HUKUM & KEADILAN

HUKUM DAN KEADILAN

DITINJAU DARI PERSPEKTIF KEKRISTENAN

 

Pendahuluan

Tegak hukum setegak-tegaknya, adil dan makmur tak pandang bulu… itulah cuplikan suara hati anak negeri (Iwan Fals) untuk menyatakan keprihatinannya dengan proses penegakkan hukum di negeri ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah: ada apa dengan “hukum” di negara hukum? bagaimana penerapannya? Apakah “keadilan” itu sudah adil? Apakah hukum dan keadilan berjalan beriringan? Dan masih banyak pertanyaan yang lain yang menumpuk yang membutuhkan jawaban dari lubuk hati yang paling dalam.

Ketika kita memperhatikan perkembangan di negara kita akhir-akhir ini, kita bisa melihat bagaimana pelaksanaan hukum yang semakin carut-marut. Ketidakpastian itulah yang bisa menjadi kesimpulan kita. Hukum hanyalah berpihak kepada kaum kaya yang bisa membeli lembaga peradilan yang diharapkan menjadi panutan untuk menjaga agar pelaksanaan hukum itu bisa ditegakkan dengan adil.

 

Hukum dan Keadilan dalam PL

Untuk menata kehidupan umat manusia, Allah memberikan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. Dalam Alkitab kita melihat Tuhan memberikan Hukum Taurat bagi bangsa Israel dengan tujuan agar kehidupan merea sebagai suatu bangsa dapat tertata rapi. Dalam setiap hukum yang diberikan oleh Tuhan, di situ terkandung nilai-nilai keadilan. Hukum dan keadilan berjalan beriringan. Hukum tanpa keadilan adalah alat penindasan dan alat ketidakadilan. Keadilan tanpa hukum adalah tirani dan kesewenang-wenangan. Ketika Allah memberikan hukum-Nya kepada Israel, ia sekaligus memberikan hukum bersama keadilan, karena hukum dan keadilan adalah hakikat dari Taurat-Nya.

 

Hukum dan Kasih menurut Yesus

Yesus dalam pengajaranNya juga menegaskan untuk melaksanakan hukum-hukum yang telah diitetapkan oleh Allah. Ia mengatakan bahwa ia datang bukan untuk meniadakan hukum tetapi untuk menggenapinya (lih. Mat 5:7). Bahkan ia menyimpulkan dan memberi penekanan yang sangat penting dalam hukum itu yang dikenal dengan hukum kasih. Ia mengatakan bahwa inti dari hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama (lih Mat 22:37-39).

Yesus juga menegakkan hukum itu. Dalam hukum, orang yang bersalah harus dihukum. Manusia sudah melanggar hukum, oleh karenanya harus dihukum. Sebagai Raja yang adil, Ia harus melaksanakan hukum dan menegakkan keadilan. Namun, dalam pelaksanaan hukum dan keadilan itu sekaligus harus menampakkan kasih. Ia sangat mengasihi manusia, sehingga oleh karenanya Ia sendiri yang memikul hukuman manusia atas dosa-dosa manusia, agar mereka beroleh hidup yang kekal.

 

Taatilah Hukum dan Tegakkanlah Keadilan

Hukum dan keadilan adalah prasyarat hidup manusia secara pribadi maupun kolektif. Tanpa hukum dan keadilan masyarakat akan menjadi kacau, tirani akan merajalela, kejahatan akan berkuasa, dan kemanusiaan merosot tajam menempatkan kehidupan dalam bayang-bayang maut. Suatu kelompok, masyarakat, ataupun bangsa yang hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan mau tidak mau harus memperhatikan hukum dan keadilan.

Dalam Yesaya 56:1-2a dikatakan: Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, ….Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya:”. Nas ini memberitahukan bahwa Tuhan sendiri memanggil manusia untuk mentaati hukum dan menegakkan keadilan.

Panggilan untuk menaati hukum dan menegakkan keadilan juga berari panggilan untuk benar dalam masyarakat, yakni bertindak berdasarkan hukum dalam memperjuangkan keadilan. Panggilan ini adalah panggilan semua orang dalam masyarakat dan bangsa, panggilan orang per orang secara pribadi, keluarga, kaum dan masyarakat. Orangtua harus mengajarkan nilai-nilai hukum dan keadilan sejak dini kepada anak-anaknya, dan menjadi teladan bagi mereka dalam hal itu. Sebab panggilan ini adalah panggilan orang percaya.

 

Penutup

Hukum diberikan dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat, sehingga masyarakat bisa hidup tenang dan damai. Hukum harus bisa memberi kepastian bagi masyarakat. Hukum bukanlah alat untuk menutup mulut orang-orang yang menyatakan kebenaran, tetapi hukum menjadi payung pelindung bagi masyarakat untuk menyuarakan kebenaran. Dengan ditegakkan hukum setegak-tegaknya tanpa pandang bulu dan tetap memperhatikan nilai-nilai keadilan, maka masyarakat adil dan makmur akan segera terwujud.

 

 

 

Bahan Bacaan

Gruchi, Jhon W.de, Agama Kristen dan Demokrasi, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2003

Mawene, Marthinus Th., Teologi Kemerdekaan, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004

Sindunata, Sakitnya Melahirkan Demokrasi, Yogyakarta, Kanisius, 2000

Tinambunan, Victor, Menjadi Gereja Pro-Kehidupan, Gunungsitoli, STT BNKP Sundermann, 2004

Medan, 31 Mei 2010

Pdt. Budieli Hia, S.Th

Mahasiswa Pascasarjana STT Abdi Sabda

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: