BERGEMBIRA DALAM PEKERJAAN

BERGEMBIRA DALAM PEKERJAAN Pkh. 3:22a “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya.” Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terkasih dalam nama Yesus.. tak terasa kita telah satu bulan lebih memasuki tahun yang baru. Banyak yang baru. Contohnya saja, saya secara pribadi banyak yang baru berjumpa dengan bapak-bapak, mungkin juga dalam kegiatan pelayanan gereja banyak yang baru dimulai walaupun sudah bulan Februari. Jadi karena ini masih suasana Tahun baru maka tidak salah kalau saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk kita semua. Bapak-ibu yang kekasih…kalau kita memperhatikan kejadian akhir-akhir ini, ada banyak kisah yang membuat hati kitabertanya: “mengapa bisa terjadi?” peristiwa yang saya maksudkan adalah: ada banyak kejadian bunuh diri, terjun dari gedung tinggi. Yang anehnya kalau dulu orang kalau mau bunuh diri maka mereka mencari temppat yang sunyi, dan menggantung diri, dsb. Sekarang yang terjadi adalah banyak kasus bunuh diri dilakukan dimuka umum sehingga banyak yang melihatnya. Ada yang memanjat menara, ada yang terjun bebas dari gedung bertingkat, di mal-mal, dan sebagainya. Selain itu banyak juga yang mengalami depresi, stres baik di taraf rendah maupun ditaraf yang lebih tinggi. Yang menjadi pertanyaan: “apa yang membuat hal ini terjadi?” Dari berbagai peristiwa di atas, beberapa para ahli setelah meneliti orang-orang yang gagal bunuh diri, mereka mengatakan bahwa itu terjadi karena banyaknya beban pikiran. Bahwa lebih jauh para ahli mengatakan bahwa semua orang berpotensi untuk bunuh diri. Buktinya…ketika kita banyak beban apakah karena utang, apakah karena masalah keluarga, apakah karena anak-anak, apakah masalah di tempat kerja, dsb, kita bisa saja terpikir….ah lebih baik saja saya tidak ada di bumi ini? Namun untung saja akal sehat kita masih tetap bekerja sehingga kita masih ada sampai saat ini. Ada apa dengan manusia? Kebutuhan manusia semakin banyak dan menuntut pemenuhannya. Di luar kebutuhan juga ada banyak iklan-iklan yang menawarkan produknya dan “memaksa” kita seolah-olah itu adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, atau untuk menambah gaya, meningkatkan nama baik, dsb. Kalau kita tidak bijak maka kita bisa terjerumus untuk jatuh pada apa yang disebut Konsumerisme. Kecanduan membeli yang tidak menjadi kebutuhan. Dengan semakin banyak kebutuhan itu, maka manusia berusaha untuk memenuhinya. Apa yang harus dipenuhi? Jawabannya adalah: “kebutuhan” atau lebih tepatnya “keinginan” manusia. Untuk apa itu semua? Ya agar bisa bahagia. Lalu kapan itu semua bisa terpenuhi?…….. Untuk bisa memenuhi itu semua maka yang dilakukan manusia adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Pagi jam 4 manusia sudah mulai bekerja dan baru berhenti sampai jam 12 malam bahkan ada yang lebih. Ada yang hanya memiliki waktu tidur hanya 2 jam tiap malam. Wah… apa tidak capek? Apa tidak stress? Untuk apa semua itu? Kapan manusia itu bisa berbahagia. Saking padatnya jadwal kerja manusia, ada saja, walau satu rumah, namun syukur kalau ketemu sekali seminggu. Mungkin kita berkata: ah mana mungkin itu terjadi pendeta? Ah pendeta ini mengada-ada, masak tinggal satu rumah tapi susah sekali ketemu. Bapak ibu ada satu orang bapak mengatakan kepada saya: pendeta, saya itu jarang bertemu dengan anak-anak saya, saya baru pulang kerja pukul 12 malam dan anak-anak saya sudah tidur, dan saya bangun jam 7.30, anak-anak saya sudah berangkat kerja. Lalu yang jadi pertanyaan: untuk apa semua yang dikerjakan itu? Katanya, ya..untuk kebahagiaanku. Untu kebahagiaan anak-anakku. Yang jadi pertanyaan: kalau hidup ini hanya untuk bekerja, lalu kapan aku bisa bahagia? Kapan aku bisa bergembira? Salah satu yang membuat manusia stres adalah: karena kehilangan kegembiraan. Tidak ada keceriaan. Tidak ada waktu untuk bergembira. Kenapa? Karena yang ada dipikiran hanyalah pekerjaan. Pekerjaan itu menjadi beban dan hidupnya hanya untuk kerja. Bapak ibu yang dikasihi Tuhan, saya tidak mengatakan bahwa bekerja itu salah. Malah Tuhan sendiri mengatakan : SI LÕ MOHALÕWÕ BA BÕI YA MANGA. Jadi bekerja itu perlu dan penting. Bagaimana manusia bisa meraih cita-citanya, bisa mewujudkan mimpinya kalau ia tidak bekerja. Itu sama saja seperti BURUNG PUNGUK MERINDUKAN BULAN. Cita-cita tingggi, mimpi luar biasa, tetapi tidak mau kerja, tidak mau berusaha. Kalau begitu…apakah sepanjang hidup ini harus bekerja? Jawabannya adalah Ya. Kenapa? Karena sepanjang hidup ini kita memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau begitu kapan kita punya waktu untuk bergembira. Bapak ibu yang terkasih dalan nama Yesus,…orang yang mengalami stres, depresi atau bunuh diri adalah orang yang tidak punya waktu untuk bergembira dalam hidupnya. Yang ada setiap saat adalah beban hidup yang terus menerus dipikulnya. Beban hidup itu semakin lama semakin menghimpitnya. Beban hidup sebagai keluarga, beban hidup untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, beban hidup dalam pekerjaan, dsb. Banyak sekali beban hidup yang dimiliki manusia ibaratnya ada seutas tali bernama BEBAN HIDUP, diikatkan ke leher, kita ditarik ke belakang oleh beban hidup masa lalu, di tarik ke depan oleh beban hidup masa depan, dan ditambah lagi di himpit oleh tumpukan beban hidp masa sekarang. Karena begitu banyaknya beban yang menghimpit kehidupannya, maka ia memikirkan bagaimana cara yang cepat untuk melepaskan beban yang terus menghimpit ini. Akhirnya JALAN PINTAS DIANGGAP PANTAS. TANYA KENAPA, TANYA KENAPA? Bapak ibu yang kekasih penulis kitab Pengkhotbah sudah mengetahui bahwa sepanjang hidup manusia harus bekerja. Bahkan ia mengatakan bahwa dalam pekerjaan itu ada kebahagiaan. Wah luar biasa bapak-ibu…dalam pekrjaan ada kebahagiaan. Apa yang selama ini dicari oleh manusia ternyata hanya ditemui bila ia bekerja. Lalu kenapa kita tidak mengalaminya? Itu karena kita tidak bergembira dalam pekerjaan itu. Mengapa kita tidak bergembira? Karena kita tidak tahu untuk apa kita bekerja. Bekerja itu apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan? Jawabannya.. tidak… lebih daripada itu bapak-ibu…lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan hidup…karena di dalam pekerjaan iitu ada KEBAHAGIAAN KITA. Bekerja itu sangat perlu, karena dengan bekerja selain kita bisa memenuhi kebutuhan kita, juga melalui pekerjaan kita menjadi kesaksian. Kita memberitakan kasih Tuhan…melalui pekerjaan kita bisa melakukan yang terbaik, melalui pekerjaan itu kita memuji Tuhan…intinya: PEKERJAAN ITU ADALAH IBADAH kita. Jadi jangan main-main dengan pekerjaan. Sekecil apapun pekerjaan kita, bahkan sehina apapun pekerjaan kita…itu untuk memuji Tuhan. Oleh karena pekerjaan itu adalah untuk memuji nama Tuhan, maka sebagai orang percaya kita harus hati-hati dalam memilih pekerjaan.. kenapa? Mencuri itu bekrja lho, mengedarkan shabu-shabu itu bekerja, dsb. Tetapi apakah itu menjadi kemuliaan nama Tuhan? Selain itu sekalipun itu pekerjaan kita bagus apakah itu sebagai Pegawai Negeri, sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pedagang, dsb, namun bila kita ridak mengerjakannya dengan baik apakah itu menjadi kemuliaan Tuhan? Kalau dalam pekerjaan kita kita korupsi, atau kita tidak jujur melaksanakannya, apa kata dunia? Dunia akan berkata: begitukah orang Kristen itu? I a zitenga õ nia. Makan apa yang bukan haknya. Sekalipun itu adalah hak kita, namun kalau kita tidak jujur dalam mengerjakan pekerjaan kita, maka kita tidak layak mendapatkan upah tersebut. Pengkhotbah mengatakan: bergembiralah dalam pekerjaanmu. Apa kunci untuk bisa bergembira dalam pekerjaan? Ada seorang Pastor di Sirombu ketika terjadi tsunami tahun 2005 yang lalu, saya menemui dia. Ia sedang memasukkan ikan kering (i’a kilo, i’a sokõli, dsb) ke dalam kertas. Ia terlihat sangat bahagia mengerjakannya. Pastor ini sudah lama sekali di Sirombu bahkan ketika saya masih SD saya sudah melihat pastor ini. Saya bertanya ke dia: “pastor, saya dari kecil saya melihat pastorr sudah di Nias ini secara khusus di Paroki Sirombu ini. Apa yang membuat anda betah di sini?. Jawabannya sungguh mengejutkan hati saya, ia mengatakan: “begitulah kalau orang sudah jatuh cinta”. Saya bingung dan berkata dalam hati: ah pastor ini bercanda, masak pastor jatuh cinta. Apa kata dunia? . lalu saya bertanya ke dia: maksudnya pastor? Ia menjawab: saya sudah jatuh cinta dengan Nias, saya sudah jatuh cinta dengan pekerjaan saya, bahkan apa yang saya lakukan ini adalah wujud dari cinta saya. Wah luar biasa…. Ternyata bapak-ibu…yang membuat kita bergembira dalam pekerjaan kita adalah ketika kita jatuh cinta dengan pekerjaan itu. Orang kalau sudah jatuh cinta, maka ia akan melakukan yang terbaik untuk cintanya. Kalau kita jatuh cinta dengan pekerjaan kita maka kita melakukan yang terbaik dengan pekerjaan kita,. Pekerjaan kita tidak lagi menjadi beban yang menghimpit malah menjadi sukacita ketika kita mengerjakannya. Pekerjaan kita tidak lagi membuat kita stres, depresi apalagi kalau sampai bunuh diri. Kenapa? Betapun beratnya pekerjaan itu, namun karena kita sudah jatuh cinta kepadanya maka kita akan melakukan pekerjaan itu dengan sukacita. Muliakanlah Tuhan Allahmu melalui pekerjaanmu. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: