: memerintah jemaat atau saling memerintah. Tugas pejabat gereja adalah melayani. Dan melayani adalah sebaliknya daripada memerintah (Mat 20:20-28; Mrk 10:35-45). Teladan, yang diberikan Yesus kepada mereka, ialah supaya mereka seperti seorang hamba (bnd Yoh 13:1-20). Teladan ini yang harus diikuti dan dipraktikkan oleh pejabat-pejabat gerejawi dalam pekerjaan mereka. Mereka harus ingat, bahwa sebagai manusia dan sebagai orang percaya pejabat-pejabat itu tidak lebih daripada anggota-anggota jemaat yang lain. ia juga dapat berada di tengah-tengah anggota jemaat yang lain sebagai saudara. Dan sebagai saudara tidak usah semua yang ia katakan, ia harus katakan sebagai pejabat.

Pejabat gerejawi harus rendah hati. Tetapi sebagai pejabat mereka juga mempunyai hak untuk bertindak dengan jelas dan dengan berani. Mereka melakukan itu atas nama Kristus, yang mengutus mereka. Itulah tugas mereka. Yang penting ialah bukan saja, bahwa para penatua dan para pejabat gerejawi yang lain harus berkata-kata atas nama Yesus Kristus sebagai Tuhan Gereja, tetapi juga bahwa wibawa jabatan mereka juga diterima oleh jemaat. Dan hal itu sebenarnya telah terjadi, sejak mereka diteguhkan dalam jabatan mereka.

PENUTUP

Penatua-penatua – sama seperti pejabat-pejabat gerejawi yang lain – adalah manusia yang tidak sempurna. Tetapi hal itu janganlah menjadi tantangan bagi penatua untuk – dengan jujur – melayani Kristus dan jemaatNya. Dan untuk turut mengambil bagian dalam karya besar dari Kristus: karya yang mempunyai masa depan. Dalam Alkitab terdapat rupa-rupa janji bagi mereka yang banyak memberikan tenaga dan waktu untuk pekerjaan Tuhan. Karena itu kita boleh percaya, bahwa pekerjaan yang dikerjakan oleh pejabat-pejabat gerejawi karena terhadap Kristus dan jemaatNya, akan dberkati. Berdasarkan kepercayaan ini, marilah kta selalu memandang kepada Yesus Kristus, Gembala Agung itu, supaya apabila Ia datang, maka kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu (1 Pet 5:4).

Kepustakaan

Abineno, J.L.Ch.Dr., Jemaat. Ujud, peraturan, susunan, pelayanan dan pelayan-pelayannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, tt.

———————, Penatua jabatannya dan pekerjaannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Riemer. G., Jemaat Yang Hidup, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994


* Disampaikan pada saat Diskusi dengan  Satua Niha Keriso Gereja ONKP Jemaat Hiligafia, Kamis, 07 Januari  2010

** Pendeta ONKP Resort Medan

[1] Dr. J.L. Ch. Abineno, JEMAAT, Ujud, Peraturan, Susunan, Pelayanan dan Pelayan-pelayannya, Jakarta; BPK Gunung Mulia,tt, hlm. 8-31

[2] Dr. J.L.Ch. Abineno, Penatua Jabtannya dan pekerjaannya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm 1-26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: