HOMO SEKSUAL & LESBIANISME

Nama                                    : Budieli Hia                        

Nim                                        : 09.07.082                                    

M. Kuliah                             : Penggembalaan Orang Bermasalah Khusus

Dosen Pengampu            : Pdt. Jaharianson, S.Th, M.Sc, Ph.D

HOMOSEXUALITAS DAN LESBIANISME

  1. A.        Pengertian

 

Homoseksual merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. Di Indonesia, akhir-akhir ini homoseksual menjadi masalah dalam kehidupan seksual yang lebih terbuka dibandingkan beberapa waktu yang lalu.

Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psi, mendefenisikan homoseksual sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis terhadap seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama.[1] Ahli lain mendefinisikan homoseksual sebagai kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Istilah yang sudah umum dikenal masyarakat untuk orang yang termasuk homoseksual adalah gay (untuk lelaki) dan lesbian (untuk wanita). Jadi dalam makalah ini yang penulis maksudkan sebagai homoseksual di dalamnya sudah mencakup lesbianisme.

Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri merek sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks.[2]

Homoseksual  dapat mengacu pada tiga aspek:[3]

1)        Orientasi Seksual / Sexual Orientation

Orientasi seksual – homoseksual yang dimaksud disini adalah ketertarikan/ dorongan/ hasrat untuk terlibat secara seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis) terhadap orang yang berjenis kelamin sama. American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa orientasi seksual berkembang sepanjang hidup seseorang. Dalam taraf tertentu, pada umumnya setiap orang cenderung memiliki rasa ketertarikan terhadap sesama jenis. Seperti misalnya saja: pria yang mengidolakan aktor/ musisi/ tokoh pria tertentu dan juga sebaliknya wanita yang mengidolakan aktris/ musisi/ tokoh wanita tertentu. Kadar ketertarikan seperti ini umum dimiliki oleh banyak orang dan tidak termasuk dalam orientasi homoseksual.

2)         Perilaku Seksual / Sexual Behavior

Homoseksual dilihat dari aspek ini mengandung pengertian perilaku seksual yang dilakukan antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Perilaku seksual manusia melingkupi aktivitas yang luas seperti strategi untuk menemukan dan menarik perhatian pasangan (perilaku mencari & menarik pasangan), interaksi antar individu, kedekatan fisik atau emosional, dan hubungan seksual). 

3)        Identitas Seksual / Sexual Identity

Sementara homoseksual jika dilihat dari aspek ini mengarah pada identitas seksual sebagai gay atau lesbian. Sebutan gay digunakan pada homoseksual pria, dan sebutan lesbian digunakan pada homoseksual wanita.

 Tidak semua homoseksual secara terbuka berani menyatakan bahwa dirinya adalah gay ataupun lesbian terutama kaum homoseksual yang hidup di tengah-tengah masyarakat/ negara yang melarang keras, mengucilkan, dan menghukum para homoseksual. Para homoseksual ini lebih memilih untuk menutupi identitas mereka sebagai seorang gay ataupun lesbian dengan tampil selayaknya kaum heteroseksual.

Homoseksual mula-mula dipandang sebagai penyakit untuk diobati, sekarang lebih sering diselidiki sebagai bagian dari suatu proyek yang lebih besar untuk memahami Ilmu Hayat, Ilmu Jiwa, politik, genetika, sejarah dan variasi budaya dari identitas dan praktek seksual, status legal dan sosial dari orang yang melaksanakan tindakan homoseks atau mengidentifikasi diri mereka gay atau lesbian beragam di seluruh dunia.

Walaupun demikian, dalam makalah ini penulis setuju pendapat awal yang mengatakan bahwa homoseksual itu kita lihat sebagai suatu penyakit sehingga ada harapan untuk dipulihkan menjadi heteroseksual. Proses pemulihan ini bisa dari sudut pandang psikologis dan juga dari sudut pandang alkitabiah.

  1. B.        Gejala-gejala

Sawitri menjelaskan gejala-gejala atau kecenderungan homoseksual dapat dibagi atas beberapa kwalitas tingkah laku homoseksual, antara lain:

1)      Homoseksual Ekslusif

Bagi pria yang memiliki kecenderungan homoseksual ekslusif, daya tarik wanita sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap wanita.[4] Dalam kasus semacam ini, penderita akan impoten apabila ia memaksakan diri untuk mengadakan relasi seksual dengan wanita.

2)      Homoseksual Fakultatif

Hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan ini mendapatkan parter lain jenis, sehingga tingkah laku homoseksual timbul sebagai usaha menyalurkan dorongan seksualnya. Misalnya di penjara. Nilai tingkah laku ini dapat disamakan dengan tingkah laku onani atau masturbasi.

3)      Biseksual

Orang ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis.

  1. C.        Faktor Penyebab Homosexualitas dan Lesbianisme

Anne Krabill Hersberger[5] menjelaskan bahwa sampai saat ini, fakor penyebab timbulnya homoseksualitas (Gay dan Lesbi) belum dapat diketahui dengan pasti. Ada beberapa teori yang yang mencoba menjelaskannya. Beberapa orang percaya bahwa perilaku orientasi seks sejenis terjadi karena adanya perkembangan yang terhambat selama pubertas. Ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya hormon abnormal dalam tubuh seseorang yang belum teridentifikasikan. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan. Dan ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh lingkungan, misalnya: kekacauan dalam rumah tangga.

Secara garis besar, terdapat tiga kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual sebagai berikut:[6]

1)      Faktor Biologis

Kombinasi / rangkaian tertentu di dalam genetik (kromosom), otak, hormon, dan susunan syaraf diperkirakan mempengaruhi terbentuknya homoseksual.

Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra, S.Si mengemukakan bahwa berdasarkan kajian ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari:

  1. Susunan Kromosom

Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.

Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

  1. Ketidakseimbangan Hormon

Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.

  1. Struktur Otak

Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.

  1. Kelainan susunan syaraf

Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.

Kaum homoseksual pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan bahwa faktor biologis-lah yang mempengaruhi mereka dibandingkan menerima bahwa faktor lingkunganlah yang mempengaruhi. Dengan menerima bahwa faktor biologis-lah yang berperan dalam membentuk homoseksual maka dapat dinyatakan bahwa kaum homoseksual memang terlahir sebagai homoseksual, mereka dipilih sebagai homoseksual  dan bukannya memilih menjadi homoseksual.

Walaupun demikian, faktor-faktor biologis yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di bidangnya.  

2)      Faktor Lingkungan

Lingkungan diperkirakan turut mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Faktor lingkungan yang diperkirakan dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual terdiri atas:

  1. Faktor Budaya / Adat-istiadat

Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritual-ritual yang mengandung unsur homoseksualitas, seperti dalam budaya suku Etoro yaitu suku pedalaman Papua New Guinea, terdapat ritual keyakinan dimana laki-laki muda harus memakan sperma dari pria yang lebih tua (dewasa) untuk memperoleh status sebagai pria dewasa dan menjadi dewasa secara benar serta bertumbuh menjadi pria kuat.

Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing orang dalam kelompok masyarakat tersebut, maka demikian pula budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur homoseksualitas  dapat mempengaruhi seseorang. Mulai dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan, maupun pola pemikiran tertentu terutama yang berkaitan dengan orientasi, tindakan, dan identitas seksual seseorang.

  1. Faktor Pola asuh

Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria atau perempuan. Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut, meliputi:

a)      Kriteria penampilan fisik : pemakaian baju, penataan rambut, perawatan tubuh yang sesuai, dan sebagainya.

b)      Karakteristik fisik : perbedaan alat kelamin pria dan wanita; pria pada umumnya memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan wanta, pria pada umumnya tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang mengandalkan tenaga / otot kasar sementara wanita pada umumnya lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan yang mengandalkan otot halus.

c)       Karakteristik sifat : pria pada umumnya lebih menggunakan logika/ pikiran sementara wanita pada umumnya cenderung lebih menggunakan perasaan/ emosi; pria pada umumnya lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang membangkitkan adrenalin, menuntut kekuatan dan kecepatan, sementara wanita lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat halus, menuntut kesabaran dan ketelitian.

d)      Karakteristik tuntutan dan harapan: Untuk masyarakat yang menganut sistem paternalistik maka tuntutan bagi para pria adalah untuk menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Dengan demikian pria dituntut untuk menjadi figur yang kuat, tegar, tegas, berani, dan siap melindungi yang lebih lemah (seperti istri, dan anak-anak). Sementara untuk masyarakat yang menganut sistem maternalistik maka berlaku sebaliknya bahwa wanita dituntut untuk menjadi kepala keluarga. 

Jika dilihat secara universal, sistem yang diakui universal adalah sistem paternalistik. Namun baik paternalistik maupun maternalistik, setiap orang tetap dapat berlaku sebagai pria ataupun wanita sepenuhnya. Yang membedakan pada kepala keluarga: pria dalam paternalistik dan wanita dalam maternalistik adalah pendekatan yang digunakan dalam memenuhi tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga.

Pola asuh yang tidak tepat, seperti contoh yang tidak asing yaitu: anak laki-laki yang dikenakan pakaian perempuan, didandani, diberikan mainan boneka, dan diasuh seperti layaknya mengasuh seorang perempuan, ataupun sebaliknya dapat berimplikasi pada terbentuknya identitas homoseksual pada anak tersebut. Mengapa demikian? Karena sejak dini ia tidak dikenalkan dan dididik secara tepat & benar akan identitas seksualnya, dan akan perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan.

e)      Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis

Dalam proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan melihat pada: orang tua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya; anak laki-laki melihat pada ayahnya, dan anak perempuan melihat pada ibunya; dan kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin sama dengannya.

Homoseksual terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi dan mengasimilasi – apa, siapa, dan bagaimana – menjadi dan menjalani peranan sesuai dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita.

Kegagalan mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan peranan identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku. Seperti:  ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya, ayah tampil sebagai figur yang lemah – tak berdaya; atau orang tua yang homoseksual. Namun penting diketahui! Tidak semua anak yang dihadapkan pada situasi demikian akan terbentuk sebagai homoseksual karena masih ada faktor lain yang juga dapat mempengaruhi dan tentunya  juga karena kepribadian dan karakter setiap orang berbeda-beda.

f)         Dampak Homosexualitas

Setiap tindakan atau perbuatan pasti ada dampaknya. Demikian juga dalam hal seksualitas, baik itu heteroseksual, homoseksual maupun biseksual. Untuk menjelaskan tentang dampak yang ditimbulkan oleh homoseksualitas, berikut diuraikan tulisan Veronica Adesla, S.Psi[7] sebagai berikut:

  • Dampak yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum homoseksual di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi atau bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya atau bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.

Situasi di atas  berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang  hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan atau dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat.

Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi atau bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat.  Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.

  • Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle

Seorang homoseksual senantiasa berhadapan dengan adanya realitas gaya hidup tertentu yang berlaku di kalangan kaum homoseksual. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku, dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual, bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari.

Gaya hidup tertentu pada kaum homoseksual dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental & emosional, seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba.

Penelitian mengenai homoseksual pria menunjukkan bahwa lebih dari 75% pria homoseksual mengaku telah melakukan hubungan seksual bersama lebih dari 100 pria berbeda sepanjang hidup mereka: sekitar 15% dari mereka pernah mempunyai 100-249 pasangan seks, 17% mengklaim pernah mempunyai 250-499, 15% pernah mempunyai 500-999, dan 28% mengatakan pernah berhubungan dengan lebih dari 1000 orang dalam hidup  mereka.

Pada wanita-wanita lesbian, total jumlah pasangan seks lebih rendah, namun tetap di atas rata-rata jika dibandingkan wanita heteroseksual. Banyak wanita lesbian juga berhubungan seks dengan pria. Wanita lesbian 4 kali lebih memungkinkan untuk mempunyai lebih dari 50 pasangan pria sepanjang hidupnya dibandingkan wanita heteroseksual.

Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti: STI’s (Sexual Transmitted Infections)/ STD’s (Sexual Transmitted Diseases) termasuk HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan berlebihan, depresi, merusak atau menyakiti diri sendiri, dan sebagainya.

g)        Bagaimana Mengatasi Homosexualitas

 

Homoseksualitas dan lesbianisme memiliki tingkatan. Tingkatan yang lebih rendah disebut hemofilia yaitu pengalaman jatuh cinta kepada orang sejenis kelamin, tetapi cinta itu belum begitu mendalam atau belum sampai pada permainan seksual setingkat hubungan seksual pada suami-istri. Homifilia ini seringkali terjadi karena lingkup pergaulan yang hanya terbatas pada teman-teman sejenis kelamin saja. Maka untuk mengobati homofilia ini bisa dengan membuka pergaulan supaya menjadi lebih luas, memungkinkan pergaulan yang kerap dan akrab dengan orang-orang dengan jenis kelamin yang lain. Secara moral homofilia, walaupun memang salah, tidak layak dinilai sebagai  tindakan yang melawan moralitas secara berat. Apalagi bila keduanya, atau salah seorang, memang menderita kelainan mental di bidang seksual. Mereka atau dia itu lebih layak dinilai sebagai penderita kelainan daripada pelaku tindakan immoral.

Demikian juga yang sudah jauh ke taraf homoseksual atau lesbianisme, dan telah sampai pada taraf permainan seksual setingkat dengan senggama suami-istri. Maka mereka yang betul-betul bermental homoseksual dan atau lesbianisme lebih layak dianggap sebagai penderita kelainan daripada sebagai yang bertindak immoral. Ia lebih membutuhkan pengertian penuh kasih daripada teguran yang mendakwa. Oleh karenanya tindakannya juga tidak dapat disebut sebagai tindakan jahat, walaupun secara objektif tidak biasa.[8]

Sebagaimana telah uraikan dari atas bahwa seksualitas ini sebainya dilihat dari sudut pandang bahwa ini adalah kelainan atau sebagai penyakit. Bila kita beranjak dari sudut pandang tersebut maka ada harapan bahwa kelainan seksual ini bisa diobati. Proses pemulihan ini terutama berasal dari sipenderita itu sendiri. Keinginan untuk berubah dari kelainan seksual yang diidapnya. Oleh sebab itu di sini saya uraikan proses pemulihan homoseksualitas baik dari secara psikologis dan juga secara alkitabih.

  1. Secara Psikologis

Untuk menganalisa cara mengatasi penderita homoseksualitas dan lesbianisme secara psikologi, maka di sini saya mengungkapkan contoh kasus yang diuraikan oleh Sawitri sebagai berikut:[9]

  • Ø Studi Kasus (kasus S)

S, berusia 24 tahun, seorang mahasiswa teknik Sipil di salah satu perguruan tinggi di Bandung, mengeluh bahwa dirinya merasa kurang dapat konsentrasi dalam belajar, gairah belajar menurun, sehingga dua semester terakhir ini S merasa gagal dalam ujian-ujiannya. S merasa penuh dengan keraguan dan tanda tanya yang selalu mencekam dirinya, yaitu “Apakah dirinya seorang homoseksual?”

S adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dengan urutan kakak laki-laki (2 orang), kemudian S dan adik yang bungsu perempuan. Perbedaan umur antar empat bersaudara itu lebih kurang dua tahun. Sejak S berumur satu tahun, oleh orang tuanya S dititipkan pada kakek atau neneknya. Setelah umur 6 tahun S kembali pada orangtuanya sendiri.

Kesan yang sangat mendalam pada 5 tahun pertama kehidupannya adalah seringnya kakek dan nenek berselisih paham, dan bila perselisihan paham memuncak, mereka melempar benda yang ada di dekatnya atau saling menyiramkan air. Kalau keadaan sudah demikian, S bersembunyi ketakutan dan gemetar seluruh tubuhnya. Setelah pertengkaran, biasanya nenek dan kakek saling tidak tegur sapa. Dalam keadaan ini, maka nenek biasanya sangat baik terhadap S dan kemana nenek pergi, S harus ikut. Bahkan pada saat nenek memasak dan membersihkan rumah pun S harus berada dekat nenek. Untuk itu, S sering juga membantu nenek.

Setelah S dewasa, S baru sadar bahwa alasan orang tua menitipkan dirinya di rumah nenek atau kakek sebetulnya untuk menurunkan frekuensi pertengkaran nenek atau kakek. Tapi seingat S, pertengkaran antar mereka tidak mereda. Pribadi nenek menurut S keras dan dominan, begitu pula dengan pribadi kakek yang juga sama-sama keras.

Sekembalinya ke rumah orang tuanya pada umur 6 tahun, S merasakan pula kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya dibandingkan dengan sikap orang tua terhadap kedua kakak laki-lakinya. Orang tua S memiliki sebuah toko emas dan keduanya sibuk dengan toko. Anak-anak lebih banyak dilepas tanpa pengawasan yang cukup dan hanya dipercayakan pada pembantu rumah tangga.

Ibu bersikap lebih dominan dibanding ayah dan seringkali ibu lebih mampu mengambil keputusan dalam urusan dagang. Menurut S, ayahnya agak lamban dalam bertindak dan sering bersikap ragu-ragu. Kedua kakak S sangat nakal dan kasar tingkah lakunya dalam bermain. Sedang S tidak suka pada tingkah laku kasar dan nakal, sehingga S lebih suka bermain dengan adik perempuannya. S senang main masak-masakkan, main ibu-ibuan dan sering memakai rok adiknya dalam permainan itu.

Pada waktu S kelas V SD, suatu hari S diajak oleh kakak laki-laki yang pertama untuk melakukan onani bersama. Dan seingat S, pernah pula S atas anjuran kakaknya tersebut mencoba melakukan relasi seks dengan adik perempuannya. Percobaan ini dilakukan satu kali dan S merasa tidak berhasil.

Kemudian, pernah kakak pertama memaksa S melakukan oral seksual dengan S atau melakukan onani bersama. Hal ini sering terjadi, sampai akhirnya kakak S melanjutkan pelajaran di Jakarta, sedang S melanjutkan sekolah di Semarang. S tinggal di rumah bibinya yang memiliki anak laki-laki sebaya dengan S dan tinggal satu kamar dengan saudara sepupunya itu. Pada suatu saat, saudara sepupunya itu mencium S sehingga akhirnya berkembang menjadi homoseksual. Dalam relasi ini S lebih sering bersifat pasif. Setelah kira-kira satu tahun mengadakan relasi itu, saudara sepupunya ini pindah ke kota. Namun, S segera mendapatkan teman pengganti, yaitu teman sekelasnya sendiri. Tetapi, teman ini meninggal karena sakit. S merasa kesepian dan pada saat munculnya kebutuhan seksual S melakukan onani. Dalam onani, S kadang-kadang membayangkan wanita atau pria, tetapi menurut S lebih sering membayangkan pria daripada wanita.

Setelah beberapa bulan S tidak mempunyai teman akrab, kemudian S mendapatkan teman pria yang mau mengerti keadaan S dan tidak dapat merasakan penderitaan S. Bahkan sering menasihati S untuk menghentikan tingkah laku homoseksual tersebut dan mengatakan bahwa tingkah laku tersebut kurang baik.

Setelah lulus SMA, S pindah ke Bandung dan bersekolah di Bandung. Rasa takut terhadap abnormalitas semakin meningkat karena S tidak pernah merasa tertarik terhadap wanita. Apalagi pada tahun pertama S berkenalan dengan seorang pria satu angkatan lebih tinggi. Dengannyalah S melakukan relasi homoseksual beberapa kali, selama kurang lebih satu tahun. Atas kesadaran partnernya ini, S dinasehati oleh partnernya untuk memutuskan hubungan mereka. S menerima keputusan ini dengan harapan S dapat terlepas dari kebiasaann yang menurut S sendiri abnormal.

Pada suatu ketika, S memaksakan diri untuk mencari pacar dan kebetulan wanita ini memang tertarik pada S dan bersedia menjadi pacarnya. S merasa senang karena ini adalah kesempatan bagi S untuk melepaskan diri dari abnormalitasnya. Tetapi rupanya S tidak tahan terhadap konsekuensi-konsekuensi sebagai pria yang punya pacar pada saat-saat dibutuhkan dan lain-lain.

Tuntutan pacar akan ‘apel’ akhirnya menjadi beban bagi dirinya, pacar S sering marah kalau S terlambat ‘apel’. S mulai tidak suka karena S paling takut kalau melihat orang yang marah-marah dan hatinya menjadi tidak enak. Sejak kecil pun S takut melihat orang bertengkar.

Kecuali itu, sejak remaja S suka mencoba resep masakan dari majalah. Ibu mendorongnya untuk lebih menerampilkan diri pada bidang masak-memasak. Atas kesukaannya ini, ayah S hanya berkomentar “Anak laki-laki koq senang masak, nanti kalau besar mau jadi apa?!”

S juga merasa bahwa ia mudah tersinggung, tetapi walaupun tersinggung, S tidak pernah menunjukkan kemarahannya pada orang lain melainkan memendamnya saja. S merasa bahwa tindakan pacarnya pun sering menyinggung perasaannya, sehingga rasa tidak tertarik pada pacarnya ini semakin berkembang dan dalam kenyataannya, S juga tidak pernah mengalami rangsangan erotis kalau duduk berdekatan dengan pacarnya. Sampai akhirnya, S merasa jenuh dan berat beban mentalnya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan pacarnya. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya. Setelah lepas dari pacar, ia merasa ringan.

Di Bandung S tinggal bersama kakak laki-laki nomor dua, yang bersekolah di fakultas kedokteran. Hubungan dengan kakak nomor dua tidak akrab, kakak ini agak mengacuhkan diri S. Pada permulaan tahun 1980 kakaknya pergi ke luar Jawa. Karena merasa kesepian, akhirnya S mengajak temannya untuk menemaninya. Kebetulan teman pria yang diajak adalah partner relasi homoseksual ketika S baru lebih kurang satu tahun di Bandung.

Situasi rumah yang sepi memungkinkan S mengulangi relasi tersebut, walaupun sebetulnya selama kurang lebih tiga tahun S berhasil menahan diri dalam melakukan relasi homoseksualnya. Kalaupun kebutuhan seksualnya mendesak, S hanya melakukan onani saja. Tetapi kemudian, temannya ini menyadarkan kembali akan kesalahannya dan S pun berusaha untuk menghindari tingkah laku tersebut. Akibatnya, muncullah konflik dalam jiwanya yang lebih ekstrim yang bersumber pada keraguan identitas jenis kelaminnya (gender identity).

Untuk mengatasi konflik ini, S mencoba melakukan hubungan heteroseksual dengan seorang wanita tuna susila, tetapi S tidak berhasil. Kegagalan ini menambah tingkat ekstrenuitas ketegangan mentalnya sehingga sangat mempengaruhi kemampuannya dalam konsentrasi. Ia pun menjadi kehilangan gairah belajar, karena benaknya dipenuhi oleh tanda tanya.

Secara otomatis prestasi studinya menurun, hal ini mendorongnya untuk berkonsultasi pada psikolog.

  • Observasi Penampilan

S, berkulit sawo matang. Kesan fisik tingggi besar (tinggi ± 1,68 cm; berat ± 78 kg), tetapi mimik muka serta gerak-gerik halus dan hati-hati. Cara bicaranya sopan.

  • Hasil Pemeriksaan Psikologi

Hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan beberapa data-data psikologi S yang menonjol, sehubungan dengan perkembangan tingkah laku homoseksual sebagai berikut:

1)      Draw A. Man Test

  • Gambar Wanita.
  • Ketika diminta menggambar pria, terlihat kecenderungan efimisasi dari pada ekspresi hasil gambar

2)      Dari SSCT (Sacks Sentece Completion Test)

Sikap terhadap ayah:

  • Saya rasa ayahku jarang memutuskan suatu persoalan secara baik dan tepat.
  • Sekiranya ayahku hanya bermalas-malasan dan bekerja seenaknya saja.
  • Saya ingin ayahku keras dan bertindak.
  • Saya rasa, ayahku kurang tegas.

Sikap terhadap ibu:

  • Ibuku seorang yang agak keras sifatnya dan dominan tapi dekat dengan saya.
  • Ibuku dan saya dekat sekarang ini.
  • Saya kira kebanyakan ibu berusaha melindungi anak-anaknya.
  • Saya suka pada ibuku, tapi beliau terlalu menyalahkan ayah saya.

Sikap terhadap hubungan heteroseksual

  • Apabila saya melihat seorang perempuan bersama seorang laki-laki, saya iri, mengapa saya tidak semesra itu.
  • Mengenai kehidupan perkawinan, perasaan saya adalah ngeri untuk menghadapinya.
  • Umpamakan saya mempunyai hubungan seksual, saya akan berusaha sebaik mungkin.
  • Kehidupan seksual saya merasa tidak normal.

Untuk SSCT, penulis (Sawitri – ed) memang sengaja hanya mengarahkan perhatian pada ketiga macam sikap tersebut di atas. Dari pengetahuan terhadap ketiga sikap S tersebut, dapat dilihat kecenderungan yang ekstrim terhadap kemungkinan terbinanya tingkah laku homoseksual pada S

3)      Wartegg Test:

Dari hasi Wartegg Test pun terlihat jelas akan kecenderungan efiminasi (kecenderungan feminin) dalam memberikan responnya baik dalam keurutan gambar maupun isi (content) dari gambar.

  • Analisa Kasus

Latar belakang kehidupan jiwa S ditandai oleh masa kecil yang kurang bahagia. Kejadian-kejadian yang impresif bagi S, bahkan dapat dikatakan bernilai traumatis, pertengkaran-pertengkaran kakek dan neneknya, mengakibatkan rasa takut yang luar biasa. Sehingga, sampai saat ini pun S tidak suka pada keributan-keributan, pertengkaran-pertengkaran dan S tumbuh menjadi sangat perasa serta menyukai situasi yang tenang. Nenek yang menjadi figur ibu adalah seorang dominan dan dalam suasana pertengkaran dengan suaminya, nenek menarik S untuk memihak pada dirinya dengan menjauhkan S dari kakek. Iklim relasi tersebut, memungkinkan S justru mengambil figur nenek sebagai pemegang peranan dalam proses identifikasinya.

Demikian pula sekembalinya S ke rumah orang tuanya sendiri. Ketika umur 6 tahun, S menjumpai pola relasi orang tuanya yang juga tidak sehat. Ibu keras, dominan, sering menyalahkan ayah di muka anak-anaknya. Ayah yang lamban, serta agak lemah akhirnya menciptakan sikap S terhadap ayah yang negatif (jelas terlihat pada hasil tes SSCT). Relasi dengan ayah menjadi tidak memuaskan bagi S, situasi relasi antara ayah dan ibunya ini memungkinkan tokoh identifikasi terdahulu (nenek) beralih pada ibu.

Pengalaman demi pengalaman di atas membawa S pada situasi yang kurang menguntungkan bagi perkembangan gender identity-nya. Penampilan yang halus dan penurut  mengundang kakak S untuk mengajak S onani bersama, bahkan mengadakan hubungan oral seksual.

Pengalaman ini ditambah dengan pengalaman homoseksual baik di Semarang maupun di Bandung yang menjadi faktor penguat bagi terbinanya tingkah laku homoseksual. Tetapi, S belum mencapai homoseksual adjusment yang optimal karena tampak bahwa konflik-konflik neurotis masih menyertai S.

Dapat disimpulkan bahwa S mengalami gangguan dalam perkembangan gender identity, tetapi karena ganggguan tersebut belum S sadari sepenuhnya, maka masih ada usaha-usaha S untuk melawan kondisi ini  dengan mencoba berpacaran dengan wanita. Ia mencoba mengadakan relasi heteroseksual dengan wanita tuna susila.

Kenyataan akan kegagalan dalam usaha tersebut tidak membantu S untuk menerima keadaan dirinya dengan sepenuh hati, tetapi justru merupakan salah satu  keadaan yang menambah ketegangan mentalnya. Keluhan-keluhan psikis, seperti gangguan konsentrasi, menurunnya gairah belajar, keraguan dan rasa tidak bahagia merupakan manifestasi dari ketegangan mentalnya. Kalau melihat derajat ekstrimitas tingkah laku homoseksualnya, S kiranya dapat dikelompokkan dalam kategori homoseksual eksklusif dengan tipe pasif. Walaupun penampilan fisik umum S tampak tinggi besar, tetapi apabila kita amati dengan cermat ciri-ciri efiminasi akan tampak.

  • Treatment

Walaupun pendekatan psikoanalitis terhadap masalah homoseksual banyak mengungkapkan penyebab berkembangnya tingkah laku homoseksual, tetapi Freud sendiri berpendapat bahwa harapan untuk menyembuhkan homoseksual dengan psikoanalisa sedikit sekali. Kalaupun psikoanalisa melakukan usaha penyembuhan, maka hasilnya akan terbatas pada pencapaian self acceptance dan penyesuaian sosial yang lebih baik (better social adjustment).

Apabila seorang homoseksual merasa tidak bahagia, neurotis dan terganggu oleh konflik, terhambat dalam kehidupan sosialnya, maka psikoanalisa akan membawa mereka ke dalam kehidupan psikis yang lebih harmonis, tenang dan efisiensi fungsional yang optimal. Freud percaya bahwa keinginan homoseksual untuk perubahan tidak berdasar pada keinginannya sendiri (self motivation), tetapi hanya sebagai akibat dari situasi tekanan sosial (external motivation) seperti tradisi-tradisi yang mengancam pilihan obyek seksual mereka.

Jadi dalam hal ini, psikolog atau psikiater yang menangani penderita homoseksual hendaknya lebih memusatkan perhatiannya serta lebih bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan serta ketenangan kehidupan perasaan mereka, daripada berharap bahwa hasil penanganan akan merubah homoseksual menjadi heteroseksual.

Dalam kasus S di atas, Sawitri mendiagnosa berdasarkan psikoanalitis menggolongkan S dalam jenis kategori inversi seksual yang sangat mendalam, sehingga harapan untuk merubahnya menjadi heteroseksual eksklusif sangat tipis. Alasannya adalah:

1)      Ikatan emosional S dengan tokoh ayah (Kakek/ayah) kurang memuaskan bahkan dapat dikatakan negatif.

2)      Ikatan emosional S dengan tokoh ibu (nenek/ibu) erat sekali, bahkan cenderung untuk dapat dikatakan abnormal. Tampak dominasi yang ekstrim daripada nenek/ibu terhadap kehidupan S.

3)      Usaha S dalam mencoba memaksakan diri untuk menggalang relasi heteroseksual yang intim, gagal.

4)      Tampak efiminasi daripada penampilan (gasture).

5)      Faktor-faktor penguat respon homoseksual telah berlangsung secara berlarut-larut. Faktor penguat ini telahh berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku homoseksual pada S, yaitu pengalaman-pengalaman homoseksualitas yang bsangat mengesankan S yang telah terjadi sejak S berumur 12 tahun dengan kakaknya yang pertama dan pengalaman-pengalaman selanjutnya.

Atas dasar kelima hal tersebut, Sawitri (sebagai psikolog yang menangani S) menentukan bahwa tujuan treatment terhadap S adalah membantu S untuk mencapai taraf Sosial adjustment yang lebih baik. Tujuan ini akan tercapai apabila S dapat menerima kenyataan dirinya dengan baik (self acceptance). Self feelings (rasa diri aman) pada S merupakan hasil yang akan S hayati apabila tujuan di atas sudah tercapai dan rasa diri aman merupakan modal utama untuk dapat mencapai efisiensi S dalam segala lapangan hidupnya antara lain dalam studinya.

Jadi dari simpulan Sawitri dalam hal kasus S, terlihat bahwa dari sudut pandang psikologis, usaha untuk memulihkan S untuk menjadi heteroseksual sangatlah tipis mengingat pengalaman masa lampau (akar pahit) dari S sangat menentukan kepribadiannya. Namun bagi saya penangangan dari sudut psikologis sangat baik untuk mencari tahu akar pahit dari penyebab homoseksual dan selanjutnya untuk proses penyembuhan sangat dibutuhkan interfensi rohani (alkitabiah)

  1. Secara Alkitabiah

Sexualitas merupakan anugerah Tuhan yang layak dihayati menurut kehendak-Nya. Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan,  agar mereka saling melngkapi, saling tertarik, lalu mau bekerja sama untuk meneruskan generasi manusia di bumi ini dengan melahirkan dan mendidik anak-anak mereka.

Seks pun merupakan hadiah Tuhan. Tanpa seks, manusia tidak dapat hidup secara sehat. Alat kelamin sudah penting peranannya sejak manusia lahir. Alat kelamin pria berguna sejak kecil untuk pembuangan air seni, perlu sejak remaja untuk pembuangan sperma dan air mani melalui mimpi-mimpi basah, dan bermanfaat sejak menikah untuk bersenggama dengan istri guna mengungkapkan cinta atau juga untuk bersama-sama menurunkan anak. Alat kelamin wanita berguna sejak kecil untuk pembuangan air seni, berguna sejak remaja untuk mengeluar selaput lendir rahim yang rusak setiap bulan melalui proses haid, dan bermanfaat sejak menikah untuk bersenggama dengan suami guna mengungkapkan cinta atau memungkinkan adanya anak (yakni pada saat ia sedaang subur)[10]

Jadi, seks dan seksualitas sudah diciptakan Tuhan dengan kemampuan dan keterarahan kodrati yang jelas. Maka adalah layak bahwa manusia berusaha untuuk setia pada rencana ilahi itu. Seks dan seksualitas berguna untuk kebahagiaan pribadi maupun untuk kepentingan sesama, bahkan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Seksualitas, termasuk seks di dalamnya, dianugerahkan untuk membahagiakan sesama sebagai ungkapan kasih sayang dan untuk memungkinkan penerusan generasi manusia.

Dalam kasus homoseksual, yang perlu disadari adalah bahwa homoseksual itu bukanlah suatu kejahatan, tetapi lebih sebagai suatu kelainan atau penderita. Oleh karenanya tidak boleh ada vonis atau labeling sebagai suatu kejahatan. [11]

Seorang yang menderita homoseksual haruslah menyadari kelemahan dan kekurangan. Dukungan dari orang lain sangat dibutuhkan agar penderita homoseksual dapat jujur terhadap diri sendiri dan terbuka terhadap orang lain, sehingga mengurangi kesepian, berbeda dari orang lain dan terasing.

William Consiglio tidak setuju bila homoseksualitas itu merupakan orientasi seksual. Ia mengatakan bahwa homoseksualitas bukanlah suatu seksualitas alternatif atau orientasi seksual, tetapi suatu disorientasi emosional yang disebabkan oleh terhambatnya atau terbendungnya perkembangan emosi dalam aliran heteroseksual.[12]

Beranjak dari kesimpulan William di atas, maka ada harapan untuk memulihkan homoseksual menjadi heteroseksual dengan mencoba mengurangi atau meniadakan “kerikil, batu, dan cadas” atau apa yang disebut dengan akar pahit. Untuk bisa mengeluarkan akar pahit ini maka yang sangat diperlukan adalah keterbukaan dari penderita dengan jujur pada diri sendiri dan terbuka pada orang lain, dan juga dukungan dari orang lain, baik itu konselor dan juga keluarga.

Setelah menyadari kelemahan dan kekurangan bahwa ia adalah penderita homoseksual, dan ia menderita itu bukanlah karena keinginannya sendiri, tetapi karena berbagai faktor sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Setelah menyadari keadaannya maka yang sangat penting adalah menyadari bahwa ada Pribadi yang mengasihi ia yaitu Yesus Kristus. Ia sanggup membuat segala sesuatu menjadi baru. Ia hadir dalam kehidupan manusia (sekalipun ada kelainan seksual). 2 Korintus 5: 17 mengatakan: “ jadi siapa yang yang ada di dalam Kristus Yesus, ia adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Beranjak dari kasus S di atas, setelah menemukan akar pahit yaitu adanya hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua (kakek dan nenek; ayah dan ibu) dan juga ada harapan dari S untuk berubah karena menyadari bahwa ia memiliki kelainan dan ia terganggu akan hal itu, maka sebagai konselor Kristen mulai beranjak dari pengharapan itu. Sebab Ibrani 6: 19 mengatakan, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.”

Yang menjadi akar pahit S sehingga ia menjadi homoseksual adalah pengalaman-pengalaman masa kecil baik itu pengalaman tinggal bersama kakek dan neneknya yang tidak akur dan dominasi neneknya, juga hal yang sama ia dapati dalam kehidupan orang tuanya yang juga tidak akur serta pengalaman bersama dengan kakaknya. Hal itu mempengaruhi kejiwaannya dan juga dengan gender identity-nya.

Untuk mendampingi S dari sudut alkitabiah (rohani) maka yang sangat terutama adalah dengan menuntunnya untuk menyadari keadaan dirinya, kemudian mengakui dosa-dosanya dan juga mengampuni orang-orang yang tanpa sadar telah menyebabkan ia jatuh kedalam penyimpangan seksual. Setelah mengampuni orang-orang yang telah membuatnya menderita, maka S juga harus belajar untuk mengasihi mereka. Kasih mempunyai kekuatan besar untuk memulihkan. Mengapa? Karena kasih adalah persamaan yang paling mendasar yang kita miliki dengan Allah, sebab Allah adalah kasih (bdk 1 Yoh. 4:8).

Setelah mengakui dosa-dosa dan juga mengampuni orang-orang yang telah membuatnya menderita, S juga dituntun untuk memaafkan dirinya sendiri sehingga ia terbebas dari rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya. S juga dituntun untuk mengundang Yesus untuk tinggal di dalam hatinya yang akan memampukan ia untuk menghadapi tantangan dan godaan untuk terjerumus kembali ke dalam keinginan homoseksualnya.[13]

Langkah selanjutnya adalah menuntun klien untuk terus menerus melatih iman, pengharapan dan kasihnya dalam hal menghadapi tantangan-tantangan keinginannya. Hanya dengan perkembangan iman, kasih dan pengharapan, ia akan semakin ingin memilih atau membuat pilihan-pilihan dari hati yang penuh kasih dan penuh ucapan syukur, yang berkenan kepada Allah dan membantunya untuk menjalin dalam hubungan dari hati ke hati dengan Tuhan.

Wiliam Consiglio menyarankan kepada konselor agar terus menuntun konseli dalam lima pilihan penting yang akan mempertahankan kerohanian dan kehidupan konseli. Lima pilihan itu adalah:[14]

  • Doa dan Ibadah adalah mutlak untuk memelihara hubungan dari hati ke hati dengan Allah dan penyembuhan batin konseli yang ingin dilakukan Allah dalam dirinya. Doa dan ibadah merupakan bahasa rohani (dipimpin oleh Roh) dari hatinya dan hati Allah. Keduanya dalah cara untuk menyatakan perasaan syukur, kasih, ketaatan, penyembahan dan puji-pujiannya.  Juga merupakan saat yang tepat untuk menyatakan kepada Allah mengenai perasaan bersalah dan perasaan malunya, penyesalan dan kepedihannya, pertobatannya dari dosa, kebutuhan dan keinginannya, kerinduan, dan hasratnya untuk menjadi sembuh. Ia harus membawa segala hal dalam doa kepada Allah. Yesus telah berkata: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk. 11:24).
  • Percakapan tiap-tiap hari dengan Allah adalah suatu kegiatan yang sangat baik untuk bisa melawan keinginan untuk berbuat dosa. Oleh karenanya sangat perlu dibiasakan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan atau merenungkan tentang Tuhan dengan teratur  sepanjang hari.
  • Pemahaman dan perenungan Alkitab secara teratur adalah satu pilihan lain yang mengalir dari hati orang yang telah diubahkan dan disucikan. Orang percaya harus terus menerus mengadakan hubungan kepada Allah untuk mengetahui kehendak-Nya melalui firman-Nya. William menyarankan bagian-bagian Firman Tuhan untuk direnungkan oleh orang-orang yang mencari kesembuhan, yaitu: Kitab Efesus; Yakobus; Lukas 10:21-28, 30-37; Kolose 3:1-17; 2 Korintus 4:1-5.
  • Persekutuan Kristen dalam suatu gereja mengajarkan dan mengkhotbahkan Alkitab adalah sangat penting. Disini klien akan dapat membina hubungan yang baik dengan pria dan wanita Kristen. Ia akan mendapat dukungan dan doa dari para hamba-hamba Tuhan dan juga dari seluruh tubuh Kristus (jemaat) sehingga mempercepat proses pemulihan kepercayaan dirinya. 
  • Adanya teman Khusus. Sangat dibtuhkan seseorang yang siap untuk mendengar dengan penuh kasih dan perhatian yang akan terus membimbing dia untuk memulihkan diri. Perlu diingat yang menjadi pembimbingnya janganlah orang yang mengalami hal yang sama dengannya. 

Jadi, dari hal tersebut di atas sikap memberi dukungan penuh kepada penderita homoseksual tidaklah dalam artian menyetujui perlakuan homoseksual. Tetapi menurut John Stott yang terutama adalah kasih kepada sesama termasuk kepada kaum homoseksual. Kasih yang sejati tidak berarti berlawanan dengan tolak ukur moral atau tolak ukur kekristenan. Karena itu, ada ruang bagi siasat gereja dalam kasus anggota-anggota yang menolak untu bertobat dan dengan penuh sadar mempertahankan hubungan homoseksual dengan mitra seksualnya. Namun siasat itu harus dilaksanakan dengan lemah lembut dan rendah hati (Gal 6:1 dst).[15]

PENUTUP

Hidup sebagai homoseksual bukanlah pilihan. Seseorang menjadi homoseksual tidaklah dari dirinya sendiri tetapi lebih disebabkan karena ada faktor baik itu faktor biologis yaitu susunan kromosom, ketidakseimbangan hormon, struktur otak dan juga kelainan susunan syaraf serta faktor lingkungan yaitu: faktor budaya / adat-istiadat dan juga faktor pola asuh.

Oleh karenanya sikap kita terhadap penderita homoseksual janganlah menjauhi mereka atau mengatakan bahwa sikap itu adalah sebagai sebuah kejahatan. Walaupun dari sudut pandang etika sikap itu adalah tidak dibenarkan atau dianggap sebagai dosa, namun harapan untuk pemulihan penderita homoseksual tetap ada.

Betapa membingungkan dan menyakitkan pun dilema homoseksual itu bagi paham Kristiani kita, namun Yesus Kristus menawarkan kepada pria dan wanita yang homoseksual itu (bahkan kepada kita semuanya tanpa kecuali) iman, pengharapan dan kasih – iman untuk menerima tolok ukur-Nya dan kasih karunia untuk mempertahankan tolok ukur itu, pengharapan untuk melihat dengan melintasi kepahitan masa sekarang, kepada kemuliaan yang akan datang, serta kasih untuk saling mengayomi. “Tapi yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13).

KEPUSTAKAAN

 

Consiglio, William, Tidak Lagi Homo, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998.

Geisler, Norman L., Etika Kristen Pilihan dan Isu, Malang:  Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2001,

Hadiwardoyo,  Al. Purwa, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta: Kanisius 1990

Hartoyo & Adinda, Titiana, Biarkan Aku Memilih: pengakuan seorang Gay yang coming out, Jakarta: Kompas Gramedia, 2009.

Hersberger, Anne Krabill; Seksualitas: Pemberian Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Sadarjoen,  Sawitri Supardi, Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual, Bandung: PT Refika Aditama, 2005.

Stott, John., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000

http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 diakses tanggal 25 Februari 2010

http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=566, diakses tanggal 25 Februari 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, diupdate tanggal 25 Pebruari 2010

PENJELASAN DARI PAK JAKA

Tujuan Konseling:

  • Healing
  • Guiding

 


[1] Sawitri Supardi Sadarjoen, Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual, Bandung: PT Refika Aditama, 2005, hlm., 41.

[2] Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, diupdate tanggal 25 Pebruari 2010

[3] Lih. http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 yang di update pada tanggal 25 Pebruari 2010

[4] Hal ini juga dibenarkan oleh Hartoyo, seorang penderita homoseksual, dalam Hartoyo & Titiana Adinda, Biarkan Aku Memilih: pengakuan seorang Gay yang coming out, Jakarta: Kompas Gramedia, 2009.

[5] Anne Krabill Hersberger, Seksualitas: Pemberian Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm., 108

[6] Lih. http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551 diakses tanggal 25 Februari 2010

[7] Lihat tulisan Veronoka Adesla, Resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=566, diakses tanggal 25 Februari 2010

[8] Al. Purwa Hadiwardoyo, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta; Kanisius 1990, hlm. 51

[9] Sawitri Supardi Sadarjoen, Op.Cit., hlm 42-50

[10] Al. Purwa Hadiwardoyo, Op.Cit., hlm. 45

[11] Dalam sudut pandang etikaKristen melihat bahwa homoseksual adalah suatu dosa atau kejahatan. Walaupun begitu masih terdapat perbedaan pendapat (pro dan kontra), ada yang menyetujui homoseksual dengan mengutip nats-nats firman Tuhan dan ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah kejahatan (dosa) dengan mengutip nats-nats firman Tuhan. Untuk leibh jelasnya lihat Norman L. Geisler, Etika Kristen Pilihan dan Isu, Malang; Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2001, hlm. 328-352.

[12] William Consiglio, Tidak Lagi Homo, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998, hlm., 21.

[13] Teori ini saya ambil dari pengalaman-pengalaman dalam mata kulih Pastoral Klinis yang diajarkan oleh bapak Pdt. Jaharianson Saragih.

[14] William Consiglio, Op. Cit., hlm., 54-57

[15] John Stott, Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000, hlm. 457.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: